
Di dalam mobil Xander, tidak ada yang memulai percakapan, bahkan Xander hanya diam sambil menatap lurus kedepan.
Valia yang duduk di sampingnya seakan takut untuk mengeluarkan suaranya lagi.
"Paman terlihat sangat menyeramkan, lebih baik aku menutup mata saja," batin Valia yang menutup matanya.
Xander sesekali melirik ke samping, ia melihat Valia telah tertidur pulas, "aku harus segera menemukan rahasia mu," batin Xander sambil membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi.
Xander pun membawa Valia kembali ke mansion, ia pun memarkirkan mobilnya dan Xander melihat Valia masih tertidur pulas.
Xander keluar dari mobil dan membawa Valia masuk kedalam mansion.
Javier dan Nisia kebetulan sedang berada di dalam, mereka sudah tidak terkejut melihat Xander menggendong Valia yang tengah tertidur.
Xander yang melihat itu hanya bisa menganggukkan kepalanya, ia pun naik keatas dan membawa Valia masuk kedalam kamarnya.
Lalu setelah menaruh Valia di atas tempat tidurnya, Xander pun keluar dari kamar itu dan berjalan turun ke bawah.
"Terimakasih sudah membawanya pulang," ucap Javier sambil tersenyum kearah Xander.
Xander yang masih melangkah langsung merasa terkejut mendengar perkataan Javier, "kakak sudah tau?," ucap Xander sambil berjalan kearah Sofa.
"Apa tentang penemuan daging itu, atau tentang kedua mahasiswi itu, atau tentang Valia yang di buli di kampus yang ku dirikan sendiri?, dari ketiga itu yang mana yang sedang kau tanyakan?" ucap Javier sambil menatap adiknya dengan dingin.
Xander terkejut mendengar itu, ia bahkan tidak menyangka bahwa kakaknya sedang bergerak menyelidiki Valia.
"Maafkan aku kak, tapi aku tidak bisa memberitahumu tentang ketiga hal itu, karena aku tidak ingin kau menjadi kepikiran," ucap Xander sambil menghela nafas pelan.
__ADS_1
Javier yang mendengar itu merasa sangat kesal, "aku tidak ingin mendengar hal itu Xander, tapi kenapa kau tidak memberitahuku tentang situasi kampus saat ini?" tanya Javier lagi.
"Jika tentang penemuan daging itu, aku yakin itu daging manusia, tapi kami belum mengetahui tentang siapa pemiliknya, lalu mengenai kedua mahasiswi itu, pihak kepolisian juga senang menyelidikinya. Dan tentang pembulian Valia, kakak tidak perlu khawatir karena Valia bisa menjaga dirinya sendiri sekarang," ucap Xander yang mencoba memberikan pengertian pada sang kakak.
"Beruntung kakak tidak menyelidiki si pelaku, Aku tidak mungkin mengatakan bahwa semua yang terjadi saat ini adalah ulah anak kalian sendiri, dan mungkin suatu saat nanti Valia bisa mengatakannya sendiri pada kalian," batin Xander sambil menatap kearah Javier.
"Hah ... aku sungguh tidak becus menjadi ayah, aku bahkan baru mengetahui semua ini," gumam Javier sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
Belakangan ini, Javier terus saja menyuruh Bian untuk mencari tahu tentang kejadian apa saja yang ada di kampus, Javier mulai mengetahui seluruh perbuatan Jian, Asra dan Rila kepada Valia.
Awalnya ketika melihat di mall, ia bahkan hanya berpikir bahwa Jian hanya membulinya dengan perkataan saja, tapi ia menemukan bahwa bukan hanya sekedar perkataan, mereka juga melukai fisik Valia.
"Pantas saja Valia pulang dengan rambut berantakan, ternyata semua itu ulah mereka, bukan karena Valia yang menyukainya," gumam Javier yang terus menutup wajahnya.
Nisia yang mendengar itu hanya menunduk dan menitikkan air matanya, ia bahkan tidak mengetahui hal itu sama sekali.
Nisia yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas, ia mulai menghapus air matanya dan bangkit dari tempat duduk.
Nisia berjalan kearah Xander lalu ia duduk di sebelahnya dan memeluk adik iparnya itu, "tidak apa-apa Xander, kakak bahkan sangat berterimakasih padamu karena membuat Valia berubah sampai sejauh itu," ucap Nisia sambil memeluk adiknya dengan erat.
Xander terkejut dengan perkataan Nisia, "faktanya bukan aku yang merubahnya kakak, aku bahkan tidak tau tentang perubahannya itu," batin Xander yang tidak menjawab perkataan Nisia, tapi ia tetap membalas pelukan itu.
Nisia melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak Xander, "tolong jaga Valia untuk kami," ucap Nisia sambil tersenyum.
Xander terkejut dengan perkataan Nisia, ia sedikit merasa heran dengan kalimat itu, "kenapa kakak berbicara seperti itu?," tanya Xander dengan panik.
Nisi yang mendengar itu langsung menoleh kearah Javier, sebelum mengatakannya pada Xander, ia menghela nafas pelan, "Aku dan kakak mu telah sepakat untuk membatalkan seluruh kerjasama perusahan kami dengan pembuli Valia, bahkan memecat mereka dari pemegang saham, dan kemungkinan akan terjadi sesuatu pada kami," ucap Nisia lagi sambil melihat kearah Xander.
__ADS_1
Xander yang mendengar itu justru tersenyum smirk, sedangkan kedua kakaknya justru terkejut melihat senyuman Xander.
"Aku akan membantu kakak," ucap Xander sambil melihat kearah Nisia dan Javier.
Nisia yang mendengar itu merasa tidak terima, ia pun melepaskan tangannya dari kedua pundak Xander.
"Tiska Xander, kau tidak boleh melakukan itu, karena ini adalah urusan kami," ucap Nisia sambil menggelengkan kepalanya.
Xander yang mendengar itu hanya bisa tersenyum, ia sangat tau bahwa kakak iparnya sangat menyayanginya.
"Tenang saja kakak, tugas ini bukan aku yang melakukannya," ucap Xander sambil tersenyum.
Dan di dalam hati Xander, ia bersyukur kakaknya mau memberitahukan maksud mereka padanya.
"Beruntung mereka memberitahu kan padaku terlebih dahulu," batin Xander.
...****************...
Di mansion Jian, semua orang tengah berkumpul di ruang keluarga, "bagaimana hal ini bisa terjadi Jian?," tanya Freya sambil mengeryitkan.
Ketika membayangkannya kembali, Jian mulai bergidik ngeri, "Aku tidak tau ma, aku bahkan tidak bisa membayangkannya lagi," gimana Jian sambil memeluk kedua lututnya.
Freya terkejut melihat anaknya ketakutan, ia pun langsung bangkit dan duduk di samping Jian.
Freya juga memeluk Jian untuk menenangkan putri semata wayangnya itu, "Tenanglah Jian, mama ada di ini, kau tidak perlu takut," ucap Freya yang terus mengelus punggung Jian.
Bersambung ...
__ADS_1