Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Mengusir Telisa


__ADS_3

Keduanya duduk berdampingan, tubuh keduanya tampak bergetar ketakutan "bagaimana sekarang?, aku benar-benar takut jika harus di interogasi," ucap Rila sambil menunduk dan menggigit kuku nya.


Jian yang mendengar hal itu juga semakin merasa ketakutan, "Diam lah Rila, aku juga sedang memikirkan hal ini," gumam Jian sambil berpikir dan terus menggoyangkan kakinya.


Sedangkan Valia, kini tengah tersenyum smirk melihat kedua orang itu sangat ketakutan, lalu ia mengubah senyum itu menjadi wajah datar.


Tapi, ketika para mahasiswa sedang membicarakan Asra, tiba-tiba saja seorang wanita langsung duduk di samping Valia.


Ia terlihat sangat antusias berbicara pada Valia, "Valia, apa kau sudah mendengar berita tentang Asra?," tanya wanita itu yang berusaha mendekati Valia.


Valia melirik kearah wanita itu, ia menunjukkan raut wajah kesal, "Apa kau tidak bisa menjauh dariku?, berhentilah mencari muka di depanku, bukankah kau mengatakan aku tak sepadan dengan mu?," ucap Valia dengan nada tinggi tanpa memutar lehernya.


Seketika saja, kelas yang tadinya riuh itu menjadi hening, dan tatapan para mahasiswa itu pun mulai tertuju pada Valia dan juga wanita itu, sehingga wanita yang duduk disamping Valia terlihat sangat gugup.


Valia bisa melihat bahwa wanita itu tengah gugup, dan Valia berencana untuk membuatnya tampak semakin gugup bahkan mungkin saja membuat wanita itu tidak menunjukkan batang hidungnya lagi dari depan Valia


"Menjauhlah dariku, aku tidak membutuhkan teman bermuka dua sepertimu," ucap Valia lalu menoleh kembali ke luar jendela.


Mendengar kata pengusiran dari Valia, membuat para mahasiswa itu melotot dengan sempurna, selama satu kelas dengan Valia, mereka tidak pernah mendengar Valia berbicara kasar seperti itu.


Dari pantulan kaca, Valia melihat wanita itu tengah menatapnya dengan tajam, sedangkan wanita itu tidak melihat Valia yang tengah menatapnya.

__ADS_1


"Kau orang yang selalu di dekat Valia, tapi entah kenapa, seluruh perkataan Valia bisa tersebar pada Jian, Asra, dan Rila. Kau pasti mendekatiku kembali karena ingin melihatku di rundung oleh kedua orang itu lagi, tapi, karena kau ingin bermain denganku, maka aku akan menerima seluruh tantangan itu," batin Valia


Dalam ingatannya, ia melihat wanita itu sangat dekat dengan Valia, Ketika Valia menceritakan hal-hal tentang apa yang disukai dan tidak disukainya pada wanita itu, ternyata keesokan harinya Jian melakukan hal-hal yang benar-benar tidak di sukai Valia, bahkan semua itu persis seperti yang di katakan nya pada wanita itu.


"Dasar Valia asli bodoh, bagaimana kau bisa bertahan dengan teman bermuka dua seperti dia?, beruntung kau tidak mengatakan tentang identitas aslimu, jika tidak, aku yakin bahwa dia akan terus memeras mu," batin Valia sambil terus menatap wanita itu dengan tatapan tajam.


Kelas Valia berada di lantai 1, tapi ruang kelas itu memiliki meja yang bertingkat, dan Valia memilih berada di lantai paling atas agar bisa melihat pemandangan yang ada di luar jendela.


Dan kebetulan, Valia terkejut ketika Garnov lewat dari samping kelasnya dan Valia bisa melihat dari kaca yang tembus pandang itu, "aku akan membalas semua rasa sakit ini Granov, walaupun kau yang saat ini tidak mengetahui apapun, tapi aku tetap akan membalaskan dendamku ini padamu!" batin Valia sambil menggenggam satu tangannya yang berada di bawah meja.


