
"I-itu, a-aku ... " Jian tampak sangat gugup, bahkan ia berkata dengan terbata-bata.
Gleni terlihat tidak tahan dengan Valia yang terus mengolok Jian, ia yang awalnya berjongkok karena Asra, kini mulai berdiri dan langsung merebut bolpoin itu dari Valia.
Gleni pun berhasil merebut bolpoin itu dari Valia, kini wajah semua orang tampak terlihat begitu senang "Lihat?, aku sudah mengambil nya, jadi kau tidak memiliki bukti apapun lagi" ucap Gleni sambil tersenyum mengejek sambil menggoyangkan bolpoin itu.
Valia yang melihat itu mulai mengernyit heran "Apa kau yakin?" tanya Valia membalas dengan senyuman smirk.
Seketika saja senyum sumringah yang ada di wajah mereka kian memudar "apa maksudmu?" tanya Gleni menatap Valia dengan tajam.
"Tidak ada" jawab Valia sambil menaik turunkan pundaknya terus menerus.
Rektor yang melihat Valia semakin tidak menghormatinya mulai mengeluarkan titah pencabutan beasiswa.
"Sudah aku putuskan bahwa aku akan mencabut beasiswa mu dan kau tidak di perbolehkan untuk kembali ke kampus ini" ucap sang rektor yang bernama Renzo.
Valia yang mendengar itu justru seperti tidak perduli "Baiklah, itu terserah kalian" ucap Valia sambil berbalik pergi.
Mendengar perkataan Valia membuat Renzo semakin marah "Dan aku juga akan menutup semua akses kampus agar kau tidak bisa memasuki kampus manapun lagi" ucap Renzo sambil tersenyum smirk.
Delna, Asra, Jian, Rila dan Gleni mulai tersenyum mengejek.
Valia menghentikan langkahnya dan ia mulai memutar balik tubuhnya sambil menampilkan senyuman smirk.
"Aku menantikan permainanmu" tantang Valia dengan senang.
Orang-orang yang ada di dalam bahkan tercengang "ada apa dengan senyumnya itu?" ucap Delna yang mulai memiliki firasat buruk.
Jian mengeram marah, benjolan-benjolan
yang ada di lehernya mulai terlihat "Aku tidak akan membiarkan dia semena-mena pada kita" ucap Jian sambil mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
Setelah panggilan itu tersambung, Jian langsung mengatakan ke inti pembicaraan "aku ingin kau membunuh seseorang" ucap Jian sambil tersenyum.
Delna, Asra, Rila, Gleni dan Renzo terkejut mendengar perkataan Jian, mereka tidak menyangka bahwa Jian berniat untuk membunuh Valia.
Renzo tidak ingin dirinya terlibat dalam pembunuhan, ia berniat untuk menghentikan Jian "Nona, apa maksudmu?, jangan lakukan itu" ucap Renzo sambil mendekat kearah Jian.
Jian tampak terkejut melihat Renzo yang mulai melarangnya "Aku ... " perkataan Jian terhenti ketika matanya melirik ke arah Asra.
"Bantu Asra terlebih dahulu," lanjut Jian yang mengubah topik pembicaraan.
__ADS_1
Mereka semua pun mulai sibuk membawa Asra keluar ruangan rektor.
"Tidak mungkin kau bisa menghentikan ku, selama ini aku sudah terlalu sabar menghadapinya" batin Jian tersenyum senang.
Lagi-lagi Lorong kampus begitu riuh, mereka di kejutkan dengan tangan Asra yang tengah tertancap Gunting, "Ada apa sebenarnya?, kenapa mereka terluka ketika keluar dari ruangan rektor?"
"Sebelum itu aku melihat Valia keluar dari ruangan rektor, apa jangan-jangan itu ulah Valia?"
"Bukankah Valia orang pendiam dan tidak bisa melakukan apapun dengan benar selain belajar?"
"Benar, lalu siapa yang melakukan itu pada Asra?, tidak mungkin salah satu mereka, karena mereka semua adalah saru komplotan"
Para mahasiswa itu terus bertanya-tanya, tapi Delna dan yang lainnya terlihat menunduk dan langsung membawa Asra ke ruangan kesehatan.
