Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Balasan Yang Adil


__ADS_3

Nero sesekali melirik kearah Carmila, ia melihat Carmila mulai terlihat lebih rileks, "apa sudah tidak sakit lagi?," tanya Nero sambil memastikan kembali.


Carmila tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "sepertinya begitu," ucap Carmila sambil menggerakkan pundaknya.


Nero yang mendengar itu juga ikut tersenyum, dan ia pun teringat bahwa dirinya belum memakan apapun, "apa kau lapar?, ingin aku belikan sesuatu?," tanya Nero dengan lagi.


Carmila mencoba memikirkan sesuatu, lalu mengucapkannya dengan santai "Spaghetti, dan lemon tea,"


Nero pun mengangguk dan berdiri, "tunggu lah di sini, aku akan membelikan makanan untuk kita, dan untuk Valia juga," ucap Nero sambil meninggalkan Carmila sendirian.


Carmila terus saja memandangi punggung Nero, "dia pria yang baik dan tau memperlakukan memperlakukan wanita dengan lembut, suatu hari wanita yang akan menjadi pasangannya pastilah sangat beruntung," batin Carmila sambil tersenyum.


Sedangkan di tempat lain, Valia berjalan dengan berwajah datar sambil mengikuti wanita itu. Tapi, wanita itu sama sekali tidak menyadari akan kehadiran Valia.


Tiba saat suasana sepi dan tidak terlihat seorang pun, wanita itu hendak menaiki tangga, Valia mulai tersenyum smirk, ia tersenyum karena memiliki kesempatan untuk membalas pada wanita itu,.


"Tidak sia-sia aku terus mengikutinya," batin Valia.


Valia segera berlari ke arah samping wanita itu dan langsung menendang tubuh wanita itu kesamping.


Brukkk


Arrgghhh


Tubuh wanita itu terpental kearah ruangan kosong yang tengah terbuka lebar. ia juga langsung memegang punggungnya yang membentur dinding dengan sangat kuat.


"Engghhh" desis wanita itu sambil memejamkan mata.


"Apa itu sakit?," tanya Valia sambil tersenyum smirk dan berjalan masuk kedalam ruangan itu, lalu Valia pun menutup pintu itu dan menguncinya dari dalam.


Lalu, wanita itu terkejut mendengar suara yang sangat familiar, ia pun langsung membuka matanya dengan lebar, "ka-kau!" teriaknya dengan sangat kuat.


Ruangan itu memiliki sebuah cahaya yang menerangi kegelapan, hal itu membuat wanita itu bisa melihat wajah Valia.


"Aku sudah terlalu lama membiarkan mu bermain kotor di belakang ku, jadi sekarang sudah waktunya membasmi hama sepertimu, Telisa" ucap Valia sambil tersenyum smirk.


Telisa tersentak kaget, ia tidak menyangka Valia bisa mengatakan hal seperti itu dengan mudah padanya.


"A-apa maksudmu?, aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan!," ucap Telisa dengan wajah yang sedikit panik.


Valia melangkah secara perlahan, "aku yang sekarang sangatlah berbeda, jadi jangan pernah menguji kesabaranku,Telisa." ucap Valia dengan nada yang begitu menyeramkan.

__ADS_1


Telisa yang mendengar itu mulai ketakutan, "Tidak mungkin dia mengetahuinya, dia hanya anak bodoh yang tidak memiliki teman," batin Telisa sambil menatap Valia.


Valia melihat Telisa bungkam, ia dengan kesal langsung menggerakkan kakinya dan menendang wajah Telisa.


Brukkk


Arrgghh


"Sakit," desis Telisa sambil memegang pipinya.


Valia melihat Telisa dengan wajah datar, "kau tidak perlu berpikir untuk mengelak, karena aku akan membalas semua perbuatan yang sudah kau lakukan padaku," ucap Valia dengan nada yang sangat menyeramkan.


Sedangkan Telisa, mulai menitikkan air matanya, "aku harus berusaha keluar dari sini," batin Telisa.


"Aku sungguh tidak mengerti apa yang kau katakan, Valia. Kita adalah teman, dan aku tidak pernah berbuat apapun padamu," ucap Telisa dengan air mata yang terus mengalir.


"Memuakkan!" kesal Valia.


Telisa yang mendengar itu tersentak kaget, ia bahkan semakin merasa ketakutan mendengar suara Valia yang begitu nyaring.


Valia melihat ke sekelilingnya, ia melihat sebuah tali bergantung di dinding, dengan cepat Valia mengambil benda itu dan melipatnya beberapa kali.


