Cinta Sang Dokter Dan Perawat

Cinta Sang Dokter Dan Perawat
Laura Wolf


__ADS_3

Perkataaan Bertha sangat mengena di hati Halil.Yah , Hakkm orangnya low profile ,tidak ada satj pun yang tahu,kalau Hakim tajir,termasuk Bertha.


Halil luar biasa helisah, keadaan papi nya sudah stabil. Halil lebih sibuk lagi mengurus berbagai jenis usaha orang tuanya.


Dan ketika malam tiba ,Halil harus bertukar dengan sang mami, menjagai papi nya.


Yuri belum menjenguk orangtua Halil.Halil sangat gelisah.Bahkan Huri hanya membalas Wa dari Halil ala kadarnya.


Sebenarnya ke esokan hari ketika kembali, Yuri hendak menjenguk papi Halil, namun Yuri melihat sosok Laura Wolf.Sosok dokter bedah saraf ,yang dulu menjadi sumber perpisahan Halil dan Yuri.


" Hanya sekedar teman ,tetapi mendengar sambutan kedua orangtua Halil dancanda tawa mereka, Yuri hanya terpaku di depan kamar. Dan tidak mungkin dia masuk, menambah kekakuan keadaan.Yuri cukup sadar diri.Ternyata cinta nya sangat rumit.


Pandangan Yuri menunduk, dan terpikir memberi bunga dan buah pada se orang nenek yang tidak pernah di kunjungi siapapun, Yuri berpikir,kisah sang nenek sama dengan kisah dirinya, sebatang kara di dunia ini,jika kelak dia tidak menikah, mungkin seperti inilah yang dia alami.


Sang nenek sangat bahagia ,menerima pelukan , bahkan Yuri setiap hari membersihkannya secara pribadi, menyuapnya.Bahkan bercerita dengannya.


Yuri menyibukkan diri dengan kuliahnya. Sejak orangtua dokter Halil sakit, kuliahnya di gantikan oleh dokter Dewanta Prawira.


Yuri terpilih kembali menjadi asisten dosen.Tugas menumpuk membuat Yuri sibuk bergumul di perpustakaan.Dokter Christian memohon pada rumah sakit, agar Yuri menjadi asistennya.


Perdebatan siang itu sangat pelik antara dokter Halil dan dokter Christian di depan berbagai dokter.


" Dokter Halil, baik ya Yuri memang menjadi asisten dokter Christian, karena dia juga berminat mengambil spesialis jantung kelak, hal itu sudah dia sampaikan secara pribadi pada saya, ujar salah satu dokter senior."


Halil menjadi terdiam.


Sejak papinya di rawat di rumah sakit, Yuri memang selalu menjadi asisten dokter Christian dan dokter Bramantyo, spesialis jantung.


Halil menarik tangan Yuri siang itu. ketika dia sedang bertugas di UGD.Tatapan beberapa perawat membuat Yuri risih.


Yuri melepaskan cengkeraman tangan Halil, dan mengikuti langkah Halil.Tepatnya di taman rumah sakit Halil memandangnya secara tajam.


" Apa maksud kamu Ri, kamu menghindari saya, saya sangat sibuk, tetapi malahan kamu semakin menjauh dari saya."

__ADS_1


" Saya juga sibuk kuliah dan bekerja ,kilah Yuri."


" " Kamu kenapa Ri?".


" Gak apa apa dok, beneran."


" Kenapa tidak menjenguk papi, dia menanyakan mu, mami juga".


" Aku bukan siapa siapa dok, jangan ngarang, kalau dicariin."


" Ri, kamu udah balikan kan sama aku".


" Aku hanya berpikir dok, putus nyambung hubungan kita, rasanya aku gak sanggup.Baiknya kita sendiri sendiri, terlalu banyak perbedaan."


" Kamu selalu begini Ri, kamu maunya apa sih Ri, main main dalam hubungan kita?".


" Kamu milh Hakim? karena tajir? iya?".


" Ya ,kamu benar, terserah mau bilang apa, anggap saja benar."


" Yahhhh, tanpa kita sadari hubungan kita gak sehat, kamu dan aku banyak perbedaan, jadi baiknya sudahi saja," ujar Yuri.


" Kamu tega Ri".


Yuri hanya diam ,tidak mengatakan apapun.


Sebuah panggilan membuat Yuri menjawab.


" Saya harus bertugas dok. Dan jangan memaksakan sesuatu dok, dokter juga banyak kesibukan ,saya juga ,baiknya memang kita sudahi saja.Maafkan kalau saya banyak kekurangan dan kesalahan," ujar Yuri.


" Tidak Ri, aku gak terima".


" Tidak dok, itu sudah menjadi keputusan saya."

__ADS_1


" Bukan keputusan bersama,bukan keputusan aku", ujar Halil.


" Tega kamu Ri."


Sebuah suara membuat Halil dan Yuri menoleh.


Laura Wolf, yah sosok dokter cantik itu mendekati Halil.


Yuri hanya tersenyum menahan kesakitannya sendiri.


" Dia sudah cukup mewakili, calon yang baik, dan sangat dekat dengan orangtua anda dok, orang berduit dan layak. Selamat, " ujar Yuri berlalu.


Air mata Yuri mengalir,kecewa ...apakah Turi layak kecewa...,tidak,tentu tidak.


Yuri mencuci wajahnya di kamar mandi ,kembali bertugas .Dan ketika keluar dari kamar mandi ,sosok Dewanta Prawira memandang tajam pada Yuri.


" Kamu menangis?"


Yuri menggeleng.


Dewanta tertawa.


" Kamu gak pandai akting Ri, lagi patah hati?".


" Enggak dok".


Dewanta hanya tertawa.


😔😔😔😔😔😔😔


Jangan Lupa


Like

__ADS_1


Vote


Koment


__ADS_2