
Halil mengajak Yuri duduk di sebuah kursi .Tepatnya di taman rumah sakit.
" Sebenarnya ,jauh sebelum papi meminta kita menikah, kita memang sudah ada rencana, namun abang yang menghancurkan itu semua.Maaf kan abang yaaang."
" Abang tulus sama kamu dek".
" Saat kamu mengembalikan cin cin pertunangan kita, sungguh saat itu hari yang sangat berat buat mas lalui.Hukuman buat mas, layak, bahkan bisa lebih".
" Sudahlah bang, jangan di ingat lagi", ujar Yuri.
" Ri , jadilah isteri nya mas, bukan karena permintaan papi pada kita ,tetapi karena memang kita sudah siap membina mahligai rumah tangga. Jika kamu belum yakin, abang vak akan memaksamu".
Yuri menunduk.
" Maaf ,melamarmu gak pakai acara romantisan, tapi ingatlah Ri, abang akan setia ,karena abang pernah membuat kamu meragu, dan dari saat itu abang akan banyak belajar."
" Yuri juga banyak kekurangan bang".
" Jika kita bersama , abang memang membangun mansion dan beberapa kediaman , namun setelah kesehatan papi seperti ini, abang ingin ,papi dan mami tinggal bersama kita, bagaimana menurut kamu Ri?".
" Gak masalah bang, toh kedua orangtua abang, orangnya care, malahan belain aku, saat abang salah, yah abang di salahin, gak bela anak yang salah.Lagian sedari kecil, Yuri gak merasakan kasih sayang kedua orangtua, tinggal dengan mereka , mungkin cara Tuhan memberikan kembali, kasih sayang itu."
" Bagaimana kuliah Yuri bang? bulan depan ,di pertengahan ,Yuri udah masuk kuliah."
" Kuliah tetap yaaang, abang gak gak akan membatasi karir kamu, hanya abang mohon ,buat tenaga relawan, jika kita sudah memiliki anak, urungkanlah yaaang, tugas kita memang bagian kemanusiaan, tetapi kamu tahu sendiri, bagaimana ketika kecil tidak memiliki orangtua.Berat kan Ri?"
" Yup, sangat bang, sangat berat".
" Abang minta satu hal sama kamu dalam karir itu aja Ri, pikirkanlah."
" Karena ketika menikah, kita gak bisa se egois dan se enak hati lagi, ada keluarga yang harus kita nomor satukan dari urusan lainnya."
__ADS_1
" Apa kamu mengerti yaaang".
Yuri mengangguk.
Yuri kembali ke apartemen, adaneprasaan bingung, bahagia, bercampur menjadi satu.
Yuri bahkan menabyakan pada beberapa sahabatnya ,apa ketika dilamar dan akan menikah, mereka mengalami bingung dan lain hal.
Mereka rata rata menjawab, pasti nya bingung, pastinya ada keraguan, gelisah, namun dengan hadirnya waktu membuat semuanya terjadi begitu saja, semua tahapan itu, cepat atau lambat bakalan di jalani.
Yuri pun lega.
Hakim menelepon Yuri malam itu.
π Hallo....
πRi, bagaimana kabar kamu?
πOh yaaah. Besok kamu ada waktu?
πAda dok, kan belum masuk bertugas di rumah sakit dan belum ngampus.
πBesok saya datang yah ke apartemen kamu.
πPenting dok?
πYah penting dong Ri.
πApa gak ketemuan di kantin rumah sakit aja dok? atau di cafe depan rumah sakit.
πGak usah Ri.Mas datang jam 9 ya Ri.
__ADS_1
πBaiklah mas.
Yuri sedikit bingung, gak biasanya Hakim seserius itu bicara.
Yuri kembali membaca buku kedokterannya, menghapalkan berbagai istilah baru ,yang dia temukan di buku.
Hingga lelah, Yuripun tertidur.
Ke esokan harinya, Yuri bangun , membersihkan apartemennya yang hampir satu bulan dia tinggalkan.Dari menyapu, menyedot debu, mengepel, merapikan tanaman anggrek dan kaptusnya, Yuri juga meminum jus tomat kesukaan nya.
Beberapa kali Wa Halil Yuri balas emozi.
Ketika semua selesai, Yuri pun mandi dan mengenakan pakaian bepergian,niatnya setelah kedatangan Hakim, langsung menuju perpustakaan .Dan ketika siang menuju rumah sakit, menjenguk orangtua Halil.
Ketika sedang mengikat rambut, bel pun berbunyi.
Yuri oun bergegas membuka pintu.
Dan bertapa terkejutnya dengan apa yang Yuri lia
hat di depan pintu apartemennya.Yuri tidak bisa berkata apa apa lagi.
π¨βπΌπ©βπΌπ¨βπΌπ©βπΌπ§βπΌπ¨βπΌπ©βπΌπ§βπΌπ¨βπΌπ©βπΌπ§βπΌ
Jangan Lupa
Like
Vote
Koment
__ADS_1