Brukkk


Arrgghhh


Telisa tampak kesakitan, ia pun meraba punggungnya dan merasakan cairan kental keluar dari punggungnya.


Telisa tampak sangat marah, sambil merasa sakit itu, ia pun mendongakkan wajahnya dan menatap kearah Valia, "A-apa yang sudah kau lakukan!" teriak Telisa yang sudah kehabisan kesabaran.


Valia menatap kearah Telisa dengan sangat tajam, "Menghukum penghianat sepertimu!" ucap Valia dengan tegas.


Telisa tidak bisa berkata apa-apa, ia sudah mengerti bahwa Valia telah mengetahui segalanya.


Ia tidak pernah melihat Valia menatap kearahnya dengan tajam, bahkan Telisa juga tidak pernah mendengar Valia mengatakan hal yang begitu kasar padanya.


Selama ini, ia meyakini bahwa Valia tidak pernah berubah, dan semua yang di lakukan Valia pada saat itu hanyalah permainan kecil saja.


"Sepertinya, dia benar-benar mengetahui segalanya," batin Telisa yang mulai ketakutan.


"Selama ini kau dengan sengaja memberikan seluruh informasi ku pada Jian, Rila dan Asra, dan bahkan aku juga mengetahui bahwa kau dengan sengaja menabrak temenku," ucap Valia sambil tersenyum smirk.

__ADS_1


Telisa yang mendengar itu mulai membulatkan matanya, "ti-tidak, aku tidak melakukan itu," bantah Telisa sambil menahan rasa sakit di tubuh nya.


mendengar hal itu, Valia mengerutkan dahinya lalu tertawa dengan keras, "Haha ... apa kau pikir aku tidak melihat raut wajahmu itu?," ucap Valia di sela tawanya.


Lalu Valia yang sudah sangat kesal kembali melayangkan tali itu tepat di wajah Telisa.


Arrgghhh


Pipi Telisa terkoyak dan mengeluarkan banyak darah, "sakit" rintih Telisa sambil menangis.


Valia mengabaikan rintihan itu, ia pun berjongkok di hadapan Telisa, "aku hanya bertanya sekali, kenapa kau bekerja sama dengan Jian, Rila dan Asra untuk merundung ku?, sebenarnya kesalahan apa yang sudah aku lakukan padamu?," tanya Valia dengan wajah datar.


Telisa menunduk dan tidak menjawab pertanyaan itu, ia terus menangis tanpa henti sambil menutup pipinya yang sudah terkoyak.


Valia melirik kearah sekitar, ia melihat benda yang sangat di butuhkan nya, "Kau tidak mau menjawab?," tanya Valia sambil melirik kearah benda itu dan langsung mengambilnya.


Benda itu tapi berada di atas meja yang ada di samping mereka.


Valia dengan cepat langsung menggoreskan benda itu di tangan Telisa.


Sreekkk


Arrgghhh


Goresan itu di buat dari pergelangan tangan sampai ke siku Telisa.


Telisa yang melihat tangannya berdarah mulai melototkan mata dan berteriak histeris.


Arrgghhh


"Jangan lakukan lagi!" teriak Telisa dengan keras.


Sedangkan Valia mengerutkan dahinya, "kenapa?, bukankah kau dulu menghasut mereka bertiga untuk memukul ku seperti ini?, tapi, ketika aku melakukannya padamu, kau malah menghentikan ku, Bukankah itu tidak adil, Telisa?." ucap Valia sambil memutar pisah sebuah mata pisau yang sudah berkarat.


Ruangan itu adalah gudang tempat penyimpanan barang yang sudah tidak layak di pakai, dan kebetulan ruangan itu berada di sudut kampus.


Sebagian para mahasiswa telah menyelesaikan kelas mereka, jadi tidak ada yang mendengar teriakan-teriakan Telisa.


Telisa tidak bisa menjawab perkataan Valia, ia hanya bisa mengepakkan satu tangannya sambil menangis.


"Kenapa kau tidak menjawab?, apa yang aku katakan benar?," ucap Valia, lalu ia pun menganggukkan kepalanya, "tentu saja benar, karena kau sudah menghasut mereka selama satu semester, jadi kini aku membalas semua perbuatanmu dengan tangan ku sendiri tanpa bantuan orang lain, agar aku puas dan semua perbuatan yang kau lakukan padaku itu terlihat sangat adil," lanjut Valia sambil tersenyum smirk.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2