"Sialan!, karena wanita itu aku menjadi bahan gunjingan para mahasiswa, lihat saja, kau pasti tidak akan selamat!" geram Jian sambil menggenggam ponselnya dengan sangat kuat.
Setelah mengalami banyak kejadian di kampus, ketika berjalan di lorong, ia teringat bahwa sang ibu juga berada di kampus yang sama.
"Benar, aku lupa bahwa Ibu ada di kampus ini" gumam Valia sambil melihat kesana dan kemari.
Ia pun ingin mencari keberadaan sang ibu, tapi Valia tidak menemukan informasi apapun tentang Carmila.
"Jika aku kembali sekarang, maka aku pasti kena semprot oleh rektor itu lagi, jadi lebih baik sekarang aku pulang dan menyiapkan segalanya agar permainan ini semakin menarik" ucap Valia sambil berbalik dan melangkah keluar kampus.
Para penguntit itu semakin tersenyum melihat Valia berjalan kearah sepi. Mereka pun berlari dan mulai mengepung Valia.
"Hai anak manis, apa kau ingin bermain dengan kami?" tanya ketua dari kelompok itu.
Tanpa pikir panjang, Valia langsung menjawab pertanyaan mereka "Boleh juga, aku suka sekali dengan permainan" jawab Valia sambil tersenyum smirk
Valia mulai menatap tajam ketua dari kelompok itu dan ia pun langsung menendang perutnya.
Brukkk
Arrgghh
Kedua anak buahnya justru terkejut melihat Valia mampu menumbangkan bos mereka, faktanya bos mereka orang yang berbadan besar dan berotot.
"Gila!, apa dia benar-benar wanita" gumam anak buahnya.
"Berhentilah berpikir, lebih baik kita tangani dia dulu dan kita ahrus merasakannya" ucap anak buah lainnya sambil menatap Valia dengan mesum.
__ADS_1
Lalu keduanya maju dan Valia mampu melumpuhkan merek berdua.
Brukk
Argghh
Brukk
Arghh
"Bukankah ini permainan yang menarik?" tanya Valia sambil tersenyum.
Hanya dalam satu tendangan, ketiganya jatuh tersungkur dan tidak mampu berdiri lagi, sedangkan Valia masih sempat menoleh ke kanan dan kekiri seperti mencari sesuatu.
Valia melihat sebuah batu yang begitu besar, ia pun mengambil batu itu, dan langsung mengangkatnya.
Kedua anak buah itu terkejut ketika Valia berdiri di depan mereka dengan batu besar yang ada di tangannya.
"Tunggu, tunggu, kami salah, tolong maafkan kami" ucap anak buah itu dengan wajah yang sudah berkeringat dingin.
Valia terdiam dan hal itu membuat salah satu anak buahnya melihat ada sebuah celah untuk melumpuhkan Valia.
Ia ingin bangkit dan tiba-tiba saja, Valia langsung melempar batu besar itu padanya. Dan dalam sekejap pria itu mati dengan sangat mengenaskan.
"Bagaimana?, bukankah ini permainan yang menarik" ucap Valia sambil tersenyum smirk.
"Tidak, tidak, tolong maafkan kami, kami hanya melaksanakan tugas dari seseorang, semua ini bukan kemauan kami" jelas anak buah satunya yang sudah sangat ketakutan.
Valia langsung memasukkan satu tangannya kedalam saku celana lalu mengeluarkannya kembali "siapa yang menyuruhmu?," tanya Valia dengan mata melotot dengan sempurna.
"Hei!, hentikan!" teriak sang bosa padanya dengan mata melotot.
Anak buahnya juga melirik sebentar dan langsung menetap Valia, ia justru lebih takut dengan Valia daripada sang bos.
"Jian Amikalin, dia yang memerintahkan kami untuk membunuhmu, tolong maafkan kami," ucap nya dengan nada bergetar.
"Sialan!" teriak sang bos dengan marah.
Valia pun tersenyum dan mengucapkan sepatah kata "Terimakasih."
Valia mengangkat kakinya dan menginjak perut anak buah itu dan ia juga mengambil batu besar itu lagi dan melemparkan padanya.
__ADS_1
Kedua anak buah pria itu kini sudah tiada di tangan Valia, sedangkan sang bos justru semakin gemetar ketakutan.
Bersambung ...