
Lalu keduanya mulai menatap kearah Valia, Carmila teringat akan sesuatu, "bukankah kau tadi pergi ke toilet?," tanya Carmila dengan dahinya sudah berkerut bahkan sudah hampir menyatu.
"Benar, tapi aku tidak jadi pergi kesana, karena aku sedang mengejar dosen, bukankah kau lihat sendiri betapa berantakannya aku?, bahkan ketiak ku sudah basah karena aku berlari ke sana dan ke mari," ucap Valia sambil memperlihatkan ketiaknya pada Carmila.
Carmila yang mendengar itu memutar bola matanya dengan malas dan ia pun langsung menurunkan tangan Valia, "dasar jorok, berhentilah memasarkan ketiak mu," ucap Carmila dengan kesal.
Valia yang mendengar itu mulai tertawa geli, "beruntung aku membasahi ketiakku, jadi aku bisa membuat alasan yng sangat masuk akal," batin Valia sambil tersenyum kearah Carmila.
Nero tidak henti-hentinya tertawa melihat tingkah kedua wanita itu, ia bahkan tidak menyangka Valia mampu membuat lelucon yng begitu lucu.
Lalu tiba-tiba saja mereka mendengar suara siren ambulan, para mahasiswa itu bergegas membuka untuk para perawat yang tengah berjalan kearah mereka.
Kaliandra berdiri dan mengehentikan salah satu perawat, "suster, tolong bantu dia, sepertinya dia benar-benar syok," ucap Kaliandra sambil menunjuk kearah mahasiswi yang tengah terduduk dengan tubuh yang masih bergetar hebat.
Perawat itu pun mengangguk dan ia pun dengan segera membantu mahasiswi itu berdiri dan membawa nya masuk kedalam ambulan.
"Ke sini," ucap polisi itu sambil menuntun para perawat untuk masuk kedalam toilet.
Lalu perawat lainnya pun mengikuti polisi itu, dan Kaliandra juga ikut masuk kedalam.
Sesampai di dalam, perawat itu memeriksa keadaan Zewina dan Fallen, lalu perawat itu melihat kearah polisi dan juga Kaliandra, "nadinya cukup lemah, sebaiknya cepat bantu kami untuk mengangkatnya, dan tolong untuk mengangkat tubuh mereka secara perlahan," ucap perawat itu sambil bersiap-siap mengangkat tubuh Zewina.
Sedangkan polisi dan Kaliandra yng mendengar itu pun langsung mengangguk, mereka perlahan-lahan mengangkat tubuh Fallen.
Fallen yang masih memiliki kesadaran mulai tersenyum, "kenapa harus disaat seperti ini senior baru terlihat begitu perhatian," batin Fallen yang perlahan-lahan menutup matanya.
Ketika keduanya di bawa keluar, Carmila begitu sangat terkejut ketika melihat wajah korban itu.
"Zewina!"
__ADS_1
Lalu korban kedua pun di bawa keluar oleh perawat, lagi-lagi Carmila harus di kejutkan dengan wajah korban selanjutnya.
"Fallen!"
Carmila menyebutkan nama mereka satu persatu, membuat Kaliandra yang baru saja keluar dari toilet mencari sumber suara itu.
Kaliandra pun melihat Carmila tampak begitu khawatir, ia pun langsung menghampiri Carmila, "bisa kita bicara sebentar?," tanya Kaliandra pada Carmila.
"Tidak, dia sedang bersama kami, jadi kau tidak boleh membawanya," ucap Valia sambil bergelayut manja di lengan Carmila.
Kaliandra tampak begitu terkejut melihat Valia berada di samping Carmila, bahkan ia juga melihat sosok Nero di samping Carmila.
"Tolong bantu aku, ku hanya ingin menanyakan tentang mereka, karena aku memiliki tanggung jawab di kampus ini," ucap Kaliandra dengan pelan, ia bahkan menunjukkan tatapan hangat pada Valia.
Sedangkan para mahasiswa itu terkejut melihat Kaliandra kembali dekat dengan Valia.
