Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Kedatangan Seseorang


__ADS_3

Renzo yang mendengar itu semakin menegang, ia bahkan sampai tidak bisa membuka mulutnya.


Carmila terlihat senang melihat kedua orang tuanya, "Mama, papa," panggil Carmila sambil berlari dan langsung memeluk sang ibu.


Valia melototkan matanya, ia tidak menyangka bahwa di kehidupan ini dirinya masih bisa melihat kakek dan neneknya lagi.


"Kakek, Nenek, aku sangat merindukan kalian," batin Valia dengan wajah sedih.


Semua orang tengah terfokus pada kedatangan keempat orang itu, tapi hanya Kaliandra lah yang menyadari ekspresi sedih dari Valia.


"Aku sangat penasaran kenapa kau membuat ekspresi seperti itu?, seolah-olah kau sudah sangat lama tidak melihat mereka. Padahal yang aku tau kalian berdua baru saja menjadi teman," batin Kaliandra yang merasa heran dengan heran.


Sedangkan Nero tengah tersenyum tipis melihat reaksi Renzo yang sudah seperti patung. "kami bahkan tau bapak ingin menyerang Carmila," ucap Nero sambil memasuki satu tangannya kedalam saku.


"Ti-tidak, aku tidak melakukan itu," ucap Renzo dengan gugup dan langsung memundurkan tubuhnya kebelakang.


Ferry yang melihat itu pun langsung mengehentikan perdebatan itu, "hentikan!, aku disini untuk mencari pelaku pembunhan bukan untuk mendengarkan pertengkaran kalian, jadi sebaiknya kita semua duduk, dan ceritakan secara detail," ucap Ferry sambil menatap kearah mereka yang ada di ruangan itu.


Vincen dan Kaily langsung melangkah kedalam dan duduk di samping Nero, lalu Ethan dan Liana mengajak Carmila duduk di samping mereka.


Sedangkan Valia dan Kaliandra duduk secara berdampingan, dan di samping kaliandra terdapat Ferry.


Renzo juga ikut duduk tapi ia duduk di sofa yang hanya cukup untuk satu orang saja.


Dari raut wajah Renzo, ia sedang merasa ketakutan, setelah ruangan itu hening, Ferry pun langsung mengajukan pertanyaan pada Renzo, "Sekarang begini saja, aku bertanya padamu, kenapa kau menunjuk dia sebagai pelakunya?" ucap Ferry sambil melihat kearah Renzo.


Renzo yang awalnya berkata dengan lantang, kini menciut melihat tatapan mata kedua orang tua Carmila.


Tapi mau tidak mau ia harus menghilangkan kegugupannya itu agar bisa menyematkan carer nya di masa depan.


Renzo pun mulai menceritakan semua yang di katakan oleh Carmila, tapi ia tidak mengatakan bahwa setelah itu Valia menemukan seorang dosen untuk menyerahkan tugasnya.

__ADS_1


Carmila, Nero dan Kaliandra mengeryitkan dahinya, sedangkan Ferry juga tampak mengernyitkan dahinya.


"Kau yakin tidak melupakan sesuatu?" tanya Ferry mencoba memastikan kali.


"Tidak ada," jawab Renzo dengan tegas.


Ferry pun menghela nafas dengan pelan "Baiklah, sepertinya kau hanya membuang-buang waktuku, ucapanmu itu tidak bisa memperkuat bukti, jadi sebaiknya aku pamit undur diri," ucap Ferry sambil beranjak dari tempat duduknya dan hendak pergi.


Renzo yang mendengar itu pun langsung terkejut, ia langsung menghentikan Pergerakan Ferry.


"Apa?!, bagaimana bisa seperti itu?!, bukankah aku sudah menangkap pelakunya?, kenapa kalian seperti ini?" tanya Renzo dengan binggung.


Ferry yang mendengar itu langsung membalikkan tubuhnya, "kau tidak mengatakan ulang tentang wanita itu yang tengah bertemu dengan dosen, sebenernya kau ingin membantu kami atau malah mempersulit kami?" kesal Ferry.


Renzo tiska menegangkan bahwa Ferry mendengar kan perkataan Carmila, ia tampak mulai ketakutan dengan kegarangan Ferry.


Mata Ferry pun langsung beralih pada Valia, "kau!, panggil dosen yang sedang kau temui saat itu," ucap Ferry sambil menatap Valia.


