
Valia memutar bola matanya dengan malas, "Apa aku terlihat perduli?, aku bahkan ingin ingin menghancurkan keluarga kalian semua sampai ke akar-akarnya," ucap Valia lagi.
Elena yang mendengar itu langsung menggelengkan kepalanya, "ti-tidak, jangan lakukan apapun pada keluargaku," ucap Elena yang mencoba menghalangi Valia.
"Aku tidak membutuhkan pendapatmu," ucap Valia sambil mencari-cari sebuah benda yang akan berguna untuknya.
Lalu Valia melihat sebuah parang yang tumpul, ia tidak membersihkan debu yang menempel disana, dan ia berdiri tepat di depan Elena, ia pun langsung menebas satu kaki Elena.
Prakkk
Arrghh
"Ini agar kau tau seperti apa rasa sakit yang aku terima," ucap Valia dengan aura yang sangat mengerikan.
Elena melihat satu kakinya sudah terputus dan darah mulai keluar dengan sangat deras.
"Hiks ... hiks, kau sungguh tega melakukan hal ini padaku," ucap Elena dengan menahan rasa sakit di pergelangan kakinya.
Valia terlihat tidak memperdulikan ucapan itu, ia bahkan semakin tertantang untuk melakukan hal yang lebih mengerikan lagi.
Prakk
Arghhh
Elena semakin berteriak keras, walau tebasan itu terlihat sangat cepat, tapi sakit yang di timbulkan benda itu tidak bisa di anggap remeh.
Kini kedua kaki Elena sudah terpisah dari tubuhnya, darah itu bahkan sudah menetes terus menerus.
Valia melihat wajah Elena sudah tampak pucat, sedangkan Elena, sudah tidak kuat untuk menjaga kesadarannya.
__ADS_1
Elena melihat wajah Valia yang penuh dengan amarah dan dendam, ia mulai mempercayai perkataan Valia, karena wanita di depannya susah bisa menebak perlakuan mereka terhadap Carmila.
Walau di kehidupan ini Elena tidak mengetahui apapun, tapi di sisa nafasnya, ia benar-benar ingin mengatakan dengan tulus, "Aku benar-benar minta maaf" ucap Elena dan menghembuskan nafas terakhirnya.
Valia yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas dengan kasar, ia seperti menolak memasukkan kedalam hati perkataan Elena.
"Ibu, satu parasit sudah aku bereskan, sisanya hanya menunggu waktu saja, jadi ibu tidak perlu khawatir, karena aku akan tetap berusaha menghalangi mu untuk bersama dengan pria brengsek itu." ucap Valia sambil mendongakkan wajahnya keatas.
Valia memotong tali yang mengikat kedua tangan Elena, lalu ia menggendong tubuh dan mengangkut kedua kaki Elena.
Valia melempar kedua kaki itu kedalam mobilnya, lalu ia juga melempar tubuh Elena, lalu Valia memasang earphone nya dan menghubungi Xander.
Ketika panggilan itu tersambung, Valia terlihat tersenyum, "Paman, aku seseorang di gudang terbengkalai yang ada di pinggir hutan, tapi tubuhnya akan ku bawa ke rumahnya, apa paman tidak masalah dengan itu?," tanya Valia sambil menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Tidak apa-apa, bawahan paman akan mengurus gudang itu, tapi kenapa kau membawa tubuhnya?," tanya Xander dari ujung sana.
Xander yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas, "Hah, dasar kau ini, kirim kan saja alamat nya, agar paman bisa menghapus sidik jari mu," ucap Xander sambil mematikan panggilan itu.
"Maaf, karena sudah merepotkan paman," gumam Valia kecil sambil melepas earphonenya dan ia langsung memberikan lokasi itu pada Xander.
Setelah beberapa jam, akhirnya Valia telah sampai di rumah Granov, tapi Valia menghentikan mobilnya sedikit jauh dari pekarangan rumah Granov.
