
Xander terkejut melihat langsung seperti apa keganasan Valia, ia sungguh menggelengkan kepalanya.
"Apa dia keponakanku yang selalu tertindas itu?, sepertinya dia memang lah keponakanku. tapi, setelah aku melihat bagaimana daging itu tercincang, membuatku ragu bahwa dia adalah keponakanku," batin Xander yang benar-benar ragu dengan penglihatannya.
Faktanya setiap pembunuhan yang di lakukan Valia, para polisi itu justru memanggil Xander untuk mengotopsi jasad-jasad itu.
Ketika Xander melihat jasad itu, ia benar-benar terkejut, bahkan masih menyangkal bahwa pelakunya bukan Valia.
Tapi lambat laun ia sudah terbiasa dengan melihat jasad yang telah di bunuh Valia, hanya satu jasad saja yang diurus oleh bawahannya, yaitu jasad Gleni.
Sampai saat ini Xander tidak mengetahui seperti apa bentuk jasad itu, tapi tiba-tiba saja seorang polisi kembali menghubungi Xander untuk mengotopsi daging yang di temukan di kampus.
Xander mulai teringat dengan perkataan bawahannya, bahwa Valia tengah kembali ke kampus, awalnya ia ingin menolaknya karena masih memiliki banyak pekerjaan, tapi Xander justru penasaran dengan perbuatan Valia, jadi ia pun menyetujui dan melihat lagi bagaimana hasil permainan Valia.
Setelah mengingat hal itu, ia pun langsung bergidik ngeri. "Keponakanku yang imut telah berubah sangat banyak, aku jadi benar-benar merindukan Valia yang dulu," batin Xander.
"Ka-kalian!, jangan-jangan semua ini memang ada hubungannya dengan kalian?!" teriak Renzo dengan keras.
"Jasad Asra, jasad Gleni, dan kedua mahasiswi, semua itu adalah perbuatanku, bahkan sekarang aku menambah korban baru, yaitu kau!," ucap Valia sambil menetap Renzo dengan tajam.
"Pertama Asra mengganggu waktu dengan Carmila, kedua ibu Gleni menyuruh bandit untuk menabrak aku dan Carmila, ketiga Fallen dan Zewina merencanakan untuk menghancurkan Carmila, keempat kau ingin memegangnya. Kenapa kalian sangat tertarik dengan Carmila, aku sungguh tidak menyukai hal itu, karena Carmila adalah batas dari kesabaranku," lanjut Valia sambil melangkahkan kakinya mendekati Renzo.
Xander yang mendengar itu merasa sedikit heran, "Apa maksud perkataannya itu?," batin Xander.
__ADS_1
Tapi Xander tidak mengatakan apapun, ia memilih untuk diam dan terus melihat permainan yang sedang Valia mainkan.
Karena biasanya, Xander hanya mengurus jasad mereka tanpa melihat Bagiamana Valia menghabisi mereka, dan kali ini kesempatan itu datang pada Xander dan membuatnya melihat seperti apa wajah asli keponakannya itu.
Lalu Valia pun langsung melempar sebilah pisau kecil itu tepat kearah mata Renzo.
Takkk
Aarrghh
Renzo tampak berteriak keras, ia merasakan sakit yang luar biasa lalu dengan cepat Renzo mencabut pisau itu dari matanya lalu ia menutupi mata itu dengan kedua tangannya.
Sedangkan Xander terperanjat kaget melihat Lemparan Valia begitu sangat akurat, seketika saja Xander terlihat mengernyitkan dahinya.
Rein sedari tadi hanya berdiri di depan dengan membelakangi mereka semua, tapi setelah mendengar teriakan itu, ia pun menoleh kebelakang dan matanya langsung membulat dengan sempurna.
"Apa nona yang pemalu itu memang sekejam ini?," batin Rein yang benar-benar tidak menyangka dengan pemandangan yang ada di depannya.
Xander terus saja memandangi pergerakan Valia, di hatinya mengatakan bahwa ada yang janggal dengan perubahan Valia, tapi ia sendiri tidak mengetahui apa yang janggal itu.
"Teka-teki yang sangat sulit di pecahkan," batin Xander sambil melipat kedua tangannya.
Valia kembali mengambil pisau itu, ia bahkan tidak perduli dengan darah yang menempel di benda itu, baginya, benda kecil itu adalah alat yang sudah membantunya, jadi ia harus menggunakan itu sampai orang yang ada di depannya tiada.
__ADS_1
"Hentikan!, hentikan!" teriak Renzo dengan berteriak keras.
Valia yang mendengar itu mulai memutar bola matanya dengan malas, "aku juga sudah mual mendengar kata itu. Apa kau tidak bisa mengatakan hal yang lain?, seperti ...." perkataan itu di jeda olah Valia lalu ia pun melanjutkan perkataannya lagi, "tolong sayat saja tubuh ku sesuka hatimu, atau kau bisa mengambil bagian tubuh manapun yang kau inginkan. Bukankah kalimat itu sangat menakjubkan?, dan itu sungguh beda dari yang lain," saran Valia pada Renzo.
Xander yang mendengar itu tertawa kecil, ia tidak menyangka bahwa Valia bisa mengeluarkan sebuah candaan yang sangat mustahil untuk di ucapkan oleh para korban.
Sedangkan Rein tangah menganga dengan lebar, ia sungguh tidak menyangka Valia bis membuat lelucon di tengah posisi hidup dan mati sang korban.
Renzo yang mendengar itu merasa kesal, ia sungguh sangat kesal tapi ia tak ingin Valia berbuat lebih padanya.
Renzo pun merangkak dan bersujud di kaki Valia, "Nona, tolong ampuni aku, aku berjanji untuk tidak menyentuh Carmila lagi," ucap Renzo sambil memohon ampun.
Vali pun berjongkok dan ia mendekatkan daun telinganya pada Renzo, "Apa?!, kau ingin lagi?" ucap Valia sambil melihat kearah Renzo.
Renzo tampak terkejut mendengar perkataan Valia, lalu ia juga tidak sempat menghindari tangan Valia.
Valia yang sangat marah menggoreskan pisau kecil itu di dahi Renzo.
Arghhh
Renzo pun memundurkan tubuhnya, ia bahkan tampak terkejut.
"Sudah aku katakan bahwa aku muak mendengar kata-kata itu," ucap Valia dengan menatap Renzo dengan tajam.
__ADS_1
Bersambung ...