Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Tidak Suka di Ganggu Saat Bersama Ibu


__ADS_3

Valia pun melihat kepergian mereka, ia tampak terlihat kesal sambil menggeretakkan giginya, "Karena kalian sudah mengganggu waktu ku dengan ibu, maka aku tidak akan pernah memaafkan perbuatan kalian" batin Valia sambil menggenggam satu tangannya dengan kuat.


Lalu Valia mengajak Carmila pulang, dan Carmila langsung menyetujui permintaan Valia.


Mereka ke parkiran dan memasuki mobil Carmila, saat mobil itu berjalan, Carmila mulai menanyakan alamat Valia "dimana rumahmu?," tanya Carmila sambil melirik sesekali ke arah Valia.


"Kau bisa mengantarku kembali ke kampus," balas Valia sambil menoleh kearah Carmila.


Carmila pun merasa sangat heran, ia yang penasaran mencoba bertanya pada Valia "Bukankah kau mengatakan bahwa kau tidak memiliki kelas lagi?, jadi untuk apa kau kembali ke kampus?," tanya Carmila.


"Benar, tapi ada yang harus aku lakukan, jadi kau bisa menurunkan aku disana," jawab Valia dengan santai.


"Baiklah, baiklah," ujar Carmila dan membawa mobilnya kembali ke kampus.


Setelah Carmila menurunkan Valia, ia pun berpamitan pergi, lalu senyum merekah di bibir Valia kini tergantikan dengan wajah datar disertai tatapan tajam.


Setelah sampai di tepi jalan, Valia melihat ke kanan dan ke kiri, lalu ketika Valia merasa sudah aman, ia langsung berlari dan masuk ke mobilnya.


Valia pun langsung menyetir dengan kecepatan tinggi, di dalam mobil Valia tampak terlihat seperti wanita yang sangat mengerikan.


Tatapan tajam serta aura yang di keluarkan ya sungguh berbeda, "Aku sudah berkali-kali membiarkan kalian hidup dengan damai, jadi kali ini, giliranku untuk membalas perbuatan kalian pada Valia asli. Di dunia ini, hal yang paling tidak aku sukai adalah ketika ada orang menggangu waktu dengan ibu. Dan aku benar-benar tidak bisa mentolerir hal itu" gumam Valia dengan kedua tangan yang telah menggenggam stir mobil dengan sangat kuat.


Dalam ingatannya, Valia asli pernah mencari alamat ketiga orang itu, jadi otomatis Silyena yang ada di tubuh Valia juga mengetahui dimana alamat Jian, Asra dan Rila. Tapi ia tidak bisa sekaligus memberi mereka pelajaran, jadi Valia memilih Asra sebagai korban pertamanya.


Valia pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, kini Valia melewati sebuah toko yang menjual berbagai topeng, Valia yang melihat toko itu kini memilih untuk mengehentikan mobilnya dan langsung membeli salah satu topeng itu.


Setelah selesai membeli, Valia membawa mobil itu memasuki kawasan elit ke 2 yang ada di Rotterdam.


"Bahkan mansion Asra tidak lebih baik dari mansion milik keluarga Samantha" gumam Valia yang melihat-lihat kawasan itu dari dalam mobilnya.


Kawasan elit di Rotterdam terbagi 3, kawasan pertama, hanya di duduki oleh para konglomerat, kawasan elit kedua, di duduki oleh orang kelas atas, sedangkan kawasan elit ke tiga, di duduki oleh orang-orang kelas menengah.


"Valia bahkan tinggal di kawasan elit pertama, tapi dia tidak pernah menunjukkan bahwa dia adalah anak dari seorang konglomerat, bahkan dia memasuki kampusnya sendiri dengan menggunakan Beasiswa. Tidak seperti kalian yang hanya mengandalkan kekayaan orang tua yang tidak seberapa itu, dan malah menyiksa anak konglomerat, sungguh cerita yang sangat tidak etis," gumam Valia sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.


Di ujung sana, Valia melihat Asra turun dari mobil Jian, lalu ketika mobil Jian pergi, Valia pun memakai topengnya dan melakukan mobilnya dengan sangat kencang.


Brakkk


Valia menabrak Asra dengan sangat kuat sehingga tubuh Asra terpental cukup jauh, lalu Valia dengan cepat keluar dari mobil dan membawa tubuh Asra yang sudah mengeluarkan darah masuk kedalam jok mobilnya.

__ADS_1


Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi,


Lalu Valia pun membawa mobilnya kedalam hutan yang ditengah nya memilki danau yang sangat luas.


Setelah sampai di hutan, Valia membuka topengnya dan mengikat tangan Asra dan mengeluarkan tubuhnya dari mobil Valia.


Tuk


Tuk


Valia terus menendang tubuh Asra dengan terus menerus, tiba-tiba Asra membuka matanya secara perlahan.


