Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Pertemuan Kakak dan Adik


__ADS_3

Rila yang mendengar itu berusaha mengatur nafasnya, ia pun mulai melihat kearah Jian yang terus menutupi wajahnya.


Rila merasa heran melihat Jian yang tidak membuka tangan untuk memperlihatkan wajahnya, "Ada apa dengan mu Jian?" tanya Rila sambil memegang tangan Jian.


Jian yang mendengar itu langsung menggelengkan kepalanya berulang kali, "Aku tidak apa-apa," jawab Jian sambil terus menutup wajahnya.


Sedangkan Rila merasa ada yang tidak beres, ia pun langsung melepaskan kedua tangan Jian, dan betapa terkejutnya Rila melihat tangan dan hidung Jian sudah di penuhi oleh darah.


"Ayo kita pergi ke ruang kesehatan, kita harus mengobati mu," ucap Rila sambil menarik Jian.


Jian merasa kepalanya begitu sakit, bahkan ia juga merasakan hal itu di wajahnya, tanpa berkomentar apapun, ia membiarkan Rila menariknya begitu saja.


Saat melangkah ke ruang Kesehatan, tiba-tiba saja Rila dan Jian melihat Kaliandra bersama dengan wanita yang sudah lama tidak di lihat oleh mereka.


Dan seketika saja, langkah Rila dan Jian terhenti, "Di-dia sudah kembali?," gumam keduanya secara bersamaan.


Kaliandra melihat Jian yang tengah berdarah, ia pun melepas tangan wanita itu dan memegang pundak Jian.


"Apa yang terjadi padanya?, kenapa dia berdarah seperti ini?," tanya Kaliandra dengan binggung.


Wanita itu tampak kesal karena Kaliandra mengabaikannya, ia sungguh tidak suka jika ada yang mengganggu urusannya, "Dia hanya mimisan saja, kau tidak perlu memberikan perhatian secara berlebihan seperti itu," ucap wanita itu sambil merangkul lengan Kaliandra kembali.


Kaliandra yang mendengar itu merasa sangat kesal, ia sudah tidak bisa membendung kekesalannya itu lagi, "apa kau tidak bisa diam Roana?, aku memiliki tanggung jawab terhadap mahasiswa yang ada di kampus ini!, jika kau tidak menyukainya maka pergilah dari hadapanku sekarang," ucap Kaliandra dengan marah.


Roana yang mendengar itu merasa tidak percaya, ia pun melihat kearah Jian dan Rila dengan tatapan tajam. Sedangkan keduanya mulai menunduk dan bergetar ketakutan.


Kaliandra pun membuat Jian dan Rila untuk tidak melihat kearah Roana, "Abaikan saja dia, sekarang kau harus mengantar dia ke ruang kesehatan," perintah Kaliandra pada Rila.


Rila mengangguk dan membawa Jian pergi, para mahasiswa yang ada di sana mulai berbisik mengenai Roana.

__ADS_1


Lalu tiba-tiba saja seseorang langsung memeluk Roana, "kakak, aku sangat merindukanmu," ucap ornag itu sambil mempererat pelukannya.


Roana bisa mengenali suara itu, tapi ia masih berpikir bahwa hal itu tidaklah mungkin, ia bahkan terpaku ketika mendapat pelukan itu, lalu Roana melepaskan pelukannya dan melihat dengan jelas, "Riana?, bagaimana kau bisa berada di kampus ini?," tanya Roana dengan heran.


"Tentu saja aku akan berkuliah di tempat ini," ucap Riana dengan senang.


Roana tampak terlihat tidak senang dengan keberadaan Riana di kampus nya, karena bagaimana pun adiknya itu pernah mengalami pembulian saat masih berada di sekolah.


"Kenapa dia bisa di sini?, bukankah dia tidak pernah ingin satu sekolah dengan ku dan papa?," batin Roana.


Sedangkan Kaliandra terkejut mengetahui fakta itu, ia bahkan mulai berpikir bahwa Riana memiliki sifat seperti sang kakak.


"Habis sudah kampus ini, bagaimana bisa dekan yang sangat jujur dan berwibawa itu memiliki dua putri yang sangat menyeramkan seperti mereka?," batin Kaliandra yang semakin tidak percaya dengan kenyataan itu.


