Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Ketakutan Elena


__ADS_3

Mendengar hal itu dari Xander, Javier merasa itu bukanlah tugas adiknya, "Tidak Xander, sebagai seorang ayah, aku akan mengurus semua ini," tolak Javier dengan pelan.


Xander sangat mengerti rasa sungkan sang kakak, karena sejak mereka kecil, Javier selalu menjaganya dan membuat sang adik tidak ingin terbebani.


"Kau tidak perlu sungkan kak, karena aku juga paman dari Valia, jadi aku akan melakukan apapun demi keponakan ku itu," jawab Xander yang berusaha membuat Javier mempercayakan hal apapun mengenai Valia padanya.


"Baiklah," jawab Javier yang berusaha menenangkan dirinya.


Nisia yang mendengar perkataan Xander kini telah merasa tenang, ia sangat bersyukur karena memiliki adik ipar yang sangat menyayangi anaknya.


...****************...


Sedangkan di tempat Elena, ia yang baru saja pulang dengan berjalan kaki, di setiap perjalanan, Elena sesekali menoleh kebelakang, bahkan dengan tubuh yang terus bergetar hebat.


Sekarang ia telah berada di depan pekarangan rumah. Terlihat rumah berlantai 2 dengan warna monokrom di sertai pekarangan yang sedikit luas.


Angin bertiup dengan pelan, Elena kini mencoba mengubah ekspresinya dan melangkahkan kakinya masuk ke pekarangan rumah itu, lalu ketika Elena sudah berada di tempat pintu rumah, Elena menghentikan langkahnya.


Rasa takut dan gugup terus menghantui Elena, tapi ia berusaha untuk menenangkan dirinya.


Ketika pintu terbuka, Elena melihat Granov yang sedang duduk di sofa, lalu mata Granov melihat ke arah wajah adiknya.


Sedangkan Elena semakin tampak ketakutan, ia


ingin menghindari Granov, tapi kakaknya itu justru langsung menghampiri Elena dan menepuk pundaknya.


Ketika Elena berbalik, ia melihat pipi Elena terlihat membiru, "Ada apa dengan pipi mu, Elena?," tanya Granov dengan mata melotot sambil memegang pipi Elena.


Elena yang mendengar perkataan Granov langsung menggelengkan kepalanya, "Kak, aku lelah, dan aku ingin beristirahat," ucap Elena sambil menunduk.


Granov yang mendengar itu mengeryitkan dahinya, "katakan pada kakak, siapa orang yang telah menampar mu?," tanya Granov lagi.


Elena terlihat tidak memiliki tenaga lagi, ia pun langsung menghempaskan tangan Granov dari pipinya, dan ia melanjutkan langkah untuk masuki kamarnya.


Granov sangat mengenal adiknya itu, setiap adiknya pulang, Elena langsung memeluknya dengan ceria, tapi kali ini tidak, Elena justru terlihat sangat murung dan terdapat bekas tamparan di pipi adiknya itu, hingga membuat Garnov merasa curiga.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, seseorang menghampirinya "Granov?, ada apa?," tanya sang ibu.


Granov menoleh dan melihat sang ibu, "Aku tidak tau ibu, aku melihat wajah Elena tampak ketakutan serta ada bekas tampan di pipinya itu, ketika aku bertanya padanya, dia malah tidak menjawabnya," ucap Granov pada Karin.


Karin terkejut mendengar perkataan Granov, "Apa yang telah terjadi padanya?, tidak biasanya dia seperti itu," ujar Karin yang melihat kearah pintu kamar Elena, sebagai ibu, ia benar-benar khawatir pada anak gadis satu-satunya itu.


Di dalam kamar, Elena langsung melempar tas yang ada di tangan ke arah sudut dinding, lalu ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu menutup tubuh itu dengan selimut.


"Siapa orang itu?, kenapa dia meneror ku?," ucap Elena dengan tubuh gemetar hebat.


Elena benar-benar tidak berani mengatakan semua kejadian itu pada keluarganya, ia takut keluarganya akan di teror seperti dirinya.


"Apa yang harus aku lakukan?," gumam Elena sambil mengigit kuku jarinya.