Ketika mata Asra terbuka lebar, ia melihat ke sekelilingnya dan betapa terkejutnya Asra, "Dimana ini?," tanya Asra.


"Apa kau sudah tidak bisa bisa melihat?," tanya Valia dengan memutar bola matanya dengan malas.


Asra terkejut mendengar suara yang sangat di kenalnya, lalu ia mencoba membalikkan tubuhnya, dan ternyata melihat Valia berada di belakangnya, "Kau?, kenapa kau disini?," tanya Asra dengan binggung.


Awalnya Asra tidak melihat Valia, karena ia meringkuk dengan tubuh yang membelakangi Valia.


"Tentu saja aku yang membawamu kesini" jawab Valia dengan santai.


Asra yang mendengar itu mulai tersulut emosi "Lepaskan aku!" teriak Asra dengan marah.


Mendengar hal itu, Asra mulai ketakutan, ia bahkan takut melihat wajah Valia yang terlihat dingin dan menyeramkan, "Lepaskan aku, aku mohon, aku ingin pulang" ucap Asra dengan memohon pada Valia.


"Apa kau ingat ketika aku memohon pada kalian untuk melepaskan ku?, lalu kalian menjawab seperti ini ... "


Valia berjongkok dan berkata "Tentu saja kami tidak akan melepaskan mu, karena kami sangat suka bermain dengan orang sepertimu" lanjut Valia sambil tersenyum smirk.


Asra yang mendengar itu melototkan matanya, ia memiliki firasat bahwa Valia tengah membalaskan dendamnya.


Asra mulai menggelengkan kepalanya dengan pelan, "Tidak!, tidak, tolong maafkan aku," ucap Asra sambil menitikkan air mata dan memohon pada Valia.


Valia tidak memperdulikan perkataan Asra, ia memilih berdiri dan mengambil sebuah palu yang ada di mobilnya.


Lalu Asra melihat sebuah benda yang sangat mengerikan di tangan Valia, "ja–ngan, tolong jangan lakukan itu, aku sungguh minta maaf padamu," ucap Asra sambil menggelengkan kepalanya berulang kali dengan wajah ketakutan.


Valia yang mendengar permohonan itu langsung mengangkat palu yang ada di rangannya dan langsung menghentakkan nya ke jari kaki Asra.

__ADS_1


Tukk


Arrgghhh


Asra langsung menangis menahan rasa sakit itu, ia bahkan tak kuasa melihat jari kaki kanan nya hancur.


"Huhu ... aku minta maaf, jangan lakukan ini lagi," gumam Asra sambil menangis dan memohon meminta maaf pada Valia.


Valia pun berjongkok dan berbicara di depan wajah Asra, "Pernah kah kau berpikir bahwa di masa depan aku akan membalas kalian semua?, sepertinya tidak!" ucap Valia sambil bertanya dan menjawab pertanyaan itu sendiri.


"Bukankah aku pernah memohon seperti ini pada kalian?, tapi kalian tidak pernah mau mendengar kan ku, lalu kenapa saat aku menyiksamu, kau justru meminta maaf padaku?, apa menurutmu itu sepadan dengan apa yang sudah kalian lakukan pada ku saat itu?," tanya Valia dengan mata melotot.


"Aku sungguh minta maaf, aku hanya mengikuti perintah Jian" ucap Asra di sela tangisnya.


Valia terlihat memutar bola matanya dengan malas. Lalu ia mengangkat tubuh Asra dan menghentakkan wajah Asra ke pohon yang ada di sana.


Tukk


Ughh


Tukk


Ughh


Valia berulang kali menghentakkan wajah itu ke pohon, bahkan kekuatannya tidak bisa di anggap remeh.


Terlihat bahwa wajah Asra kini sudah di penuhi oleh darah dan wajah itu bahkan terlihat sangat mengerikan, tapi Valia melihat Asra masih bisa bernafas.


Valia yang melihat itu pun langsung menghempas Asra, lalu ia kembali memegang palu dan menghancurkan jari kaki Asra yang satunya lagi.


Tukk


Arrghh


Valia yang mendengar suara teriakan itu mulai tersenyum smirk "kau benar-benar hebat," ucap Valia sambil melempar palu itu ke wajah Asra hingga membuat wajah itu benar-benar hancur.


Asra terkapar di tanah dengan darah yang sudah mengenang di seluruh tubuhnya, walau ia sudah tidak bisa melihat Valia lagi, tapi di sisa nafas nya, Asra berusaha untuk berbicara.


"Ma–af kan aku," ucap Asra dan ia pun menghembuskan nafas terakhirnya dan mata itu pun tertutup secara perlahan.

__ADS_1


Valia mendengarkan perkataan itu "Aku bukan dia, jadi kau bisa meminta maaf padanya di alam yang berbeda," ucap Valia yang sambil mencuci tangannya di danau itu.


Bersambung ...


__ADS_2