Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Perlawanan Valia


__ADS_3

Jika orang-orang yang ada di kelas itu tengah menatap kasihan kepada Rila, maka ada seseorang yang tengah menatap Valia dengan datar.


Tapi ia tidak ikut campur dengan perbuatan Valia, ia tidak memunculkan dirinya dan terus memantau Valia, bahkan ia juga melihat punggung itu menghilang dari ruang kelas.


Seseorang tengah menerobos masuk, dan para mahasiswa mulai menyingkir satu persatu, "ada apa ini?," tanya dokter yang sangat terkejut melihat darah sudah berceceran kemana-mana.


"Kak, tolong bantu aku membawa mereka ke tempat mu" ucap sang dosen dengan wajah panik.


Dokter yang bernama Delna melihat kearah adiknya yang sangat panik, ia pun mulai menoleh kearah mahasiswa yang tengah menonton.


"Tolong bantu untuk mengantar mereka berdua ke ruang kesehatan" ucap Delna yang berbicara dengan nada tinggi.


Mereka yang menonton kini berbondong- bondong mengantar Rila dan Jian, darah terus menetes tanpa henti dengan bolpoin yang masih menancap di tangan Rila.


"Sakit" ucap Rila sambil menangis.


Para mahasiswa yang berada di lorong terkejut dengan melihat bolpoin yang menancap di tangan, mereka bahkan bergidik ngeri.


"Kenapa bolpoin itu bisa menancap di tangannya?"


"Apa itu perbuatan seseorang?"


"Jika itu benar, maka siapa yang berani menyinggung mereka yang notabennya adalah anak dari orang berpengaruh di kampus ini?"


"Benar, tapi bagaimana mungkin?, bukankah wanita itu adalah anak dari salah satu pemegang saham di kampus ini?,"


Suasana lorong kampus begitu riuh, para mahasiswa pun mulai bertanya-tanya siapa orang yang berani berbuat hal semengerikan itu pada Rila.


Sedangkan orang yang telah melakukannya kini duduk di rerumputan hijau dengan santai "apa kau tidak bisa melawan mereka sedikit pun?, padahal kau juga memiliki latar belakang yang luar biasa, tapi, bisa-bisanya kau tidak memamerkannya pada mereka?" gumam Valia.


Angin berhembus dengan pelan, namun bisa membuat rambut pendek Valia terus berterbangan tanpa henti, wajah yang berbentuk oval itu terus menatap langit.


Hidung mancung itu terus mengelap nafas dengan pelan, sedangkan bibir tipis semerah cherry itu terus bergumam tanpa henti.


Tiba-tiba saja ia tersenyum mengejek "Apa kau lupa Silyena, bahwa kau juga dulunya tidak bisa berbuat apapun sampai ibu tiada" gumamnya sendiri sambil mengingat kenangan pahit itu.


"Padahal aku mempelajari ilmu beda diri, bahkan aku sudah memenangkan berbagai lomba tingkat internasional, tapi aku berlagak bodoh dan seperti tidak berpengetahuan di depan nya, bukan kah kau sama saja seperti Valia?" lanjutnya lagi.


Silyena adalah orang yang sangat cerdas, sedari kecil dirinya mengikuti seni bela diri dan mengikuti pelatihan-pelatihan, seperti militer.

__ADS_1


Awalnya, Silyena mencoba menunjukkan bahwa dirinya bisa membanggakan sang ayah, tapi siapa sangka bahwa Granov justru tidak memperdulikan itu.


Dan karena sangat mencintai sang ayah, ia bahkan berpura-pura menjadi wanita lemah dan tak berdaya agar sang ayah bisa meliriknya, tapi semua yang dilakukan silyena seolah tidak terlihat oleh Granov, bahkan ayahnya terus menyiksanya dan memukuli tanpa henti.


"Benar-benar bodoh" gumamnya lagi sambil menutup matanya dan membukanya kembali.


Lalu seseorang memanggil Valia dari kejauhan, Valia yang mendengar itu mulai menoleh ke belakang.


"Valia!"


Lalu orang itu pun mulai mendekati Valia "Kau di panggil untuk menghadap rektor" ucap orang itu dengan nafas terengah-engah.


Valia tidak menyangka bahwa mereka dengan cepat menyuruhnya menghadap rektor "Haa ... ini menyebalkan" gumam Valia sambil berdiri dan mengibaskan rumput yang menempel di pakaiannya.


"Terimakasih" ucap Valia datar sambil berjalan meninggalkan orang itu sendirian.


Orang itu terkejut melihat Valia menatapnya dengan datar, biasanya Valia selalu menunduk ketika melihat orang yang ada di depannya.


