
Mereka pun keluar dari rumah sakit bersama-sama, lalu mereka semua memasuki mobil Kaily kembali.
Nero memilih untuk mengemudi kan mobil itu,
dan setelah mobil itu bergerak, suasana di dalam mobil terasa sangat hening, bahkan di sepanjang perjalanan tidak ada dari mereka yang membuka pembicaraan, Karena semuanya tengah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Walau mereka sudah berbincang-bincang cukup lama, tapi kecanggungan itu bisa di rasakan oleh Nero.
Sedangkan Valia hanya menatap keluar sambil menikmati pemandangan yang di lewati oleh mobil mereka.
Nero melajukan mobilnya ke sebuah Villa yang cukup megah, Carmila yang melihat itu merasa mulai membulatkan matanya, ia bahkan terkejut karena Nero mengetahui alamat nya.
"kau mengetahui alamat mansion ku?," tanya Carmila dengan memastikan.
"Tentu saja, semua orang di kampus mengetahuinya, apa kau lupa bahwa orang tuamu begitu terkenal di dunia bisnis?," tanya Nero sambil menoleh ke belakang.
Carmila yang mendengar itu merasa bahwa dirinya sedikit bodoh, "benar apa yang di katakan nya," batin Carmila sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Sedangkan Valia yang mendengar itu langsung menoleh kearah Carmila dan tertawa kecil, "haha ... kau lucu sekali, bahkan kau sendiri bisa lupa dengan identitas mu," ucap Valia di sela tawanya.
Carmila yang mendengar ledekan itu mulai memanyunkan bibirnya, "berhenti menertawakan ku, kau jahat ... aku pergi dulu," ucap Carmila yang merasa cukup malu karena Valia menertawainya.
"terimakasih Nero, dan bibi Kaily, lain kali mampirlah kesini, mansion ini akan selalu terbuka untuk kalian," ucap Carmila sambil tersenyum pad Nero dan Kaily.
Lalu Carmila melirik kearah Valia, "tapi tidak berlaku untuk Valia," lanjut Carmila sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam mansion.
"Haha ... dia sangat menggemaskan," ucap Valia sambil tertawa geli.
Kaily yang melihat Valia tertawa hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Sedangkan Nero terus memperhatikan Valia, "Jika di lihat lebih lama, semakin hari Valia terlihat semakin cantik," batin Nero.
__ADS_1
Valia pun mengehentikan tawanya, kini ia melihat kearah Nero yang membuat tatapan keduanya bertemu, Nero terkejut dengan hal itu, ia tampak terlihat gugup dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Nero pun mulai teringat dengan sesuatu, "Valia, siang ini kita memiliki kelas bu Gleni, apa kau menghadiri kelasnya?" tanya Nero tanpa menoleh kearah Valia.
Seketika saja Valia tersenyum smirk, dan senyum itu tak sengaja terlihat oleh Nero, "Aku akan menghadirinya,"ucap Valia lalu menghilangkan senyuman itu.
Nero hanya melihat senyum itu sekilas saja, karena ia harus fokus menyetir mobil,"Apa tadi dia tengah tersenyum?," batin Nero lalu kembali melirik kearah kaca.
Dan Nero tidak melihat senyuman itu lagi, "sepertinya aku salah lihat," batin Nero lalu mulai fokus menyetir.
"Haha ... aku sangat menantikan pertunjukan ini, sepertinya akan sangat menyenangkan melihat reaksi mereka yang pasti akan ketakutan" batin Valia yang tengah tersenyum lagi.
...****************...
Di sebuah mansion yang cukup luas, Jian tengah terduduk di kamarnya, di dalam pikirannya hanya terlihat perkataan Gleni.
"Apa maksud bu Gleni?, kenapa dia menyuruhku untuk pergi dari sana?," gumam Jian sambil memeluk boneka yang sangat besar di pangkuannya.
Sejak Gleni menarik tangannya untuk keluar dari ruangan, Jian terus memikirkan alasan di balik itu semua, tapi ia tidak pernah menemukan jawabannya.
