Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Kembali ke Rumah Sakit


__ADS_3

"Kemana kau Gleni?, aku benar-benar cemas memikirkan keadaanmu," gumam Delna yang sudah mulai putus asa karena tidak bisa menghubungi ponsel sang adik.


"Aku bahkan tidak dapat info apapun tentang dengan siapa terakhir kali dia berpergian," gumam Delna yang menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Frustasi?, tentu saja, karena Gleni adalah adik satu-satunya, sejak kedua orang tua mereka meninggal, keduanya hanya hidup berdua dan saling bergantung satu sama lain.


Keduanya bagai lem yang terus menempel, bahkan seperti tidak bisa di pisahkan, terkadang, orang-orang yang melihat mereka juga merasa sangat iri.


Karena, orang-orang itu jarang menemukan kakak beradik yang sesama jenis bisa saling akur satu sama lain. Biasanya jika kakak beradik sesama wanita ataupun sesama pria pasti tidak lah akur.


Sedangkan Gleni dan Delna sangatlah berbeda, sehingga membuat orang-orang memuji keakraban mereka.


"Aku berharap tidak ada yang terjadi padamu," gumam Delna yang terus menggenggam ponselnya dengan kuat.


...****************...


Di tempat lain, Valia sudah diantar sampai ke rumahnya, "Kak, tunggulah sebentar disini, aku hanya ingin meminta izin untuk pergi ke rumah sakit," ucap Valia sambil turun dari mobil dan masuk kedalam Mension.


Rein mengangguk dan menunggu Valia di dalam mobil, sedangkan Valia tengah berjalan memasuki mansion.


Di meja makan Javier dan Nisia tengah duduk sambil melahap hidangan yang ada di atas meja.


Nisia mendengar suara langkah kaki, ia pun menoleh dan melihat Valia tengah menghampiri mereka, "Valia?, kenapa baru pulang?" tanya Nisia tapi tidak terlihat khawatir.


"Aku harus menolong seorang teman yang kecelakaan ibu, bahkan sekarang aku harus kembali kerumah sakit, karena dia masih berada di sana dan belum di perbolehkan pulang, jadi aku ingin meminta izin pada ibu dan ayah agar aku bisa kembali kerumah sakit" ucap Valia dengan nada memohon.


"Pergilah nak, ibu dan ayah tidak akan melarang mu," ucap Javier sambil tersenyum.


Valia yang mendengar itu merasa sangat senang, ia pun memeluk keduanya, "terima kasih, ayah, ibu. Tapi sebelum itu, biarkan aku membawa beberapa makanan ini, aku takut ketika temanku siuman, dia justru belum memakan apapun," sambil mengambil beberapa buah-buahan, roti dan berbagai makanan.


Javier dan Nisia tersenyum melihat Valia sudah memiliki teman, mereka dulu tampak sangat khawatir dengan sosialisasi Valia.


Apalagi setelah mengetahui pembulian itu mereka tampak sangat marah, tapi di balik itu semua, mereka justru bersyukur karena sang teman justru menerima keadaan Valia yang notabennya adalah anak beasiswa.

__ADS_1


Mereka bahkan yakin bahwa sampai sekarang Valia masih belum menceritakan identitas aslinya pada temannya, dan semua keputusan tentang pengungkapan identitas itu hanya Valia sendirilah yang bisa memutuskannya.


Setelah selesai membereskan makanannya, Valia langsung menghampiri keduanya, "Aku pergi dulu," ucap Valia sambil memeluk kedua orang tuanya.


Javier dan Nisia pun membalas pelukan itu dengan tersenyum lembut.


Saat berjalan keluar, perasaan bahagia menyelimuti hatinya, tapi tiba-tiba saja ia teringat akan satu hal, "Sekarang aku benar-benar sangat bahagia, tapi, andai Valia asli muncul kembali, untuk kedepannya aku menjadi ragu membuat perkataanku menjadi kenyataan, karena kasih sayang yang ayah Javier berikan tidak pernah aku dapatkan dari ayah Granov. Jadi aku berharap kau jangan pernah menggangguku Valia asli" batin Valia sambil menutup matanya dengan harapan penuh.


Setelah Valia berada di luar, ia melihat Rein masih menunggunya di dalam mobil, ia pun masuk kedalam mobil dan Rein mengendarainya dengan kecepatan sedang.


Di dalam mobil, tidak ada yang mau memulai percakapan, mereka tampak terdiam dengan pikiran masing-masing.


Setelah mengendarai mobil itu cukup jauh, Rein teringat bahwa Valia belum mengatakan tempat tujuannya, "Sekarang kita pergi ke rumah sakit mana nona?," tanya Rein dengan sesekali melirik kearah Valia.


Valia melirik kearah Rein, "Kita akan pergi ke rumah sakit paman, kak" jawab Valia sambil tersenyum.


