
Sang papa yang mengerti hal itu juga ikut tersenyum, "Pantas saja kau tersenyum seperti itu, ternyata kau memiliki mainan baru," ucap sang papa sambil melanjutkan mengunyah makanannya.
Jian merasa senang memiliki orang tua yang sangat menurutinya, ia bahkan benar-benar sangat sayang pada keduanya, "Bukankah itu bagus, pa?, jadi aku tidak akan bosan lagi," ucap Jian sambil tersenyum.
Setelah selesai memakan makanannya, Jian pun langsung berdiri, "pa, ma, aku berangkat dulu," ucap Jian sambil melambaikan tangannya dan langsung keluar dari mansion.
Jian pun langsung memasuki mobilnya dan berangkat dengan hati yang gembira, "haha, ini benar-benar akan menjadi hari yang baik," ucap Jian sambil bersiul di dalam mobilnya.
Sesampai di parkiran, Jian melihat Rila baru saja keluar dari mobil. "Rila," panggil Jian sambil menghampiri temannya itu.
Rila yang mendengar panggilan itu pun menoleh dan ia melihat Jian tengah menghampirinya, "Kau juga baru tiba, Jian?," tanya Rila sambil tersenyum.
Setelah keduanya saling berdiri beriringan, Jian langsung memberikan senyuman smirk, "Benar, dan aku membawa berita yang sangat penting, yaitu kita harus membuat perhitungan dengan Valia," Ucap Jian dengan kecil sambil memajukan wajahnya dan berbisik kecil di telinga Rila
Bahkan sampai detik ini, keduanya tampak tidak belajar dari masa lalu, mereka bahkan tidak pernah berpikir bagaimana Valia bisa selamat dari kejaran orang-orangnya.
Di dalam otak Jian, ia hanya memikirkan kesenangannya saja, Jian bahkan tidak pernah mengerjakan soal di kampus, dan anehnya semua dosen langsung membuat nilainya bagus dan memperluas berita itu.
Rila yang mendengar itu merasa terkejut, ia pun langsung mengangguk setuju, "haha ... kau masih ingin membantunya perhitungan?," tanya Rila.
Keduanya pun masuk kedalam gedung kampus, "tentu saja, apa kau pikir aku akan membiarkannya begitu saja?," ucap Jian dengan wajah yang berseri-seri.
"Aku yakin bahwa kau pasti sudah membuat rencana yang bagus," ucap Rila sambil mengandeng lengan Jian.
Mereka pun berjalan pelan sambil berbincang tentang rencana yang akan mereka jalani, tapi mereka ingin melibatkan Gleni kembali.
Keduanya berinisiatif berjalan kearah ruangan Gleni, lalu Jian pun menekan handle pintu ruangan itu.
Ketika pintu terbuka lebar, mata Rila dan Jian melotot dengan sempurna.
Aarrrggghhhh
__ADS_1
Kedua berteriak secara bersamaan, dan juga keduanya langsung jatuh terduduk dengan tubuh yang gemetar, merekapun perlahan-lahan mundur dengan menggunakan kedua tangan dan bahkan cairan bening juga mulai menetes di pipi mereka
Para mahasiswa yang mendengar teriakan itu pun langsung berlari kearah sumber suara, ketika para mahasiswa juga melihat kedalam ruangan itu, mereka langsung menutup hidung mereka.
Bahkan para mahasiswa itu mengeluarkan berbagai reaksi, ada yang langsung memerintahkan isi perutnya, ada yang langsung berlari kearah lain, dan ada juga yang jatuh terduduk seperti Rila dan Jian.
Mereka berdiri di pintu dan mulai menelusuri ruangan itu, mereka bisa melihat lantai, kursi, meja bahkan dinding sudah berubah warna menjadi merah, bahkan mereka melihat potongan-potongan kecil yang mereka duga adalah daging. Semua orang yang ada di sana bahkan juga bisa mencium aroma yang tidak sedap.
"Panggil para dosen!" teriak salah satu mahasiswa.
Mereka semua menutup hidung mereka, bahkan tidak ada dari mereka yang berani masuk kedalam ruangan itu.