Lalu mata Riana melirik kearah Kaliandra, namun ia pun langsung tersenyum, "halo senior, perkenalkan saya Riana adik dari kak Roana, mohon bimbingan senior," ucap Riana dengan sopan dan sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Saya Kaliandra, ketua organisasi di kampus ini," ucap Kaliandra dengan datar.


Riana begitu sangat terkejut, ia pun kembali membungkuk dengan hormat, "oh maafkan saya jika tidak sopan senior," ucap Riana yang merasa bahwa perilakunya tidak sopan di depan ketua organisasi.


Kaliandra yang melihat kesopanan itu mulai tersenyum tipis, tapi tidak ad ayang melihat senyum itu, sedangkan Roana langsung menghentikan Riana.


"Sudahlah, kau tidak perlu terlalu sopan seperti itu, lagipula Kaliandra adalah teman kakak" ucap Roana dengan memegang kedua pundak Riana.


Riana yang mendengar itu langsung mengangguk, "baiklah kak, sekarang aku ingin mengelilingi kampus, kau bisa melanjutkan perjalananmu kembali," ucap Riana sambil mencium pipi Roana dan langsung meninggalkan keduanya.


Kaliandra melihat kepergian Riana, ia merasa bahwa wanita itu berbeda dari sang Kakak, Kaliandra mengingat kembali kenangan lama.


Dulu, saat keduanya ospek bersama, Roana menunjukkan sikap biasa saja, namun siapa sangka, ternyata Roana susah terlebih dulu menyingkirkan orang-orang yang mendekati Kaliandra.

__ADS_1


Awalnya Kaliandra tidak mempermasalahkan hal itu, karena bagaimanapun Kaliandra tidak suka di kelilingi oleh banyak orang.


Bahkan sampai seluruh kampus mengetahui bahwa Roana menyukai Kaliandra, dan juga tidak ada dari mereka yang berani menyinggung Roana.


Hingga berita tentang Roana menyingkirkan para wanita itu tidak terdengar oleh sang papa.


Lambat laut, saat Kaliandra mendaftar menjadi ketua organisasi, maka Roana mendaftar menjadi sekretaris organisasi, dan sikap posesif Roana semakin menjadi-jadi, walau sering mendapat penolakan, Roana bahkan tidak menyerah begitu saja.


Sampai dimana Kaliandra menjadi ketua organisasi dan memberikan ospek kepada mahasiswa baru, ia melihat Kaliandra memberikan tanda tangannya pada mahasiswa baru.


Dan Roana juga melihat mahasiswa baru itu mendapat masalah dengan mahasiswa baru lainnya.


Roana pun tersenyum smirk, dan Kaliandra pun langsung mendapati mahasiswa baru itu, ia lupa bahwa Roana terus mengawasinya.


Awalnya Kaliandra tidak mengetahui apapun, lalu tiba-tiba saja Kaliandra mendengar tentang perundungan yang di lakukan oleh sejumlah mahasiswa.


Ia ingin menghentikan perundungan itu, tapi siapa sangka Roana langsung menghentikan langkah kaki Kaliandra.


Dan sejak saat itu, Kaliandra berhenti mendekati mahasiswa baru itu dan seolah tidak perduli dengannya.


Setelah selesai mengingat kejadian lampau itu, Kaliandra memejamkan sejenak matanya, "Maafkan aku Valia, semua ini karena kesalahan ku," batin Kaliandra sambil membuka mata dan menghela nafas kasar.


Roana melihat semua ekspresi wajah Kaliandra, "Jadi kau memutuskan untuk melawanku?," tanya Roana sambil tersenyum smirk.


Kaliandra kini menoleh kearah Roana, "lakukan apa yang kau inginkan, yang jelas, mulai sekarang aku akan melawan mu," ucap Kaliandra dengan keras sambil meninggalkan Roana yang tengah berdiri mematung.


Dalam langkah Kaliandra, ia mengingat bahwa kedua orang yang baru saja di temuinya adalah orang dari suruhan Roana, tapi ia tetap harus bersikap layaknya seorang yang tengah menjabat sebagai ketua.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2