
Keduanya pun mulai menikmati makanan mereka, ruangan itu begitu tampak hening.
Diantara kedua orang itu, terlihat Carmila justru terus memikirkan hal-hal aneh yang ada pada Valia, "apa aku coba bertanya saja padanya?, tapi aku tidak berani mengungkap kannya," batin Carmila.
...****************...
Di sisi lain ...
Ferry di kejutkan dengan penemuan jasad Renzo, walau ia tidak bisa mengenali wajah itu karena sudah di tutupi oleh darah, tapi Ferry justru mengenal pakaian yang di kenakan oleh Renzo.
"Ini pakaian yang di kenakan nya saat di kampus, artinya di di bunuh di hari itu juga," gumam Ferry.
Geril yang mendengar itu mulai menetap kearah Ferry, "kau mengenalnya?," tanya Geril binggung.
"Kita pernah bertemu, saat itu dia menunjuk seorang mahasiswa, tunggu .... " gumam Ferry yang menghentikan perkataannya.
Tiba-tiba saja, Ferry teringat dengan perkataan Renzo yang menuduh bahwa Valia lah yang melakukan itu pada kedua mahasiswi itu.
Lalu setelah menuduh Valia, Renzo justru mati dengan cara mengenaskan, "Aku mulai curiga dengan nona itu, tapi aku tidak memiliki bukti apapun, dan juga dia sekarang memiliki pengacara yang sangat hebat," gumam Ferry.
Geril tampak binggung dengan perkataan Ferry, ia pun langsung menepuk pundak Ferry. "Hei, ada apa?," katakan padaku," ucap Geril yang sangat penasaran.
Lalu Ferry menoleh kearah Geril dan mulai menceritakan kecurigaannya kepada Valia, ia juga mengatakan bahwa kedua mahasiswi itu tengah bersitegang dengan Valia lalu kedua lidah mereka di potong. lalu Ferry mengatakan bagaimana Renzo memfitnah Valia di depan teman-temannya dan dia mati.
"Bukankah itu aneh?," ucap Ferry sambil memijit pelipisnya.
Geril yang mendengar itu merasa tidak percaya, "Memang sangat aneh, tapi apa kau yakin tentang itu Ferry?, karena nona itu mendapat pengacara yang luar biasa, kita tidak bisa menuduhnya tanpa adanya bukti," ucap Geril dengan heran.
"Aku tau itu, tapi kecurigaan ku terus mengarah padanya," ucap Ferry dengan frustasi.
Lalu tiba-tiba ponsel Ferry berdering, ia pun mengangkat panggilan itu dan matanya melotot dengan sempurna. "Panggil beberapa orang dan bawa mayat itu ke rumah sakit untuk di otopsi," ucap Ferry sambil menggenggam ponselnya dengan kuat.
__ADS_1
Ferry mematikan ponselnya dan berteriak keras, "Sekarang apa lagi?!" kesal Ferry dengan memijit pelipisnya.
Geril dan para kelompok mereka terkejut melihat Ferry yang sangat marah.
"Ada apa?" tanya Geril dengan panik.
Ferry melototkan matanya dan melihat kearah Geril, "Mereka menemukan jasad tanpa daging bagian kaki," ucap Ferry dengan menggeretakkan giginya.
Geril dan yang lain sungguh terkejut mendengar perkataan Ferry, "tanpa daging ... tanpa daging," gumam Geril lalu ia teringat dengan kasus Ferry. "jangan-jangan kasus yang sedang kau tangani itu adalah bagian daging dari jasad itu," lanjut Geril.
Ferry yang mendengar itu juga memikirkan apa yang di katakan Geril, "Benar, pasti seperti itu ... kita harus segera menyelesaikan tempat ini, Geril" ucap Ferry sambil bergerak mengemasi jasad Renzo.
Setelah menyegel tempat itu, Ferry dan Geril pergi kerumah sakit, lalu setelah mereka sampai di rumah sakit, Ferry dan Geril membawa kantong jasad itu kedalam rumah sakit.
Mereka berdua langsung menyuruh seorang perawat untuk memanggil Xander. setelah perawat itu membawa Xander di belakangnya, lalu seorang perawat lainnya pun tiba dengan tergesa-gesa.
