
Jian yang mendapat tatapan dingin itu merasa terintimidasi, bahkan para mahasiswa yang baru saja datang, juga ikut merasakan hawa dingin di sekitar mereka.
Mereka bisa melihat bahwa Valia benar-benar marah, Valia mengambil sebuah pisau yang ada di meja temannya dan langsung melemparkannya arah Jian.
Arrrggghhh
Mereka semua yang melihat itu langsung berteriak keras, karena mereka melihat lemparan itu seperti tepat sasaran dan jika terkena pasti akan terasa sakit.
Dan siapa sangka bahwa lemparan itu sedikit meleset sehingga mengenai layar lebar yang ada di atas kepala Jian.
Trackk
Layar lebar itu pecah dan membuat para mahasiswa dengan spontan menutup mata dan telinga mereka.
Lalu mereka membuka mata "Kesabaranku ada batasnya, jika kau tidak ingin melakukan taruhan itu lalu kenapa kau mengajukan syarat seumur hidup padaku?" ucap Valia dengan melototkan matanya.
Para mahasiswa itu tidak berani membuka suara mereka, karena kali ini adalah taruhan yang benar-benar di luar dari akal sehat.
Jian tampak terlihat ketakutan, ia berpikir bahwa dirinya akan mati oleh pisau yang di lempar Valia, ternyata tidak dan hal itu membuat Jian tampak gugup sehingga membuat mata Jian melihat ke arah lain "A-aku ... aku ..." ucap Jian dengan gugup.
Valia kini melangkahkan kakinya ke bawah dengan pelan, lalu ia berjalan mendekati Jian, setelah berada di depan Jian, Valia memajukan wajahnya.
"Kau!, harus mendapatkan hukuman atas apa yang telah kau lakukan padaku dulu," ucap Valia sambil memegang rambut panjang Jian dan menyeretnya.
Arrgghh
Jian terkejut ketika Valia menarik rambutnya dengan sangat kuat, "Lepaskan!" teriak Jian sambil memukul tangan Valia dengan tangannya
"Lepaskan aku!" teriak Jian lagi dengan keras.
Para mahasiswa itu terkejut ketika melihat Jian di seret dengan cara yang tidak biasa, bahkan Rila sendiri menutup mulutnya, ia mulai mengingat bagaimana mereka memeperlakukan Valia dengan kasar.
Jian merasakan kulit kepalanya akan lepas, ia bahkan memegang kepalanya yang terasa begitu sakit.
__ADS_1
Apa yang di lakukan Valia sekarang ini adalah kilas balik dari apa yang Jian lakukan padanya, Valia asli yang dulu di seret dari kamar mandi sampai ke kelasnya.
Tidak ada satupun dari mahasiswa itu yang berani menghalangi Jian.
Dan kini, hal yang sama terjadi pada Jian dan orang-orang bahkan tampak terlihat acuh tak acuh.
Tapi kali ini Valia menyeretnya keluar kelas, dan menghempaskannya dengan kasar, Valia berjalan cepat kearah kamar mandi.
Para mahasiswa itu melihat kearah tangan Valia, di tangannya terdapat sebuah sapu, kain pel serta Ember yng berisikan air.
Lalu Valia melempar semua barang itu pada Jian, hingga membuat seluruh pakaian Jian basah. "Lakukan!, jika kau tidak melakukannya, aku pastikan video ini akan tersebar ke seluruh dunia, dan hal itu bisa membuat keluargamu malu dan aku yakin setelah video itu tersebar, kau dan keluargamu tidak pernah bisa keluar dari mansion mewah itu walau satu langkah pun!" perintah Valia dengan tatapan tajam.
Jian yang mendengar itu merasa sangat marah, ia tidak ingin nama keluarganya tercemar hanya karena dirinya, Bahkan semua orang tercengang melihat Valia memerintahkan Jian secara terang-terangan.
Hal itu bahkan sama seperti yang di lakukan Jian pada Valia asli, tapi Jian hanya menyuruhnya membersihkan kelas saja, sedangkan Valia memberikan syarat membersihkan seluruh kampus.
