
Setiap Yuri bertugas , dia selalu total melakukannya.Para perawat tidak bisa banyak berkomentar karena dari segi kemampuan dan skill, Yuri setara dengan dokter.Mereka baru tahu kalau Yuri asuhan profesor terkenal. Mereka tidak berani mavam macam apalagi terlihat dokter Halil dan dokter Hakim mendekati Yuri, bukan Yuri yang kegenitan.Malahan Yuri bersikap sopan dan biasa saja.
Seperti biasa Yuri menhecek pasien , meminjam stegoskop di ruang UGD dan menanyakan keluhan pasien.
Yuri sangat sibuk, dokter Halil dan Hakim juga ikut membantu, pasien sangat banyak di tangani.
" Dokter, pasien ini terjadi pendarahan di kepalanya, hasil city scan menujukkan ".
Halil membaca hasil rontgen dan mengangguk.
" Segera persiapkan operasi.Ri, cari keluarga pasien untuk mendapatkan persetujuan operasi."
" Baik dok, " Yuri pun bergegas meneriakkan nama pasien di bagian depan UGD.
Huri lega melihat seorang ibu dan suaminya berlari ke arah Yuri.
" Bu, anak ibu sedang di tangani, hasil city scan menunjukkan bagian kepala mengalami benturan dan terjadi pendarahan , harus segera di operasi. Saya disuruh dokter meminta tanda tangan ibu, persetujuan operasi."
" Baik suster, lakukanlah suster, selamatkan anak saya, tangis si ibu pun pecah."
Yuri memberikan lembaran kertas, dan ayah sang anak menandatanganinya.
" Saya bisa melihat anak saya suster".
" Ayu bu, saya bawa".
Yuri pun membawa si ibu dan suaminya ke tempat sang anak di tangani.
Sang ibu menggenggam tangan pasien.
" Lihatlah ibu dan ayahmu datang, kamu harus kuat berjuang yahhh," ujar Yuri.
" Kita berdoa ya bu, buat keselamatan dan kesembuhan puteri ibu, "ujar Yuri.
Sang ibu pun mengangguk.
__ADS_1
" Ri, kamu jadi asisten saya dalam operasi, ujar Halil".
" Tapi dok".
" Kamu sering kan , jadi ajudan profesor?".
" Ya dok".
" Kamu siap siap".
Yuri mengangguk.
" Bu Merry, tolong siapkan pakaian Yuri.".
" Baik dok," ujar Bu Merry.
Yuri dan bu Merry pun melangkah pergi.
Yuri susah mengenakan pakaian ruang operasi berwarna hijau, kemudian Yuri membersihkan tangannya. Halil Langsung melakukan hal yang sama dengan Yuri.
Halil menyuruh Huri memasangkan kaca mata operasi, dan menghapus keringat Halil.
Yuri pun melakukannya.Mengambil pisau yang Halil perintahkan.Para dokter koas terkejut, Yuri tahu semua alat yang di gunakan, bahkan menditail dia kenal.
Segala iatilahnpun dia ketahui.Halil tersenyum melihat daya ingat Yuri yang sangat tajam,peka dan memang Yuri sangat berbakat.
Yuri memperhatikan layar monitor.
" Nyaris kena saraf yang berbahaya, kalau tidak pendarannya di keluarkan, namun bakal terjadinlagi pendarahan di vena ,ujar Yuri mengoceh."
Halil mengangguk.
" Kalian ngerti yang dikatakan Yuri? tanya dokter Halil pada dokter koas."
Mereka menggeleng.
__ADS_1
" Kelemahan Yuri,hanya selembar ijasah dan dunia pendidikan ,kalau kemampuan dia seimbang dengan dokter spesialis. Kalian harus gigih belajar, ujar dokter Halil.
" Kamu bisa menjait ? tanya dokter Halil melirik ke Yuri.
Yuri mengangguk.
" selesaikan ini Ri".
Yuri mengangguk.Dengan tenang duduk dan mulai menjait kepala pasien dengan rapi.Para dokter koas terkejut melihat keahlian Yuri.Halil ikut mengamati cara kerja Yuri.
" Bagus, rapi dan cekatan.Memang murid profesor hanya kamu Ri, dia gak salah pilih murid ,ujar Halil."
Pimpinan rumah sakit dan dokter senior terpukau dengan kemampuan Yuri.
Selesai mengoperasi, Yuri berganti pakaian dan dokter Hakim menunggunya.
" Jam istirahat Ri, aku akan menculikmu, "ujar dokter Hakim.
Huri pun tertawa.
" Aku makannya susah loh dok".
" Seperti biasa, aku suapin, "ujar Hakim
Yuri tertawa.
🥰😍🤩🥰😍🤩🥰😍🤩
Jangan Lupa
Like
Vote
Koment
__ADS_1