Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Memarahi Teman di Depan Semua Orang


__ADS_3

Seketika saja, Valia tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan melihat kearah Nero, ia pun langsung mengajaknya pergi, "Apa kau mau menemaniku pergi ke kantin?" tanya Valia dengan santai.


Nero tampak terkejut dan langsung menganggukkan kepalanya, ia sungguh tidak keberatan menemani Valia, "Baiklah, aku akan menemanimu," ucap Nero sambil tersenyum.


Lalu Valia dan Nero mulai berjalan beriringan, Valia pun mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor Carmila, tapi ketika Valia menghubungi nomor itu, ternyata tidak tersambung sama sekali.


Valia mulai mengeryitkan dahinya, "kenapa tidak tersambung," gumam Valia yang kembali menekan nomor Carmila.


Tapi, sama saja, panggilan itu tidak tersambung. "ada apa dengannya," gumam Valia dengan terus menekan nomor Carmila.


Untuk yang ketiga kalinya, panggilan itu tidak tersambung dan membuat Valia terlihat sedikit panik.


Nero yang melihat reaksi Valia itu langsung menepuk pundak Valia, sontak saja hal itu membuat Valia menoleh kearah Nero, "Hei, tenanglah, sepertinya kita harus makan terlebih dahulu," ucap Nero yang berusaha menenangkan Valia.


Valia mengangguk dan menyimpan Ponselnya kembali, ia pun terus jalan beriringan dengan Nero.


Semua mata tertuju pada Valia, mereka mulai menggunjing Valia karena bisa berjalan dengan pria yang berbeda.


Nero yang mendasar itu langsung melirik, kearah Valia, Tapi ia melihat, Valia tampak tak terpengaruh dengan perkataan para mahasiswa itu.


"Sepertinya ada yang tengah mengganggu pikirannya, apa mungkin ada hubungannya dengan dia tidak bisa menghubungi Carmila?," batin Nero yang sesekali melirik kearah Valia.


Setelah sampai di kantin, mereka mencari tempat duduk, dan Nero melihat Valia tampak mulai tersenyum.


Nero yang melihat itu begitu tampak terkejut, "baru beberapa detik yang lalu ia terlihat panik, dan sekarang wajah itu mulai mengembangkan senyumnya." batin Nero sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.


Valia tampak berlari dan menghampiri sosok yang tengah duduk sambil memunggungi mereka.


Nero mengernyit dengan heran, ia tidak tau Valia tengah menghampiri siapa, pasalnya, Valia benar-benar tidak memiliki seorang teman selain Carmila.

__ADS_1


Nero pun langsung berjalan menghampiri Valia, lalu ia melihat Valia tengah memeluk orang itu dari belakang.


"Hei," sapa Valia sambil memeluk leher Carmila.


Carmila yang di sapa dan di peluk spontan menoleh, ia melihat Valia tengah tersenyum kearahnya.


Nero yang melihat itu, hanya bisa menghela nafas, karena ia melihat bahwa orang yang di peluk Valia adalah Carmila itu sendiri.


"Pantas saja dia tersenyum, ternyata dia telah menemukan Carmila," batin Nero yang sudah tidak bisa terkejut lagi dengan perbuatan Valia.


Valia duduk di kursi tepat di depan Carmila, lalu diikuti oleh Nero yang duduk di tengah-tengah mereka.


Meja itu berbentuk bulat, jadi hanya muat untuk tiga orang saja, dan hal itu mengundang tatapan para mahasiswa.


Bagiamana tidak?, Nero adalah orang tampan dan tinggi, jadi kemanapun dia pergi pasti akan mengundang mata para wanita yang anda di sekelilingnya, Namun ketiga orang itu tampak tidak perduli.


Carmila mulai menunduk dan menghela nafas dengan pelan, "aku sudah berusaha menghubungi Granov, tapi nomornya sama sekali tidak tersambung," ucap Carmila dengan pelan.


Valia yang mendengar kabar itu mulai tersenyum tipis, "dengan begini, dia akan jauh dari ibu," batin Valia sambil menatap Carmila yang tengah menunduk.