"Jian," panggil seorang wanita dari luar kamar.
Jian yang tengah termenung sontak saja terkejut, "ada apa, ma?" teriak Jian dari dalam.
Seroang wanita paruh baya menekan handle pintu dan membuka pintu itu dengan lebar, ia pun berjalan dengan langkah gontai menghampiri Jian.
Wanita itu melihat anaknya tampak tak bersemangat, ia pun mengeryitkan dahinya, "ada apa?, kau bisa menceritakan apapun pada mama," ucap wanita paruh baya itu sambil mengelus pucuk kepala Jian.
Mendengar hal itu, tiba-tiba saja ia teringat dengan Valia, "Ma, aku ingin menghancurkan seseorang yang ada di kampus, apa kau menyetujuinya?," tanya Jian pada wanita paruh baya itu.
Wanita itu semakin mengeryitkan dahinya, "memangnya apa yang sudah di lakukannya padamu?," tanyanya dengan penuh selidik.
__ADS_1
Jian pun memulai mengeram marah, "dia sudah membuatku malu, aku akan membalas penghinaan ini berkali-kali lipat," geram Jian sambil menatap wanita itu dengan mata melotot.
Wanita itu sangat mengenal anaknya, jika Jian sudah meminta menghancurkan seseorang, artinya orang itu benar-benar sudah melakukan kesalahan, bahkan mungkin sudah masuk dalam kategori fatal.
Seketika saja, wanita itu pun tersenyum smirk, "kau bisa melakukan apapun, mama akan selalu mendukungmu," ucap wanita itu sambil mencium pucuk kepala Jian.
Jian yang mendengar itu langsung tersenyum ceria, "mama memang paling mengerti aku," ucap Jian sambil memeluk wanita itu.
"Tentu saja, kau anak mama satu-satunya, sudah ... sudah, bukankah kau ada kelas siang ini?, jadi bersiaplah untuk membersihkan diri, papa dan mama akan menunggumu di bawah" ucap wanita itu sambil berdiri dari tempat tidur Jian dan melangkahkan kaki keluar kamar.
Jian merasa hatinya tengah berbunga-bunga, jika orang tuanya mengatakan seperti itu, artinya dia bisa melakukan apapun dan jika dirinya terkena masalah, maka orang tuanya akan memasang badan untuknya.
"Haha ... Valia, aku yakin bahwa kali ini aku akan bisa membuatmu menderita," umpat Jian dengan mata menatap lurus kedepan sambil tersenyum senang.
Setelah menyelesaikan kata-kata umpatan itu, Jian pun bangkit dari tempat tidurnya dan mulai membersihkan diri.
Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya Jian telah selesai merias dirinya, lalu ia pun langsung turun kebawah dan menghampiri kedua orang tuanya.
Mereka pun makan dengan lahap, wanita itu melihat sang putri tengah tersenyum ceria, "sepertinya dia sudah memiliki ide untuk menjebak orang itu. Apapun yang dia lakukan aku pasti akan melindunginya," batin wanita itu.
Sang suami menatap kearah istrinya yang tengah tersenyum, ia bisa melihat senyum itu karena keduanya saling berhadapan dan hanya di halangi oleh sebuah meja.
"Ada apa?, sepertinya suasana hatimu sedang baik hari ini," ucap sang suami sambil menyesap kopinya.
"Benar sayang, aku tersenyum karena melihat putrimu tengah tersenyum terus menerus," ucap wanita itu sambil melirik kearah Jian yang berada duduk di samping suaminya.
Suaminya pun mulai menoleh ke samping, dan benar saja, ia melihat sang putri tengah tersenyum sambil mengunyah makanannya, dan bahkan mungkin putrinya tidak mendengar apa yang tengah mereka katakan.
"Kenapa kau terus tersenyum, Jian?,"
Jian menghentikan maknanya dan menoleh kearah sang papa, "Aku merasa sangat senang karena ada orang yang akan bermain denganku nanti, dan permainan ini akan sangat manarik pa,"
__ADS_1
Bersambung ...