
Yuri mengambil rekam medis dan membacanya.
" Bawa pasien ke ruangan observasi," ujar Yuri ke beberapa perawat.
" Baik dok".
Yuri pun bergegas mengikuti pasien sambil menelepon dokter Dewanta Prawira.
πDok, ruangan observasi, pasien mengalami nyeri,sudah pernah operasi katub.
π Baik Ri
Langkah Yuri di samperi langkah Dewanta, seorang prifesor termuda, jenius dan sangat handal.
" Denyut jantung cepat dok, pasien sadar sepenuhnya."
Dewanta mengecek kondisi papi Halil.
Halil hanya melihat interaksi Yuri dan Dewanta.
" Sudah kamu perintahkan buat foto?".
" Sudah dok".
" Ini hasilnya, penyumbatan di beberapa titik, sehingga menyebabkan pasien sesak."
" Tekanan darah normal dok 120/90".
" Keluarga pasien?".
" Saya dok", ujar Halil .
Dewanta menjelaskan secara lengkap, sumber masalah di jantung papi nya.
Yuri hanya berada di samping dokter dewanta.
Halil menandatangani prosedur operasi.
" Ri, siap siap, kita akan operasi.pasien,keadaan mendesak".
" Baik dok".
Halil menatap Yuri. Yuri pura pura sibuk dengan berkas di tangannya.
Langkah Yuri terhenti saat sebuah tangan menahannya.
__ADS_1
" Yuri....".
Yuri menatap wajah orang yang menegurnya.
" Tante....".
" Kamu tugas disini Ri?".
" Benar Tan".
" Sudah satu tahun tidak melihatmu Ri, kamu semakin cantik, dewasa."
Yuri hanya tersenyum.
" Om tadi ngeluh waktu seminar ,pas waktu istirahat.Jadi Halil langsung nelepon ambulans, karena keadaan om sudah gak stabil."
" Apa harus operasi Ri?".
" Ya Tan, ada beberapa penyumbatan. Harus segera, tim sudah mempersiapkan proses operasi."
" Kamu sudah wisuda kan Ri? apa sedang ambil spesialis?".
" Ya Tan, saya sedang ambil spesialis jantung".
" Kamu terlibat dalam operasi ini Ri?".
" Benar Tan".
" Ya Tan, saya usahakan, tetapi semua tergantung keadaan Om dan Tante bantu doa ya ".
Mami Halil pun mengangguk.
" Saya pamit ya Tan, mau siap siap".
" Ya Ri."
Yuri melangkah memasuki sebuah ruangan, memakai pakaian buat operasi. Yuri keluar dari ruangan dan ketika berjalan , tali sepatunya terbuka.Yuri pun membungkuk, namun sebuah tangan sudah mengikat tali sepatunya.
" Kebiasaan, " ujar Dewanta tersenyum.
" Jangan dok, profesor mengikat tali sepatu keroco, jangan dong dok, bisa turun pamor".
" Abang rela dek, " ujar Dewanta tersenyum manis.
" Please jangan dok,beneran lepasin tali sepatu Yuri."
__ADS_1
" Gak....".
Yuri akhirnya harus mengakah, saat sepatunya di ikat sang profesor muda.
" Kita akan melakukan operasi yang lumayan rumit Ri, apa kamu siap?".
" Siap dok".
" Ri, yang akan kamu oeprasi mantan camer kan Ri, papi nya Halil kan Ri, wuihhhh reunian nihhh, mantan terindah atau mantan terkejam Ri, ujar Ruth sesama rekan Yuri."
" Beneran mantan camer Ri? gugup gak Ri, ketemuan sama mantan?".
" Biasa aja dok, gak usah lebay".
" Jangan jangan susah move on karena Halil ya Ri?".
" Gak dok, dari awal saya memang niatan jomblo dan gak mikir menikah, jadi gak ada kaitannya dengan siapa siapa, gedek rasa banget deh dok, karena pria akunya patah hati dan jomblo akut, gak dok".
" Yakin Ri? tanya Ruth."
Yuri hanya diam.
" Apa yang kamu rasakan Ri?ketemu mantan, akunpenasaran Ri, "ujar Ruth".
" Please Ruth, biasa aja, seperti pasien lain".
" Kamu yakin Ri, tatapan kamu beda,kamu nampak lebih mikir , dan gelisah."
" Gak loh Ruth, udah jangan jadi kompor dehhhh".
" Udah ,sama prof Dewanta aja, tajir, baik, gak pernah neko neko, pacaran juga gak pernah, dokter Dewanta hanya mau kamu Ri, kekeh setia, berprinsip, apa gak liat tuh, dari tampang walau gak sekeren Halil, kalau Hati tiada duanya Ri, " ujar Ruth.
Yuri hanya diam.
" Mulai jadi batang kayu, no respon ya Prof, kapan nih patah hati dan move on nya sembuh sih Ri".
" Aku sudah sembuh ,beneran Ruth".
" Kamu harus tahu Ruth, semakin sering seseorang tidak di hargai, semakin tinggi cuek yang dia miliki.Kadang yang menciptakan sifat buruk seseorang itu bukan dirinya sendiri,melainkan perbuatan orang lain terhadapnya."
π©βπΌπ§βπΌπ¨βπΌπ©βπΌπ¨βπΌπ§βπΌπ©βπΌπ¨βπΌπ§βπΌ
Jangan Lupa
Like
__ADS_1
Vote
Koment