Dari kejauhan, Valia melihat Granov keluar dari rumah sambil tertawa dengan Karin, "saat ini kalian bisa tertawa sepuasnya, tapi untuk kedepannya, kalian akan merasakan kesedihan yang sangat mendalam, aku akan menantikan itu," gumam Valia sambil menatap tajam kearah Karin dan Granov.
Dari kejauhan, Xander bisa melihat mobil Valia yang tengah terparkir di pinggir jalan, ia pun keluar dari mobilnya dan mengetuk pintu mobil Valia.
Vali yang melihat Xander langsung membuka pintu mobil itu, "sekarang waktunya bekerja paman," ucap Valia sambil keluar dari mobil dan membuka jok belakang mobil.
Xander ikut melihat bagaimana keadaan Mayan Elena, ia bahkan terkejut melihat kedua kaki Elena sudah terpisah dari tubuhnya.
__ADS_1
Lalu Xander melihat kearah Valia, "apa ini benar-benar kau yang melakukannya sendiri Valia?," tanya Xander untuk memastikan lagi.
Xander masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, ia yang sudah melihat mayat-mayat sebelumnya tetap saja masih tidak percaya bahwa keponakannya yang telah melakukannya.
"Apa paman masih tidak percaya bahwa aku yang melakukannya?," tanya Valia sambil melihat kearah Xander.
Xander yang mendengar perkataan Valia mulai memegang dahinya dengan satu tangan, "Tidak, paman hanya tidak menyangka bahwa keponakan paman bisa sesadis ini, padahal kami melihat mu sebagai anak baik dan polos, tapi siapa sangka bahwa kau anak yang pendendam dan mengerikan seperti ini," ucap Xander sambil menutup matanya dan membuatnya kembali.
Valia yang melihat reaksi sang paman hanya bisa tertawa kecil, "haha ... untuk selanjutnya paman harus terbiasa dan aku pasti akan selalu meminta pertolongan paman," ucap Valia di sela tawanya.
Xander kini melihat kearah Valia, ia merasa di permainkan oleh keponakannya itu, "Dasar kau anak nakal," ucap Xander sambil menyentil dahi Valia.
Valia terkejut karena Xander menyentil dahinya, ia baru pertama kali merasakan hal seperti itu, karena biasanya ia hanya mendapat pukulan yang begitu kasar.
"Apa kau tidak ingin melebur tubuh mereka Valia?," tanya Xander sambil melihat kembali kondisi mayat itu.
"Tidak paman, aku ingin mereka merasakan sakit yang luar biasa, sampai mereka tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi, aku ingin mereka terpuruk sedalam-dalamnya bahkan mungkin tidak bisa untuk berdiri tegak lagi," ucap Valia sambil menggenggam kuat kedua tangannya.
Sedangkan Xander menoleh kearah Valia, dan ia bisa melihat bahwa keponakannya itu benar-benar dendam pada orang-orang yang membulinya.
Xander hanya berpikir bahwa keluarga itu pernah membuli Valia, tapi dia tidak tau bahwa keluarga itu adalah orang dari masalalu jiwa yang telah masuk kedalam tubuh keponakannya.
"Sudah, kau tidak perlu mengingatnya, kita memang harus memberi mereka pelajaran, agar mereka tau bahwa orang yang mereka usik bukanlah orang sembarangan," ucap Xander yang berusaha menenangkan Valia.
Valia mengangguk dan ia mulai berpikir, "jika paman mengetahui bahwa aku adalah jiwa asik yang masuk tubuh Valia, maka apa yang akan paman lakukan?, dan jika paman mengetahui bahwa keluarga ini tidak ada sangkut pautnya dengan pembulian itu, maka apa yang akan paman pikirkan?," batin Valia yang mulai memikirkan perasaan Xander.
Valia mulai sedikit mulai memikirkan tentang dirinya yang telah masuk ke tubuh Valia asli, ia takut keluarga Valia akan marah padanya dan akan tidak menyukainya, karena bagaimanapun dia hanya jiwa asing yang masuk kedalam tubuh anak mereka.
Bersambung ...
__ADS_1