Malam harinya, Granov tidak melihat Elena, ia pun berpikir untuk mencari Elena di kamarnya.


Tok tok tok


"Elena, ini sudah waktunya makan malam," ucap Granov sambil mengetuk pintu kamar Elena.


Lalu ketika Granov mengetuk untuk yang ketiga kalinya, riba-tiba terdengar suara dari dalam kamar, "Saat ini aku tidak ingin makan kak, aku sedang mengerjakan tugas dan ini akan di kumpul besok hari." jawab Elena dari dalam kamar.


Granov yang mendengar itu mulai mengeryitkan dahinya, tidak bisanya Elena mengerjakan tugas malam-malam.


Kali ini Granov Benar-benar curiga, tapi ketika Granov mencoba membuka pintu, ternyata pintu itu sudah di kunci dari dalam.


"Jangan ganggu aku kak, ini benar-benar tugas yang sangat penting, kau bisa menaruh makanan dan minuman di atas meja," ucap Elena lagi dari dalam.


Granov tidak bisa berbuat apapun, ia pun menghela nafas dan langsung pergi dari depan kamar Elena.


Sedangkan di dalam kamar, Elena terus saja menutup tubuhnya dengan selimut. Ponselnya kini berada di depan Elena, ia melihat satu persatu pesan masuk kedalam ponselnya.


Ting


[Apa tadi siang kau mendapat tamparan?, apa rasanya sangat enak?]

__ADS_1


Elena yang membaca Pesain itu merasa terkejut, "Ternyata dia ada disana, tapi yang mana?," batin Elena mencoba mengingat-ingat wajah orang-orang yang ada di cafe.


Ting


[Kau pasti sangat penasaran, bukan?]


Elena yang melihat itu benar-benar merasa sangat marah, ia sungguh ingin tau siapa orang yang terus menerornya itu.


Ting


[Ah baiklah, aku akan memberitahumu bahwa ... Sebenarnya aku berada di luar cafe, aku bahkan menonton pertunjukan yang kau buat itu, dan aku benar-benar sangat menikmatinya hahaha....]


"Sialan!, aku telah di permainkan olehnya!" geram Elena dengan mata yang sudah memerah.


Ting


[Sayang sekali, padahal tadi siang jelas-jelas aku ingin menabrak mu, tapi mendadak aku memiliki janji yang lain, jadi kali ini aku akan melepaskan, ingat!, tidak ada untuk yang kedua kalinya, saat itu terjadi, aku akan langsung mencincang dagingmu dan memberikannya kepada harimau]


Elena melototkan matanya, ia yang sudah selesai membaca pesan itu spontan saja melempar ponselnya ke dinding.


Tubuh Elena semakin bergetar hebat, keringat dingin bahkan sudah membasahi seluruh tubuhnya, "Siapa sebenarnya dia?, kenapa di melakukan ini padaku?" ucap Elena yang mulai menitikkan air matanya.


Di pagi hari, Elena terlihat masih membuka matanya, ia pun berdiri dan mulai bercermin, Elena melihat di bawah matanya terdapat kantung mata yang sudah berwarna hitam.


"Aku tidak bisa membiarkan, ibu, ayah dan kakak melihat ini," gumam Elena sambil berjalan ke arah kamar mandi dan membersihkan diri.


Setelah selesai, Elena memakai seragam sekolah dan membawa sebuah tas, ia pun memungut ponselnya yang sudah terlihat rusak, "Sial, karena ketakutan aku malah lempar ponselku ini," gumam Elena dengan memasukkan ponselnya kedalam tas.


Elena mulai menutup kantung mata itu dengan memberi riasan sedikit tebal, lalu ia pun keluar dari kamar.


Granov melihat adiknya baru keluar dari kamar, ia pun langsung menghampiri Elena, "Lihatlah, kau tidak memakan makananmu," ucap Granov yang sedikit meninggikan suaranya.


Elena menunduk dan merasa bersalah, "Maafkan aku kak, setelah mengerjakan tugas, aku tertidur sampai pagi, sekarang aku harus berangkat, sekali lagi maafkan aku kak," ucap Elena yang langsung berlari dari hadapan Garnov.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2