Orang itu menatap punggung Valia, ia sedikit ragu untuk mengeluarkan pendapatnya, tapi mu tidak mau ia harus mengeluarkannya agar Valia tidak salah mengambil langkah "Valia, yang kau lakukan ini salah" ucap orang itu dengan ragu.


Valia yang mendengar perkataan itu langsung menghentikan langkah nya "Jika yang aku lakukan salah, lalu apa kau pikir yang sudah kau lakukan itu benar?, dan yang mereka lakukan juga benar?, kau bahkan hanya menonton ketika mereka merundung ku, apa itu yang kau sebut benar?. Lucu sekali" ucap Valia sambil memutar kepalnya sedikit dan melirik orang itu dengan tajam.


Orang itu tampak terdiam, ia tidak menyangka kini Valia bisa mengeluarkan kata-kata yang begitu pedas padanya, bahkan semua yang di katakan Valia adalah sebuah fakta yang tak bisa di elaknya.


Orang itu menunduk dan menghela nafas kasar "maafkan aku, aku sungguh tidak bisa melakukan apapun, karena ini adalah kekuasaan mereka" gumam orang itu dengan sedih.


Setelah Valia sampai di ruang rektor, ia pun langsung membuka pintu itu dan di saat yang bersamaan sebuah Gelas kaca tengah melayang kearahnya.


Valia yang memiliki ilmu beladiri langsung menangkisnya dan gelas itu pun pecah karena mengenai dinding.


Prakkk


Mata semua orang tengah melotot melihat aksi Valia, hal itu sungguh membuat semua orang yang ada di dalamnya terkejut.


"Bagaimana dia bisa melakukannya?," batin Rila yang masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Dia seperti bukan Valia yang penakut itu, kenapa bisa seperti ini?" batin Asra sambil menoleh kearah Jian dan Rila yang masih melototkan mata mereka.


Sedangkan Jian semakin marah melihat Valia mulai semakin berani terhadap dirinya, "kemana perginya Valia yang penakut dan pendiam itu?, bagaimana dia bisa berubah menjadi sangat berani seperti ini?" batin Jian

__ADS_1


"Kau!, kenapa kau melakukan hal itu pada Rila?, dia tidak melakukan kesalahan apapun padamu" ucap rektor itu dengan nada tinggi.


Valia mulai melihat ruangan itu, disana sudah ada Delna, Rila, Jian, Asra serta Gleni selaku dosen yang sedang mengajar saat itu.


Ia melihat bahwa mereka semua tengah tersenyum melihat Valia dimarahi oleh rektor.


"Kau mengatakan tidak melakukan kesalahan?, lalu apa ini?" tanya Valia sambil memegang sebuah bolpoin yang bisa merekam suara seseorang.


Rekaman itu mengeluarkan suara Jian yang tengah menghinanya, sedangkan kelima orang itu tengah terkejut dengan bukti yang di bawa oleh Valia.


"Bohong!, pasti kau susah mengeditnya" ucap Jian dengan marah.


Sedangkan rektor yang mendengar perkataan Jian semakin memarahi Valia "Beraninya kau berbohong padaku!" teriak rektor itu.


"Haha ... ini menarik" ucap Valia di sela tawanya.


"Apa yang sedang kau tertawakan?" teriak rektor itu sambil mengambil sebuah gunting yang ada di atas mejanya dan langsung melemparnya kearah Valia.


Valia langsung menangkap Gunting itu dan langsung menusuk lengan Asra yang tepat berdiri didepannya.


Arrrgghh


Asra berteriak keras, ia pun langsung memegang lengannya dengan tangan lainnya.


"Asra" teriak keempat orang itu secara bersamaan.


Sedangkan sang rektor benar-benar sangat marah "Beraninya kau melakukan hal ini di depanku!" teriak sang rektor.


Valia mengerutkan dahinya "Tentu aku tidak berani, karena itu aku langsung mengembalikan nya pada kalian" ucap Valia sambil tersenyum smirk.


"Mulai sekarang kau tidak perlu datang ke kampus ini lagi!, karena aku akan menghapus nama mu dari kampus ini" teriak rektor ini


"Baiklah, kalau begitu, aku akan menjamin rekaman ini akan tersebar ke media, aku ingin lihat, sampai kapan kalian bisa lolos dari ujaran kebencian media" ucap Valia sambil berbalik dan ingin melangkahkan kakinya keluar.


Jian terkejut mendengar perkataan itu, kalau ia pun langsung menghentikan Valia "Tunggu!, aku akan menganggap masalah ini telah selesai, sekarang berikan rekaman itu padaku" ucap Jian sambil mendekati Valia.


"Bukankah kau baru saja mengaku bahwa aku telah mengedit rekaman itu?, lalu kenapa sekarang kau terlihat sangat ketakutan?, sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Valia dengan nada mengejek.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2