Lalu Valia berpikir untuk meneror Granov, ia pun mencoba berpikir dengan matang untuk mengambil langkah yang akan di gunakannya pada Granov.


Wanita yang ada di samping Valia, tetap duduk diam sambil menatap Valia, sedangkan Valia hanya melirik saja, ia bahkan tau bahwa wanita itu tidak ingin terekspos bawah dirinya adalah mata-mata yang digunakan oleh Jian.


Mata para mahasiswa itu mengarah pada Valia yang tengah berdiam di sudut ruangan, Rila dan Jian juga menoleh kearah Valia.


Valia yang melihat tatapan mereka semua dari pantulan kaca juga menatap mereka semua, "Ada apa?," tanya Valia dengan lantang.


Para mahasiswa itu pun terdiam, termasuk Rila dan Jian. Mereka bahkan sudah tidak mempermasalahkan soal ucapan rektor yang menyuruh Valia untuk tidak datang lagi ke campus.


Sedangkan Wanita itu tidak bergerak dari kursinya, setelah mendapat pertanyaan dari Valia, wanita itu mencoba menetralkan emosi dan mencoba mencari simpati teman-teman yang ada di kelasnya.

__ADS_1


Wanita itu mengubah raut wajahnya menjadi sedih, bahkan ia pun mulai mengeluarkan cairan bening itu dari kedua matanya, "Kenapa kau seperti ini?, kenapa kau mengusirku?, kau tidak seperti Valia yang aku kenal lagi," ucap wanita dengan meneteskan air mata itu terus menerus.


Valia kini melirik kearahnya, ia terlihat bosan dengan drama yang di mainkan oleh wanita itu, "apa kau ingin aku seperti dulu?, yang seenaknya bisa kau tindas semau mu?," tanya Valia sambil mencondongkan wajahnya ke depan.


Wanita itu terkejut, ia tidak menyangka Valia bisa berbicara seperti itu padanya, "Aku?, apa aku pernah melakukan itu padamu?," tanya wanita itu dengan cairan bening yang sudah jatuh dengan deras di pipinya.


Valia pun semakin memajukan wajahnya, hingga wajah itu berada di samping daun telinga wanita itu, "Kau, memang tidak melakukan itu secara terang-terangan, tapi kau melakukan nya secara diam-diam, dan kau memberitahukan semua yang tidak ku sukai pada Jian dan kelompoknya, apa aku benar, Telisa?," bisik Valia sambil memundurkan wajahnya dan mulai tersenyum pada Telisa.


Telisa yang mendengar itu pun terlihat sangat terkejut, sekujur tubuhnya seakan sangat kaku, ia bahkan tidak berani untuk menggerakkan tubuhnya itu.


"Pergilah dari hadapan ku," ucap Valia sambil tersenyum.


para mahasiswa itu pun mulai berbicara tentang sikap Valia yang sangat berubah, mereka bahkan antara suka dan tidak suka dengan sikap Valia yang seperti itu.


Menurut mereka, Valia yang sekarang bermulut pedas dan jauh lebih mengerikan.


Sedangkan Rila dan Jian, hanya menatap Valia dan Telisa dari kejauhan, "dia benar-benar sudah berubah, sepertinya kita harus lebih berhati-hati padanya," gumam Jian pada Rila.


Tiba-tiba saja pihak kampus mengumumkan untuk membuat para mahasiswa libur, karena mereka sedang berduka untuk anak dari salah satu pemegang saham yang telah meninggal dunia.


Valia yang mendengar itu merasa sangat senang, lalu ia langsung berdiri dari tempatnya dan tidak memperdulikan Telisa yang tengah terduduk seperti patung.

__ADS_1


Valia pergi ke sebuah aula yang cukup besar di kampusnya, ia teringat dengan satu hal, lalu Valia pun mulai mengeluarkan laptopnya dan segera menghapus cctv yang merekamnya ketika sedang menabrak Asra.


Bersambung ...


__ADS_2