"Pak, gawat ... kedua mahasiswi itu telah tiada," ucap perawat itu dengan nafas tersengal-sengal.
Ferry tampak terkejut mendengar berita itu, padahal ia sudah berharap bahwa kedua mahasiswi itu bisa memberikan kesaksian tentang sang pelaku.
Sedangkan Xander hanya bisa berpura-pura terkejut agar membuat orang-orang itu tidak curiga padanya.
"Geril, aku serahkan jasad ini padamu," ucap Ferry sambil berlari keruangan Zewina dan Fallen.
Di tengah lorong, Ferry melihat Valia dan Carmila yang tengah berjalan dengan santai, Ferry yang melihat itu merasa binggung, tapi ia terus berlari dan melewati Valia dan Carmila sambil menatap keduanya dengan tajam.
Sedangkan Valia dan Carmila menatap lurus kedepan, mereka menyadari tatapan Ferry yang begitu tajam tertuju pada mereka.
"Apa dia menyadari sesuatu?," batin Valia yang juga melihat sang paman bersama dengan Ferry.
Xander juga melewati keduanya begitu saja, "aku yakin paman tidak akan membiarkan itu terjadi," batin Valia yang terus melangkahkan kakinya.
__ADS_1
Lalu Carmila juga ikut melangkahkan kakinya bersama Valia, keduanya pun berjalan beriringan untuk keluar dari rumah sakit.
Setelah tiba di depan ruangan Fallen dan Zewina, akhirnya Ferry pun masuk kedalam ruangan itu.
Ferry dan sang perawat menutup hidung mereka, ia pun melihat kedua mesin yang ada di samping mereka, dan mesin EKG itu hanya menunjukkan garis lurus.
"Sial!," umpat Ferry.
Xander yang melihat Ferry merasa sangat kasihan, ia sudah membaca biodata pria itu, Ferry terlahir dari keluarga biasa, karena kehidupan nya yang biasa itu membuat keluarganya mendapat hinaan serta cacian, bahkan ada yang tidak segan-segan memukul anggota keluarganya.
Melihat itu, ia pun bertekad menjadi polisi agar bisa melindungi keluarganya dari orang-orang yang kasar secara fisik.
Ferry adalah orang yang sangat baik, ia tidak pernah berbuat curang pada siapapun, sikapnya begitu adil meski orang itu berasal dari warga miskin.
Ia menuntut orang-orang itu dengan pasal yang sesuai, walau dirinya mendapat ancaman sekaligus kemarahan dari atas, tapi dia mampu mengatasi satu persatu masalahnya itu.
"Dia orang yang sangat menarik, sangat di sayangkan dia bekerja di bawah tekanan dahsyat seperti itu," batin Xander sambil menatap punggung Ferry.
"Jika aku tidak bisa menyelesaikan kasus ini, maka aku akan di keluarkan dari kepolisian dan jika itu terjadi, maka aku tidak akan bisa melindungi keluargaku lagi," batin Ferry sambil menutup matanya lalu membukanya kembali.
Ferry pun berbalik dan menatap kearah Xander, "dokter apa yang terjadi pada mereka?," tanya Ferry dengan raut wajah lesuh.
Xander mendekati mereka memeriksa Zewina, "Mereka terna efek samping dari obat yang aku berikan," ucap Xander yang tidak merasa jijik sedikit pun dengan muntahan itu.
Sedangkan Ferry dan sang perawat itu, juga sudah menutup hidung mereka karena tidak tahan dengan aroma yang sudah menyelimuti ruangan itu.
"Kenapa bisa seperti ini?, bukan kah mereka seharusnya baik-baik saja," ucap Ferry dengan binggung.
Xander melihat kearah Ferry, "ini bisa saja terjadi pada siapapun, jadi aku tidak bisa berkomentar apa-apa" ucap Xander dengan menundukkan sedikit wajahnya.
Ferry yang melihat itu hanya bisa menghela nafas pelan, "benar apa yang di katakan dokter Xander, seharusnya aku harus berterimakasih padanya, karena, bagaimana pun dia sudah membantu banyak dalam penyelidikan ini dan juga dalam merawat mereka," batin Ferry
__ADS_1
Bersambung ...