Valia pun menghela nafas dengan pelan, ia merelakan Carmila pergi dengan Kaliandra, "baiklah, aku mengizinkannya," ucap Valia sambil melepaskan tangannya dari lengan Carmila.
Carmila tampak terlihat kebingungan, Lalau ketika mendapat izin dari Balai, ia pun langsung menoleh kearah Nero dan Valia, "Aku pergi dulu," ucap Carmila sambil berjalan meninggalkan keduanya.
"Aku menghargai jabatan mu di kampus ini, dan lagi pula kau tidak akan pernah menemukan bukti apapun." batin Valia sambil menatap punggung Kaliandra.
Sedangkan polisi itu mulai membubarkan para mahasiswa, ia pun langsung memasang garis polisi di area toilet.
para mahasiswa membiarkan diri, begitu juga dengan Valia dan Nero, mereka bahkan jalan beriringan untuk menuju kelas mereka.
"Ini benar-benar membingungkan, sebenarnya siapa kau?, apa yang kau inginkan dari para korban," gumam polisi itu sambil memijit kepalanya yang sakit.
Lalu para polisi lainnya pun baru saja tiba, mereka terus mencari bukti-bukti yang ada di toilet itu, tapi mereka tidak menemukan jejak apapun.
__ADS_1
Seorang polisi mulai mengeram marah, "Sial!, kenapa kasus ini juga tidak meninggalkan jejak apapun!" teriak polisi itu dengan sangat frustasi.
Sekarang ini, ia tengah mengusut kasus orang meninggal yang di temukan di lorong, lalu ia juga mendapat kasus Asra, serta kasus daging yang di temukan di ruangan Gleni, dan sekarang ia mendapat kasus yang ada di toilet kampus.
"Apa semua korban ini dibunuh oleh pelaku yang sama?" gimana polisi itu sambil berpikir terus menerus.
Lalu sang teman juga ikut memberikan pendapat, "aku juga berpikir yang sama, karena setiap kita mengusut kasus itu dan mencari sebuah bukti pasti kita tidak menemukan apapun. Kemungkinan orang yng membunuh mereka adalah orang yang sama," ucap polisi lainnya.
lalu polisi itu pun melihat kearah temannya, "tapi apa motifnya?, pertama kita menemukan para bandit yang mati sangat mengenaskan, lalu kedua kita menemukan jasad Asra yang juga mengerikan, lalu sekarang kita di hadapkan dengan daging yang kita sendiri belum tau milik siapa, dan sekarang kedua mahasiswi itu," gumam polisi itu sambil terus memijit kepalanya yang mulai terasa sakit.
"Memangnya ada apa dengan ke dua mahasiswi itu?" tanya polisi lainnya.
Polisi itu pun menghela nafas dengan kasar, "Kedua tangan mereka di hancurkan, serta kedua lidah mereka juga ikut di potong, aku sudah mencari potongan lidah mereka, tapi aku tidak menemukan apapun," ucap polisi itu dengan kesal.
"Sudah ada 4 kasus pembunuh yang aku pegang saya ini, tapi aku tidak bisa menemukan bukti apapun di tempat lokasi kejadian," ucap polisi itu dengan kesal.
Sebagai polisi, jika dirinya tidak bisa menemukan bukti kejahatan sang pelaku, membuat ia berpikir bahwa dirinya benar-benar tidak berguna.
"Sial!, sial!, kenapa aku benar-benar tidak berguna seperti ini," ucapnya sambil memukul dinding dengan sangat kuat.
Ia berguru kesal karena tidak bisa menemukan bukti apapun, lalu tiba-tiba saja, ia teringat akan sesuatu.
Ia pun masuk kembali kedalam toilet dan memeriksa satu persatu closet yang ada disana.
"Jangan-jangan pelaku itu membuang lidah mereka kedalam closet?" gumam sang polisi sambil meneliti setiap closet yang di bukanya.
Lalu ia pun memeriksa sidik jari yang menempel disana, dan semua itu sungguh sangat sia-sia.
Bersambung ...
__ADS_1