Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Hadiah Spesial


__ADS_3

Hah


Hah


Hah


Dada Telisa terus bergemuruh, ia bahkan mulai memegang dada nya yang terasa begitu nyeri.


Bahkan Telisa seakan tidak bisa bernafas dengan benar, ia mulai menggelengkan kepalanya dengan pelan.


Telisa mulai menatap kearah Vali, "Jangan coba membohongiku!, Aku tidak pernah melihatmu memakai brand mewah!, aku juga tidak pernah melihatmu menggunakan mobil, jadi sangat tidak mungkin kau dari bagian keluarga itu!" teriak Telisa yang sudah sangat ketakutan.


Dalam ketakutan itu, ia masih mampu berteriak dengan kuat, tapi sesekali tatapan Telisa mengarah kearah pintu keluar.


"Aku harus keluar dan membeberkan apa yang baru saja aku dengar pada semua orang!" batin Telisa.


Telisa bertekad untuk mencoba keluar dari ruangan itu, baginya keluar dari sarang harimau adalah yang terpenting.


Sedangkan Valia yang mendengar itu mulai mengernyitkan dahinya, "Awalnya aku memang ingin menutupi identitas ku agar aku bisa hidup dengan damai tanpa bayang-bayang orang seperti kalian, tapi ternyata semua dugaanku salah, kalian justru menghina anak-anak beasiswa hanya karena kalian lebih kaya dari mereka. Tapi sekarang tidak lagi!, karena aku akan menghancurkan kalian semua, bahkan aku akan melakukannya juga kepada orang tua kalian!" tegas Valia sambil menekan kan setiap perkataannya.


Telisa yang awalnya bertekad kuat untuk melarikan diri, kini justru harus membungkam, ia melihat tatapan Valia begitu sangat menakutkan, ia juga bisa mengetahui dari mata yang tengah melotot kearahnya.


"Aku mohon padamu, jangan lakukan itu, orang tua ku tidak bersalah," ucap Telisa yang memohon dengan wajah yang cukup pucat.


Tapi, Valia justru tidak perduli, karena bagi Valia, tindakan yang di lakukan sekarang bukanlah apa-apa.


"Apa kau pikir aku tidak tau bahwa kedua orang tuamu justru mendukung keputusanmu agar kau terlihat seperti orang kaya?" ucap Valia sambil menatap kearah Telisa.


Telisa tertegun, ia bahkan tidak menyangka bahwa Valia juga mengetahui hal yang seharusnya hanya dirinya saja yang tau.

__ADS_1


"Ti-tidak, mereka tidak mengetahui apapun," ucap Telisa dengan terbata-bata.


Valia tersenyum lalu tertawa lebar, "Haha ... kau sungguh anak yang berbakti, tapi apa kau pikir aku akan mendengarkan perkataan mu seperti sebelumnya?, tidak lagi!, karena aku bukan Valia!" ucapnya sambil menyayat sepatu Telisa.


Srekkk


Arghhh


Telisa berteriak dengan kuat, ia melihat di sela goresan yang di buat Valia, telah memercikkan darah segar yang cukup banyak.


Telisa begitu syok, permainan tangan Valia sangatlah cepat, ia sungguh tidak bisa menghindar karena pergerakan tangan valia itu tidak terlihat olehnya.


Telisa terus menitikkan air matanya, wajah pucat itu seakan terus memohon.


Tapi Valia yang ada didepannya bukanlah Valia yang dulu, jadi mau bagaimanapun bentuk wajah Telisa, tidak membuat Valia sang wanita dingin itu luluh.


"Susah aku katakan bahwa aku bukan dia, dan yang ku inginkan sekarang adalah kau harus mati di tanganku!" ucap Valia sambil tersenyum smirk.


Srekkk


Arrgghh


Srekkk


Arrghh


Valia menggores wajah, tangan, kaki, bahkan ia juga merobek pakaian Telisa dan menyayat seluruh tubuh wanita itu.


Lalu, Valia melihat dua benda besar yang bergantung, Valia pun tersenyum smirk dan langsung memotong ****** Telisa.

__ADS_1


Srekkk


Arghhh


Dalam rasa sakitnya, Telisa menangis dan berteriak histeris, ia tidak menyangka bahwa Valia mampu memotong putingnya dengan sangat brutal.


"sakit!" teriak Telisa, ia pun meringkuk melindungi tubuh depannya.


Valia yang melihat itu mulai berpindah dan menyayat bagian punggung Telisa.


Di setiap sayatan yang di berikan Valia, Telisa hanya bisa menangis dan berteriak, dan ia merasa mulai kehabisan tenaga.


"Seluruh tubuhku sakit, aku tidak mampu berteriak lagi, tenagaku telah terkuras habis, kapan semua ini berakhir?" batin Telisa sambil menangis.


Setelah puas dengan aksi brutalnya, Valia pun berhenti dan mulai berdiri, "ini Seni yang sangat menakjubkan, aku sungguh cocok berada di bidang ini," ucapnya sambil melihat pisau yang ada di tangannya dan mengangkat benda itu tepat di depan wajahnya.


Valia bahkan terlihat sangat senang melihat darah yang ada di tangannya, sekarang ini, penampilannya bagaikan wanita psikopat yang sangat senang melihat darah.


Sedangkan Telisa sudah terkapar di lantai dengan tubuh polos dan hanya di selimuti oleh darahnya sendiri.


Di sisa nafasnya, Telisa terus menatap kearah Valia, "ke-napa kau membantunya?," tanya Telisa dengan pelan.


Tapi perkataan itu justru dapat di dengar oleh Valia, "karena arwah wanita itu selalu menggangguku, jika kau bertemu dengannya, sampaikan bahwa aku telah mengirimnya hadiah berharga, selamat tinggal" ucap Valia sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Telisa yang tengah terkapar.


Valia membuka pintu ruangan itu dan ia berbalik pun berbalik, "Aku berikan hadiah spesial ini padamu, dan sekarang aku ingin fokus pada balas dendam ku, jika kau masih menggangguku, maka bersiaplah menerima akibatnya!, aku orang yang tidak pernah main-main dengan perkataanku, camkan itu!" ucap Valia sambil menutup pintu itu kembali.


Valia melangkahkan kakinya sambil melihat kearah sekitar, setelah merasa aman, Valia berlari kearah ruangan ganti pakaian wanita.


Di sana Valia membersihkan dirinya, dan berganti pakaian olahraga, setelah selesai, Valia kembali ke gudang itu, dan di sana ia melihat seseorang tengah berdiri di depan pintu gudang.

__ADS_1


"Kau!"


Bersambung ...


__ADS_2