Valia yang mendengar itu tidak langsung menjawab pertanyaan Ferry. "padahal aku hanya mencari sebuah alasan, tapi kenapa sekarang menjadi semakin rumit," batin Valia yang sedikit kebingungan.


"Lihat!, dia hanya diam dan tidak menjawab pertanyaanmu, sepertinya memang benar bahwa dialah pelakunya," ucap Renzo dengan keras.


Mata semua orang kini menatap kearah Valia, tatapan mata mereka bahkan antara percaya dan tidak percaya.


Tapi tiba-tiba saja, seseorang membuka pintu dan mata semua orang menoleh kearah orang itu.


Dosen itu pun berjalan masuk kedalam ruangan, "Maaf karena sudah menerobos masuk, tapi aku ingin memperjelas semuanya, bahwa Valia saat itu memang benar menemui ku, dia juga menyerahkan tugasnya ini," ucap seorang dosen pria yang menunjukkan sebuah kertas putih yang tengah tergulung di tangannya.


Renzo yang mendengar itu merasa sangat terkejut, "Sial!, ternyata dia benar-benar menemui Devid," batin Renzo yang sekarang benar-benar kesal.


Sedangkan Valia yang mendengar itu mulai mengeryitkan dahinya, "aku sama sekali tidak bertemu dengannya, apa dia mengetahui sesuatu?," batin Valia sambil menatap kearah Devid.

__ADS_1


Devid pun menatap kearah Valia, dan membuat pandangan keduanya saling menatap satu sama lain.


Valia hanya menunjukkan wajah datar, sedangkan Devid menunjukkan senyuman manisnya.


Ferry sekarang menatap kearah Renzo, "lihatlah, apa bukti ini cukup jelas?, kau hanya membuang-buang waktu ku saja," ucap Ferry yang benar-benar cukup kesal karena telah di permainkan oleh Renzo.


Ferry pun langsung melangkah pergi meninggalkan mereka semua yang ada di sana, sedangkan kedua orang tua Nero dan Carmila tengah menatap Renzo dengan tajam.


"Aku tidak akan melupakan perbuatanmu itu pada putriku," ucap Ethan dengan wajah yang terlihat tampak marah.


"Ti-tidak pak!, aku tidak melakukan apapun, tolong maafkan aku," ucap Renzo sambil memohon pada maaf.


"Kau benar-benar keterlaluan, aku mengenal Valia, dia adalah orang yang sangat baik, jdi tidak mungkin dia adalah pelakunya, tapi didepan polisi kau dengan lantang menuduhnya tanpa adanya bukti," timpal Kaily.


Renzo yang mendengar itu merasa semakin ketakutan, awalnya ia berfikir bahwa semuanya berjalan sesuai dengan kehendaknya, tapi siapa sangka keberadaan dosen Devid justru membuat rencananya hancur berantakan.


Bahkan sekarang Renzo mulai merasa terintimidasi oleh mereka semua.


"Aku akan melaporkan kejadian ini pada petinggi perusahan, aku tidak terima putriku mendapatkan hal yang tidak menyenangkan seperti ini," ucap Liana sambil melihat kearah Renzo.


"Ja-jangan lakukan itu, aku sungguh minta maaf," ucap Renzo sambil menempelkan kedua tangannya dan memohon pada keempat orang tua itu.


"Apa kau lupa seharusnya kau juga memohon pada satu orang lagi," ucap Kaily sambil menatap Renzo dengan tajam.


Awalnya Kaily sedikit binggung melihat nama Nero yang tertera di ponselnya, Kaily bahkan semakin binggung ketika sang putra menyuruhnya datang ke kampus.


Kaily berpikir bahwa Nero terkena sebuah masalah, tapi ternyata yang terkana masalah adalah Valia.


"Dia pasti berpikir untuk menolong temannya itu, karena setelah ku lihat, sedari tadi pria tua itu terus memojokkan Valia, dan yang bisa membuatnya bungkam adalah kami para orang tua," batin Kaily.


Renzo yang mendengar itu langsung menatap kearah Valia, awalnya wajah itu tampak terlihat tidak senang, tapi mau tidak mau ia harus meminta maaf pada Valia.

__ADS_1


"Jika bukan karena mereka, tentu aku tidak mau melakukan hal ini," batin Renzo dengan kesal.


Bersambung ...


__ADS_2