
"Lihatlah, mereka berdua sekarang tidak memiliki kekuasaan apapun, tapi mereka bahkan cukup berani untuk menindas orang lagi,"
"Haha ... aku ingin melihat mereka berdua mengalami hal yang sama seperti yang mereka lakukan pada anak-anak beasiswa itu,"
Seluruh mahasiswa mencibir keduanya, bahkan mereka semua mengingatkan seperti apa Rila dan Jian merundung anak-anak beasiswa itu.
Orang itu pun berjongkok di hadapan Jian, "apa kau lupa siapa aku?," tanya orang itu dengan tajam.
Jian mengeryitkan dahinya, ia pun mulai teringat tentang wajah orang itu, dan ternyata orang itu adalah orang dari masa lalu Jian.
Melihat raut wajah terkejut Jian, orang itu langsung tersenyum sinis, "sepertinya kau mengingatku, jadi aku tidak perlu untuk berkenalan lagi dan sekarang susah waktunya membalas semua perbuatan mu di masa lalu padaku," ucap orang itu dengan tatapan tajam.
Lalu orang itu pun langsung bangkit dan melirik tajam kearah Rila yang juga sudah mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
Sekarang, Rila bahkan tengah berdiri seperti patung, dan orang itu pun langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Jian dan Rila yang mulai ketakutan.
Pasalnya dulu Jian, Rila dan Asra merundung orang itu dengan sangat brutal.
Bahkan bisa di perkirakan bahwa orang itu hampir saja mati di tangan mereka, dan sekarang dia masuk ke kampus yang sama dengan Jian dan yang lainnya hanya untuk membalaskan dendamnya itu?.
"Ba-gaimana mungkin dia bisa masuk ke kampus ini?, bukankah saat itu orang tuanya benar-benar miskin?," gumam Jian yang sangat ketakutan.
Rila yang sedaritadi berdiri juga mengingat bagaimana dirinya, Jian dan Asra merundung orang itu.
"Di-dia?, bagaimana dia masih bisa hidup?" gumam Rila yang langsung jatuh terduduk.
Jian semakin tidak bisa berpikir jernih, "masalah lama belum selesai, dan sekarang malah muncul masalah baru," gumam Jian sambil mengepalkan kedua tangannya.
Sedangkan para mahasiswa itu terus saja mencibir tentang Rila dan Jian.
Jian yang sudah amat kesal mulai berteriak keras, "Untuk apa kalian disini?, Pergi kalian!" teriaknya dengan histeris.
Bisikan demi bisikan pun mulai terdengar, "Dasar orang gila, lebih baik kita pergi, aku tidak mau tertular kemiskinan mereka,"
__ADS_1
"Benar, biarkan saja mereka jatuh miskin, karena semua itu adalah karma dari perbuatan mereka sendiri,"
Setelah mengeluarkan perkataan menyakitkan itu, seluruh mahasiswa lainnya menyetujui perkataan itu.
Orang-orang yang mengelilingi mereka mulai pergi satu persatu, mereka berpikir untuk tidak terlibat dengan Rila dan Jian.
Karena bagaimana pun mereka telah di blacklist oleh keluarga Samantha, dan mereka tidak mau tertular bangkrut oleh keduanya.
...****************...
Sedangkan di tempat lain, sang tuan putri masih tengah menikmati sarapannya.
Jam terus berputar dengan semestinya, Javier yang melihat Valia masih bersantai kini mulai mengeluarkan suara tegasnya.
"Valia, apa kau tidak melihat forum kampus?," tanya Javier dengan santai.
Valia teringat bahwa dirinya tidak memegang ponsel satu harian itu, "Ah ... aku lupa, aku akan mengeceknya," ucap Valia sambil mengeluarkan ponselnya dari saku dan melihat forum kampus.
"Tidak libur?!" teriak Valia.
Lalu Valia menatap kearah Javier yang tengah menaik turunkan kedua pundaknya.
"Kenapa ayah tidak memberitahuku?!" kesal Valia sambil mengunyah makanannya dengan cepat dan meneguk air sampai tak bersisa.
Javier dan Nisia yang melihat reaksi itu langsung tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha .... " Javier terus tertawa tanpa henti bahkan diikuti oleh Nisia.
"Hahaha .... ini menyenangkan, sayang" ucap Nisia di sela tawanya.
Mereka melihat Valia tengah berlari keatas dengan tergesa-gesa.
Lalu tidak berapa lama kemudian, mereka melihat Valia sudah turun dengan membawa tas dan memakai sepatu.
__ADS_1
"Hati-hatai sayang," ucap Nisia yang terus tertawa terbahak-bahak.
Sedangkan Valia tengah merasa sangat kesal dan langsung berlari keluar mansion.
Di dekat bagasi, Valia melihat Rein tengah berdiri di samping mobil yang akan di pakainya untuk mengantar dirinya.
"Kakak, kita harus pergi ke kampus sekarang," teriak Valia sambil menambah kecepatan berlarinya dan langsung memasuki mobil.
Rein yang mendengar teriakan itu justru langsung masuk kedalam mobil dan membawa mobil itu dengan kecepatan penuh.
"Hahaha ... saya yakin nona tidak mengecek forum kampus," ucap Rein yang mulai menertawai Valia.
"Kakak juga mengetahui tentang forum itu?," tanya Valia dengan heran.
Rein menganggukkan kepalanya, "Tentu nona, karena saya sekarang harus mengetahui seluruh aktivitas yang berhubungan dengan nona," ucap Rein dengan santai.
Valia kini menepuk jidatnya, "Sepertinya kalian tengah mempermainkan aku," ucap Valia dengan kesal.
Rein yang mendengar itu terkikis geli, ia tidak menyangka bahwa tuan dan nyonya besar tengah mempermainkan anak mereka sendiri.
Karena Rein menyetir dengan kecepatan penuh, akhirnya Valia tiba di kampus dan seperti biasa, ia minta di turunkan sedikit jauh dari kampus.
Lalu Valia turun dari mobil dan langsung berlari menuju kampus.
Rein yang melihat nona nya berlari merasa sangat kasihan, "mau sampai kapan nona menyembunyikan indentitas besar ini?, aku bahkan merasa nona tidak pantas berlari seperti ini menuju kampus," gumam Rein yang terus melihat punggung Valia yang tengah berlari.
Saat sampai di gerbang kampus, Valia mulai merasa sangat lelah, ia bahkan terus menghirup udara dengan rakus.
"Sangat melelahkan," ucap Valia di sela tarikan nafasnya.
Dari kejauhan, seseorang tengah melihat Valia turun dari mobil mewah, ia bahkan mulai mengernyitkan dahinya. "Aku yakin dia baru saja turun dari mobil itu," gumam orang itu.
Bersambung ....
__ADS_1