Jian kini tertunduk sambil menahan cairan bening itu agar tidak menetes, mau tidak mau Jian memegang sapu dan memulai membersihkan kelas mereka terlebih dahulu.
para mahasiswa menggelengkan kepala mereka dan berdecak kagum dengan Valia, padahal awalnya video Valia tersebar luas dan membuat mereka menghujat Valia, tapi sekarang semua itu justru berbalik ke Jian, sehingga mereka lupa tentang Vali yang telah mencuri lembar soal ujian.
Para dosen melihat siaran yang dilakukan Valia, mereka juga berbondong-bondong datang ke kelas Valia.
Gleni dan para dosen lainnya menerobos para mahasiswa itu, "Menyingkir!" perintah Gleni dengan berteriak keras.
Para mahasiswa yang melihat Gleni langsung membuka jalan untuknya, ia mendongakkan wajahnya dan melihat Jian tengah memegang sapu dan menyapu dari lantai atas.
"Jian, lepaskan semua itu!" perintah Gleni pada Jian.
Jian yng mendengar itu merasa sangat senang, ia bahkan berpikir bahwa Gleni akan bisa membantunya, tapi siap angkat bahwa semua itu tidak berjalan dengan mudah.
Valia yang mendengar itu langsung mengeluarkan kata-kata yang membuat para mahasiswa terdiam, "Jika kau meninggalkan taruhan mu, maka kau bisa membayar ku sebesar 6.200.000 Euro" ucap Valia sambil berdiri di depan meja dosen dan melihat kearah Gleni.
(6.200.000 Euro \= 100 Miliar Rupiah)
__ADS_1
Gleni terkejut mendengar perkataan Valia, bukan hanya Gleni saja, bahkan para mahasiswa dan Jian juga ikut terkejut mendengarnya.
Jian menggenggam sapu itu dengan sangat kuat, kali ini ia benar-benar marah, karena Valia dengan lancang memperlakukan dirinya seperti orang miskin di depan para mahasiswa.
"Jangan bertindak tidak tau malu Valia!, apa karena kau benar-benar miskin jadi kau memeras Jian begitu banyak?" ucap Gleni sambil berteriak marah.
Setelah mendengar itu, Valia pun mulai tertawa keras "Haha ... lucu sekali, bukankah ayahnya adalah pemegang saham ke dua?, lalu kau merasa aku memerasnya?, lagipula, jika aku kalah dalam taruhan itu apa kau akan berlaku sama seperti sekarang?," ucap Valia yang membuat Gleni bungkam.
Semua orang melihat Gleni bungkam, dan Valia pun memutar bola matanya dengan malas, "Jika kau tidak bisa menjawabnya, maka lebih baik jangan mencampuri urusanku!" ucap Valia sambil menatap kembali kearah Jian.
Gleni yang mendengar itu terlihat sangat marah, sedangkan Telisa semakin taku untuk melihat Valia, ia pun berlari kebawah dan langsung menerobos kerumunan itu.
"Baiklah, kami akan membayarnya," ucap Gleni menyetujui perkataan Valia.
Valia pun menoleh kearah Gleni sambil tersenyum senang, lalu ia pun mengangkat kedua tangannya dan bertepuk tangan.
Prok
Prok
Prok
"Kenapa tidak kau katakan daritadi?, jika saja kau mengatakannya lebih dulu, nona muda itu pasti tidak akan kelelahan," ucap Valia sambil melangkah maju kearah Gleni.
Lalu Valia mengeluarkan ponselnya, lalu Gleni yang mengerti langsung mengeluarkan ponselnya juga.
Valia menyodorkan ponselnya dan Gleni langsung membayarnya dengan lunas.
"Sering-seringlah seperti ini, aku akan senang hati menerimanya" ucap Valia sambil mengedipkan sebelah matanya.
Lalu Valia pun berjalan keluar kelas, para mahasiswa yang melihat itu langsung membuka jalan untuknya. Setelah melihat drama yang cukup menarik itu, mereka semua kini memilih pergi dari sana.
Jian yang berada di atas langsung jatuh terduduk, ia mengeram marah, bahkan benjolan yang ada di leher dan tangan Jian sudah terlihat dengan jelas.
__ADS_1
"Aku akan membuatmu membayar rasa malu ini," geram Jian dengan mata melotot sempurna.
Bersambung ...