Sedangkan Nero tidak sengaja melihat Valia tengah tersenyum smirk, ia sama sekali tidak mengerti arti dari senyuman itu, "kenapa Valia tersenyum ketika mendengar Carmila tidak menghubungi kakak senior Granov?," batin Nero yang sedikit bingung.


Di meja itu tampak hening, mereka semua seperti tampak memikirkan masalah mereka masing-masing, yaitu Carmila dengan pikiran yang tertuju pada Granov, Nero dengan pikiran yang penuh dengan tanda tanya, dan Valia yang tengah tidak memikirkan apapun, tapi dirinya hanya ikut termenung.


Valia tidak ingin ibunya terus memikirkan Granov, ia pun mencoba mengalihkan topik pembicaraan, "Apa karena kau menghubunginya jadi panggilanku tidak masuk ke ponselmu?" tanya Valia mencoba membuka percakapan.


Carmila yang mendengar itu langsung menundukkan sedikit wajahnya, "Ah ... apa kau menghubungiku?, maafkan aku," ucap Carmila dengan penuh penyesalan.


Valia yang melihat permintaan maaf itu langsung berdiri dari tempat duduknya, "kau tidak perlu meminta maaf seperti itu padaku," ucap Valia yang sedikit panik.

__ADS_1


"Benar apa yang di ajarkan wanita miskin itu, kau tidak perlu meminta maaf padanya, level kalian bahkan jauh berbeda," ucap seorang wanita yang baru saja tiba di tempat mereka.


Mendengar hal itu, Nero, Carmila dan Valia langsung menoleh kearah sumber suara.


Seluruh mahasiswa yang ada di kantin bahkan menatap kearah mereka, Carmila menoleh dan ia merasa sedikit malu karena temannya berbicara begitu lantang sampai mengundang mata para mahasiswa.


"Jangan pernah mengatakan seperti itu lagi, Fallen," ucap Carmila sambil menatap Fallen.


Fallen memutar bola matanya dengan malas, *bukankah perkataanku benar?, dia memang berbeda dengan kita. Aku hanya mengatakan fakta yang ada," ucap Fallen sambil menaik turunkan kedua pundaknya secara bersamaan.


Carmila tampak begitu kesal, ia pun mulai menatap Fallen dengan tajam, "Tapi kau tidak perlu mengatakannya di depan umum," ucap Carmila dengan menaikkan sedikit nada bicaranya.


Fallen terkejut melihat Carmila menaikkan nada bicaranya, padahal keduanya sudah lama berteman, dan ini pertama kalinya Fallen mendengar nada tinggi itu.


Bahkan Zewina yang ada di belakang Fallen juga ikut terkejut. "bukankah kau sudah sedikit keterlaluan pada Fallen, Carmila," ucap Zewina menatap Carmila dengan tajam.


Carmila berdiri sambil mengebrak meja, "Tidak!, justru kalianlah yang keterlaluan. Bukankah kalian yang hampir kami terlebih dahulu?" ucap Carmila sambil menatap keduanya dengan tajam.


Zewina yang mendengar itu benar-benar sangat terkejut, "Carmila, apa kau lupa siapa kami?, kau memilih orang baru daripada kami yang sudah sangat lama mengenalmu?," tanya Zewina dengan marah.


Carmila yang mendengar itu mulai menatap keduanya dengan tajam, "Jika kalian datang hanya untuk melarang ku berteman dengannya, maka sebaiknya kalian pergi dari sini, aku ingin makan dengan tenang dan tidak ingin membuang energi ku dengan kalian" ucap Carmila yang kembali duduk sambil menghela nafas dengan kasar.


Zewina benar-benar terlihat sangat kesal mendengar hal itu keluar dari mulut Carmila, ia pun langsung membawa Fallen yang masih dalam keadaan syok.


Valia yang melihat hanya bisa tercengang, karena seumur hidupnya, ia tidak pernah melihat sang ibu menaikkan nada bicaranya seperti yang di lakukan Carmila saat ini.


Bahkan orang-orang yang ada di kantin juga terkejut mendengarnya, mereka yang mengenal Carmila dengan bunga kampus kini memarahi temannya di depan semua orang.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2