Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Tuduhan tak Berdasar Namun Benar


__ADS_3

Setelah polisi itu pikirkan, ia pun langsung menghubungi temannya, setelah panggilan itu tersambung Ia pun langsung mengucapkan tujuannya.


"Geril, apa kau memegang kasus yang bernama Elena?,"


"Benar, aku sedang memegang kasus itu, tapi kenapa kau menghubungiku, Ferry?,"


"Beritahu padaku apa yang sudah kau dapatkan dari hasil penyelidikan mu itu?"


Geril yang mendengar itu merasa sangat binggung, tapi ia mau tidak mau tetap mengatakan segala yang di dapatkannya pada Ferry, "Kami tidak menemukan bukti apapun tentang pelaku, dan sebelah dari kaki Elena juga tidak bisa kami temukan, tapi ada satu yang yang membuat kami curiga, di sekitar Jasad Elena terdapat cairan coklat dan kami sedang menyelidiki itu, sementara iri hanya ini saja yang aku tahu, memangnya ada apa?"


"Sepertinya kasus yang sedang kau pegang saling berhubungan dengan kasus ku, karena semua kasus yang sedang aku tangani sama sepertimu, aku tidak menemukan jejak apapun," ucap Ferry sambil menatap tajam lurus kedepan.


"Apa?!, kau yakin?," teriak Geril tidak percaya.


Ferry pun langsung menutup panggilan itu dan menatap kearah Granov, "Sepertinya semua ini saling berhubungan, dan jika ada perkembangan lainnya, aku akan segera memberitahu mu," ucap Ferry dengan meninggalkan Granov yang berdiri seperti patung.


"Siapa kau sebenarnya!" geram Ferry yang sudah tidak kuasa menahan amarahnya.


Granov berbalik dan pergi dari tempat itu, dalam langkahnya ia terus berpikir untuk menemui teman-teman Elena kembali, ia bahkan yakin bahwa dari mereka pasti tau tentang sesuatu.


...****************...


Kaliandra kini sudah berada di depan pintu kelas Valia, seluruh mahasiswa yang ada di kelas itu terkejut melihat sang ketua osis berada di kelas mereka.


Kelas itu tampak terlihat sangat riuh, teriakan demi teriakan terdengar begitu keras, Nero bahkan terkejut melihat temannya menghampiri mereka, sedangkan Valia hanya menetap keluar kaca tanpa memperdulikan teriakan.


Kaliandra yang berdiri di depan pintu pun mulai menyapu pandangannya ke seluruh kelas. Dan sekarang mata itu terhenti di atas sudut kelas.


Kaliandra mulai melangkah keatas dan mendekati wanita yang tengah memandang keluar jendela, "Valia, bisa ikut dengan ku sebenar?," ucap Kaliandra dengan mencoba mengajaknya keluar.

__ADS_1


Valia yng mendengar itu mulai menoleh, ia terlihat tengah mengernyitkan dahinya, tapia Valia tidak mengeluarkan suara dan hany mengangguk.


Valia pun berdiri dan saat keduanya tengah turun bersama, Kaliandra menepuk pundak Nero yang duduk di lantai ke tiga, "Kau juga ikut aku," ucap Kaliandra sambil berjalan terlebih dahulu.


Nero tampak sangat binggung, ia pun melihat kearah Valia dan saat pandangan keduanya saling menatap satu sama lain, Valia langsung mengangkat kedua pundaknya dan menggelengkan kepala yang mengartikan bahwa dirinya sendiri tidak mengetahui apapun.


Nero yang mengerti kode itu pun hanya bisa menghela nafas, "kenapa Kaliandra memanggil kami berdua?" batin Nero yang sedikit penasaran.


Mereka berdua pun mulai turun sambil mengikuti langkah Kaliandra, sedangkan di kelas mereka semakin heboh karena Nero dan Valia di panggil secara bersamaan.


"Tolong hubungi Carmila dan datanglah ke kantor rektor, karena semua ini berhubungan dengan kedua mahasiswi itu," ucap Kaliandra yang memberitahukan maksud dan tujuan pada Nero dan Valia.


Valia yang mendengar itu pun langsung mengeluarkan ponselnya dan mengirim sebuah pesan pada Carmila.


[Carmila, tolong datang ke kantor rektor].


