
Dari kejauhan, Kaliandra melihat wanita itu berjalan dengan sedikit tergesa-gesa.
Kaliandra cukup heran dengan sikap wanita itu, ia pun memilih menghampirinya.
"Riana!" panggil Kaliandra.
Setelah melihat adegan di parkiran, Kaliandra tidak pulang, ia justru tengah mengelilingi kampus untuk berjaga-jaga. Namun, ia justru melihat Riana tengah berjalan seperti orang yang gelisah.
Riana yang merasa terpanggil langsung menghentikan langkahnya dan menatap lurus ke depan.
"Senior?, apa kau memanggilku?" tanya Riana dengan menetralkan wajahnya.
Kaliandra melangkah dengan cepat, ia pun langsung berdiri di hadapan Riana, "ya, kamu ... ada apa denganmu?, kenapa kau terlihat cemas?, bukankah sekarang sudah waktunya untuk pulang?" tanya Kaliandra dengan santai.
Riana tampak terdiam, ia terlihat ragu untuk mengatakannya pada Kaliandra, tapi mengingat Kaliandra adalah ketua organisasi dan juga pasti menjadi orang yang dapat di percaya, dengan sedikit keraguan di hatinya, Riana pun memutuskan untuk mengatakannya pada Kaliandra.
Melihat perbedaan tinggi badan yang sedikit jauh, Riana melangkah mendekat dan menyuruh Kaliandra untuk menundukkan wajahnya.
Awalnya Kaliandra tampak merasa risih dengan jarak di antara mereka, ia bahkan curiga dengan sikap Riana yang terlihat seperti orang yang cukup akrab dengannya, tapi, ia mau tidak mau harus menuruti permintaan gadis itu.
Kaliandra pun menundukkan wajahnya, lalu Riana berbisik dengan pelan, seketika saja mata Kaliandra melotot dengan sempurna.
Keduanya saling memandang satu sama lain dan langsung berlari ke ruang ganti wanita.
Saat mereka berdua sampa di ruangan itu, Riana kembali membuka loker itu, tapi ternyata ia dan kaliandra tidak melihat benda apapun di sana.
__ADS_1
Mata Riana melotot dengan sempurna, "Apa?!, bagaimana bisa hilang?!, jelas-jelas aku baru melihatnya tadi!" gumam Riana dengan bingung dan melihat ke sana ke mari.
Kaliandra yang melihat itu merasa tertipu, ia bahkan berandai sudah menangkap petunjuk tentang sang pembunuh berantai itu, tapi ternyata ia merasa bahwa Riana telah mempermainkannya.
Wajah Kaliandra tampak berubah, ia benar-benar terlihat sangat marah, tapi, Riana justru tidak melihat raut wajah itu, ia terlihat sibuk mencari bukti-bukti yang telah di lihatnya.
Saat kaliandra ingin berbicara, tiba-tiba saja Riana menunjuk tepat ke sudut loker itu. "senior, lihat di sudut itu," ucap Riana dengan menyipitkan matanya.
Kaliandra melihat kearah tangan Riana, ia bisa melihat ada warna yang berbeda di loker itu, lalu untuk memastikannya, Kaliandra pun segera mengeluarkan ponselnya dan menyalakan senter untuk melihat jelas ke sudut loker.
Kaliandra melihat banyak noda merah yang masih menempel di sudut loker, dan ia juga melihat bekas air yang tidak kering di setiap sudut loker.
Kaliandra bisa mencium aroma yang tidak sedap, ia juga yakin bahwa noda merah itu adalah darah, tapi ia tidak tau darah siapa itu, karena ia tidak ingin menerka tanpa adanya bukti.
Riana mengangguk setuju, ia pun mencoba berpikir, "Senior, aku melihat darah yang sangat banyak di pakaian itu, sepertinya dia baru saja membunuh seseorang," ucap Riana sambil memegang dagunya.
Spontan saja Kaliandra melihat kearah Riana, "Maksudmu dia membunuh manusia?, tapi bagaimana aku tau?," tanya Kaliandra memastikan.
"Aku tidak yakin senior, tapi setelah melihat darah yang begitu banyak, entah mengapa, aku memiliki firasat seperti itu." ucap Riana sambil melihat kearah Kaliandra.
Kaliandra menatap Riana dengan dalam, ia bisa melihat tatapan Riana padanya tidak seperti Roana memandang dirinya.
"Dia berbeda dengan kakaknya," batin Kaliandra.
"Bisa kau memotret semuanya?, aku kan membantu mu memberikan cahaya," ucap Kaliandra memundurkan tubuhnya dan mempersilahkan Riana memotret.
__ADS_1
Riana mengangguk dan langsung memajukan tubuhnya, ia pun bergegas mengeluarkan ponselnya dan memotret setiap sudut loker.
Kaliandra melirik ke kanan dan ke kiri, ia bahkan merogoh tas kecil yang bergantung di pundaknya.
Riana yang ada di sampingnya terlihat mengernyitkan dahi, lalu ketika Kaliandra mengeluarkan sebuah benda, Riana langsung memundurkan langkahnya.
"Senior orang yang cukup cerdas," batin Riana.
Kaliandra mengeluarkan sebuah plastik dan pisau, ia pun menggunakan pisau itu untuk mengambil sampel darah yang masih terlihat.
Bahkan Kaliandra juga mengeluarkan perekat dan langsung menempelkannya di setiap sudut loker, lalu Kaliandra mencabut seluruh perekat itu.
"Sudah selesai, kita harus segera pergi ke kantor polisi," ucap Kaliandra sambil melihat kearah Riana.
Riana mengangguk dan keduanya pun keluar dari ruang ganti itu.
"Dasar ceroboh," ucap seseorang yang tengah menatap kepergian Kaliandra dan Riana.
Setelah punggung Kaliandra dan Riana sudah tak terlihat lagi, Orang itu pun langsung mengangkat pakaian Valia yang penuh dengan noda darah.
"Jika saja mereka membawa pakaian ini, maka pekerjaan temanku akan bertambah," ucap Orang itu yang sedari tadi mengumpat di sudut ruangan ganti.
Lalu orang itu membuka loker Valia, "aku tidak memiliki waktu yang cukup untuk membersihkan semuanya, tapi setidaknya bekas darah ini mampu mengecoh mereka," ucap orang itu lalu kembali membersihkan loker Valia dan langsung keluar dari ruang ganti dengan membawa pakaian Valia yang penuh dengan noda darah.
Bersambung ...
__ADS_1