Bahkan mereka juga melihat seluruh dokumen yang ada di ruangan itu sudah berganti menjadi warna merah.
Salah seorang mahasiswa berlari secepat mungkin menuju ruangan dosen.
Brakkkk
pintu terbuka dengan sangat kuat, sehingga membuat para dosen yang ada di dalam terkejut.
"Ada apa?," tanya salah satu dosen yang ada di sana.
"Pak, Ibu ...tolong ikut saya ke ruangan bu Gleni, ini benar-benar mendesak," ucap mahasiswa itu dengan terus menghirup udara terus menerus.
Delna yang ada di antara para dosen itu langsung menghentikan aktivitasnya, awalnya ia tampak tidak mendengar suara pintu itu, tapi ketika mahasiswa itu menyebutkan nama Gleni, seketika saja ia melototkan matanya dan bahkan jantung Delna tengah berdegup dengan kencang.
Delna langsung berlari keluar ruangan, ia bahkan sedikit mendorong tubuh mahasiswa itu, dan para dosen sangat heran melihat wajah Delna yang begitu ketakutan.
Mereka pun langsung ikut berlari dengan mahasiswa itu, setelah sampai semuanya sampai, mereka melihat para mahasiswa tengah terduduk sambil memegang perut mereka.
Delna tampak bingung melihat para mahasiswa itu, ia pun terus melangkah sampai dimana ketika mata Delna melihat kedalam ruangan, ia sungguh terkejut sehingga membuat mata itu mulai melotot dengan sempurna.
__ADS_1
Arrgghhh
Delna berteriak dengan memegang pintu, ia bahkan menutup mulutnya dengan satu tangan.
Dengan tangan bergetar, Delna mengeluarkan ponselnya dan ia pun mencoba menghubungi ponsel sang adik, tapi panggilan itu terus saja tidak tersambung.
Delna mulai berfikir negatif, dan saat itu juga ia menghubungi polisi, setelah selesai, walau kakinya terasa terus bergetar, Delna berusaha untuk berdiri dan menjauh dari ruangan sang adik.
Ia seakan tidak bisa bernafas dengan benar, bahkan dada nya terasa begitu sakit, padahal ia sendiri tidak tau bagaimana keadaan Gleni, tapi entah kenapa Gleni merasa bahwa di dalam ruangan itu terdapat sang adik.
"Kenapa aku merasa Gleni berada di dalam ruangan itu?," batin Delna dengan memegang dadanya yang terasa sakit.
Bahkan Delna terus memegang dinding agar dirinya tidak terjatuh. dan Delna bahkan sudah tidak bisa membendung air mata nya lagi.
"Kenapa aku menangis?," batin Delna sambil menghapus cairan bening itu dengan jarinya.
Para dosen juga ikut melihat kedalam ruangan itu, reaksi mereka juga sama seperti yang lainnya. Dan mereka sama sekali tidak biasa menebak benda apa yang tengah tercecer di lantai itu.
Setelah beberapa menit, polisi datang membawa sebuah dokter dan detektif, mereka berjalan melewati para mahasiswa itu, dan juga reaksi mereka sama seperti yang lainnya.
Sedangkan sang dokter melototkan matanya, "Itu adalah daging manusia," ujarnya dengan sekali menebak.
Semua orang yang mendengar itu menganga dengan lebar, merek bahkan merinding mendengar nya.
Rila dan Jian benar-benar tidak bisa berkutik, mereka bahkan terduduk dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Apa kau yakin dokter?," tanya polisi itu binggung.
Pasalnya merek belum masuk kedalam ruangan itu dan masih berada di luar, tapi sang dokter sudah menebaknya terlebih dahulu.
Dokter itu pun langsung melangkahkan kakinya kedalam, ia memakai sarung tangan, lalu ia berjongkok dan memegang salah satu daging itu.
__ADS_1
Sang dokter mengangkat daging itu, ia terus melihatnya dengan sangat teliti, "warna merah pada otot dihasilkan karena adanya protein pigmen, ini sesuai dugaanku," gumam sang dokter.
Bersambung ...