Setelah itu Valia menyimpan Ponselnya kembali, ia bahkan terlihat santai dan tidak merasa takut sama sekali.


Sedangkan Nero berpikir bahwa mereka sekarang hanya untuk dimintai keterangan saja oleh Rektor, jadi ia hanya berjalan sambil mengikuti arus.


Setelah sampai di ruangan rektor, ketiganya pun masuk kedalam dan di sana sudah terlihat Carmila tengah duduk menunggu mereka bertiga.


Renzo yang melihat ketiganya berkumpul kini menyuruh mereka semua duduk di sofa. lalu ia pun mulai mengambil sebuah mic dan membuat pengumuman yang meliburkan kampus selama satu minggu penuh.


Suara teriakan mulai terdengar di seluruh gedung, para mahasiswa itu pun mulai berbondong-bondong membawa tubuh mereka keluar dari kampus.


Setelah itu, Renzo pun menaruh mic nya kembali dan sesekali mata Renzo menatap Valia sambil tersenyum tipis, sedangkan Valia justru sudah merasakan tatapan itu, tapi ia berpura-pura untuk tidak memperdulikannya.


"Aku hanya akan berbicara ke intinya saja," ucap Renzo sambil memperhatikan

__ADS_1


"Aku ingin kalian menceritakan kejadian yang sebenarnya padaku, dan jangan ada satupun yang ditutup-tutupi," ucap Renzo sambil menatap keempat orang itu.


Carmila pun mengangguk dan mulai menceritakan seluruh kejadian yang terjadi pada mereka.


Rektor pun mulai mengernyitkan dahinya, wajahnya tampak terlihat sangat binggung, tapi berbeda dengan hatinya yang tengah bersorak karena berpikir berhasil membuat Valia menjadi kambing hitam.


"Berhenti, kau mengatakan dia pergi ke toilet?" ucap Rektor sambil menaikkan satu tangannya untuk menghentikan pembicaraan Valia.


Carmila pun mengangguk, "benar," ucap Carmila tanpa ragu.


Kini mata Renzo, Kaliandra, Nero dan Carmila menetap kearah Valia, sedangkan Valia justru tengah menyandarkan punggungnya ke sofa dan terlihat sangat santai.


Valia melihat mereka semua tengah menatapnya, Lalau ia pun menegakkan tubuhnya sambil melihat kearah Renzo, "Benar, aku awalnya pergi ke toilet, tapi setelah selesai aku langsung menemui seorang dosen untuk mengumpulkan sebuah tugas," ucapnya dengan andai santai.


"Tidak mungkin!, karena ucapan mereka sebelumnya pasti membuatmu tersinggung dan pasti kau lah pelaku itu sendiri," ucap Renzo sambil menunjuk kearah Valia.


Lalu Renzo pun segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi polisi yang tengah bertugas di kampus itu.


Valia yang mendengar itu memutar bola matanya dengan malas, "Jika kau tidak percaya denganku, maka kau bisa membuktikannya sendiri," ucap Valia dengan santai.


"Tidak!, kau harus segera di adili," teriak Renzo sambil bangkit dari kursinya dan menunjuk kearah Valia.


Carmila melihat Renzo dengan tatapan heran, ia melihat kali ini Renzo terlalu terburu-buru untuk memutuskan sang pelaku, sedangkan ia bahkan sangat percaya bahwa Valia tidak akan bisa melakukan hal sekecil itu.


"Tapi pak, bisakah bapak mendengarkan perkataan Valia terlebih dahulu?, jika seperti itu bukankah bapak menuduhnya tanpa dasar yang jelas?, bahkan bapak menuduhnya tanpa adanya bukti yang akurat," ucap Carmila yang tidak terima mendengar tuduhan Renzo pada Valia.


Renzo yang mendengar itu mulai melihat kearah Carmila, "buktinya adalah dia juga berada di kamar mandi, dan itu sudah cukup untuk sebuah bukti," ucap Renzo dengan tegas.


Nero dan Kaliandra yang mendengar itu mulai mengeryitkan dahi mereka, "bapak tidak bisa melakukan hal itu pada Valia, kita harus melihat bukti terlebih dahulu agar kita tau siapa dalang di balik pembunuhan berantai ini," timpal Kaliandra.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2