Rein menganggukkan kepalanya, ia pun langsung mengendarai mobil itu dengan menambah kecepatan.


...****************...


Setelah receptionis itu memberitahukannya ia pun langsung berlari mencari seseorang, dan ternyata, dari kejauhan ia sudah bisa melihat bahwa wanita yang dicarinya tengah duduk di luar ruangan.


Pria itu pun langsung melangkah dengan cepat untuk menghampiri wanita paruh baya itu, sedangkan wanita itu langsung menoleh ketika dirinya mendengar suara langkah kaki yang cukup tergesa-gesa.


Setelah tatapan keduanya saling bertemu, pria itu langsung menjatuhkan tubuhnya di samping wanita itu, "Ibu, maaf aku terlambat ibu," ucap pria itu dengan sedih.


Kaily yang mendengar permintaan maaf itu hanya bisa tersenyum lembut, "Tidak apa-apa nak, lagipula ibu hanya minta di temani saja," ucap Kaily sambil mengelus pucuk kepala anaknya.


Tapi Nero benar-benar merasa sangat bersalah pada ibunya, "Aku benar-benar minta maaf ibu, jika saja aku tidak memiliki beberapa tugas kelompok itu, pasti aku sudah berada di sini dari tadi dan bisa menemani ibu." ucap nya sambil meminta maaf terus menerus.


Kaily menggelengkan kepalanya dengan pelan, "Tidak apa-apa Nero, lagipula ibu hanya bertugas untuk menjaga pasien yang baru saja mengalami kecelakaan," jelas Kaily pada Nero.


Nero yang mendengar itu mulai mengeryitkan dahinya, "Sebenarnya apa yang terjadi, ibu?, kenapa harus ibu yang menjaga pasien ini?" tanya Nero yang sedikit penasaran.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu, Kaily mulai menceritakan awal muka kejadiannya, dan juga menceritakan bagaimana dirinya bisa bertemu dengan keduanya.


Nero yang mendengar cerita itu menahan nafasnya, ia tidak percaya seorang wanita bis melakukan aksi heroik yang begitu menegangkan.


"Setelah mendapat telepon dari ibu, saat itu aku benar-benar terkejut, aku bahkan mengira bahwa ibu yang mengalami kecelakaan, tapi ternyata tidak," ucap Nero sambil menghela nafas dengan pelan.


Kaily yang mendengar kecemasan sang anak hanya bisa tertawa kecil, "Haha ... maafkan ibu, lagipula ibu merasa kasihan pada mereka, dan mereka cukup beruntung bisa selamat dari para penjahat bersenjata itu," ucap Kaily lagi di sela tawanya.


Lalu Nero teringat akan sesuatu, "Apa mereka berdua ada di dalam ibu?" tanya Nero sambil berdiri dan membuka perlahan pintu ruangan itu.


Kaily mendongakkan wajahnya karena melihat sang anak berdiri, "Tidak, hanya satu orang saja yang ada di dalam dan yang satunya sedang pergi, ibu tidak tau kapan temannya itu kembali," jawab Kaily lagi.


Nero membuka pintu ruangan itu, ia pun melihat seorang wanita cantik tengah tertidur pulas di atas tempat tidur.


Setelah meneliti wajah wanita itu, ia pun sangat terkejut "Bukankah dia Carmila?," ucap Nero dengan menganga lebar.


Kaily mengeryitkan dahinya, "Kau mengenalnya, Nero?" tanya Kaily sambil berdiri dan berjalan mendekati sang anak.


Nero menganggukkan kepalanya dengan cepat, "Sangat mengenalnya ibu, dia adalah orang yang mendapat julukan bunga indah di kampus kami," ucap Nero yang kemudian tersenyum.


Kaily yang melihat senyum sang anak mulai memiliki kecurigaan, "Apa kau menyukainya Nero?" tanya Kaily penuh selidik.


Nero terkejut mendengar pertanyaan sang ibu, ia pun langsung membantah pertanyaan itu, "Tidak ibu, aku bahkan tidak pernah memikirkannya," ucap Nero sambil menggelengkan kepala.


Seketika saja Kaily bernafas lega, "Syukurlah Nero tidak menyukainya, jadi aku bisa menjodohkan dia dengan wanita yang satunya," batin Kaily sambil tersenyum.


Nero sedikit binggung dengan senyuman sang ibu, "Ada apa ibu?, kenapa ibu tersenyum?" tanya Nero heran.


Kaily yang mendengar itu langsung menetralkan wajahnya, "Tidak ada," jawab Kaily sambil masuk kedalam ruangan dan duduk di atas sofa.


Bagitu juga dengan Nero, ia mengikuti langkah Kaily dan ikut duduk di samping sang ibu.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2