Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Kecurigaan Jian


__ADS_3

"Ini adalah daging manusia," ucap sang dokter sambil berdiri dan langsung berbalik menghadap polisi dan detektif.


Semua orang yang mendengar itu merasa sangat terkejut, bahkan ada yang memuntahkan isi perut mereka, bahkan ada juga yang langsung pergi meninggalkan lokasi.


Sedangkan Delna, sudah tidak bisa menumpuk tubuhnya dan membuatnya terjatuh kembali, Rila dan Jian yang mendengar itu terus gemetar ketakutan.


Lalu seseorang juga baru saja tiba di tempat mereka, Ia melihat salah seorang mahasiswa tengah memegang tembok sambil menunduk, lalu wanita itu menepuk pundak salah satu mahasiswa itu.


"Ada apa?," tanya orang itu dengan raut wajah binggung.


Mahasiswa itu pun menoleh kearahnya, "telah di temukan da-daging manusia di ruangan bu Gleni," ucap salah satu mahasiswa yang tengah memegang perutnya.


Wanita itu pun berjalan dan melihat Rila dan Jian yang terus terduduk dengan keringat dindin yang sudah membasahi kening mereka.


"Jian!, Rila!, apa yang kalian lakukan disini?," tanya Wanita itu sambil berlari kearah mereka.


Rila dan Jian langsung menoleh kearahnya, sedangkan Jian tengah melototkan matanya, "Va-Valia?" gumam Jian dengan mulut yang sudah bergetar hebat.


"Kenapa kau ada disini?" teriak Rila dengan marah, sekarang ini, ia sungguh tidak ingin Valia melihatnya dalam keadaan kacau seperti sekarang ini.


Semua para mahasiswa itu menolah kearah mereka, bahkan polisi, detektif dan dokter juga melihat kearah mereka.


Valia pun berjongkok dan melihat kearah Jian, "kenapa kau berteriak seperti itu padaku?, aku bahkan tidak melakukan apapun," ucap Valia dengan nada sedih tapi wajahnya tengah tersenyum smirk.


Valia memunggungi semua orang, jadi mereka tidak melihat wajah Valia, dan hanya Rila dan Jian lah yang mengetahui wajah menyeramkan itu.


Keduanya tampak mulai ketakutan, tapi Jian dan Rila melihat semua orang menatap mereka dengan tatapan mengejek.


"Disaat seperti ini mereka bahkan memarahi Valia, apa mereka tidak punya rasa malu?" gimana Mahasiswa lainnya.


"Orang kaya selalu bersikap memampukan, kau tidak bisa memungkiri hari itu,"timpal mahasiswa lainnya.


Valia yang mendengar itu semakin senang, ia bahkan semakin tersenyum lebar tapi ia terus membuat nada sedih.

__ADS_1


"Kau hanya ingin menolong kalian, tapi kenapa kalian memperlakukan ku seperti ini?," gimana Valia yang semakin ingin memprovokasi orang-orang yang ada di sana.


"kau!, rencana mu itu tidak akan pernah berhasil," bisik Valia sambil menatap Jian dengan tajam.


Jian terkejut mendengar hal itu, ia yang sudah ketakutan langsung mendorong tubuh Valia. "pergi!" teriak Jian dengan tubuh yang gemetar.


Seorang mahasiswa lainnya langsung membantu Valia, ia bahkan menatap tajam kearah Jian, "benar-benar memalukan, kau masih saja memperlakukan Valia seperti ini," ucap seorang pria sambil memegang pundak Valia.


Jian terkejut karena kata-kata dari mahasiswa itu terus memojokkannya, padahal pundak orang yang mereka pegang adalah milik orang yang sangat menakutkan.


"Kau mengejekku!" teriak Jian dengan marah.


Pria yang memegang pundak Valia semakin kesal mendengar perkataan Jian, "buka matamu!, apa wajah seperti ini tengah mengejek mu!" balas pria itu sambil melihat wajah Valia.


Seketika saja senyum yang di tampilkan Valia menghilang dan di gantikan dengan ekspresi sedih, Rila dan Jian terkejut melihat Valia begitu cepat mengganti ekspresinya.


"Pergilah dari sini, kalian menganggu konsentrasi kami," ucap Polis itu sambil mengusir semua mahasiswa yang ada di sana.


Mereka semua pergi dari tempat itu, lalu Rila juga memembantu Jian berdiri, sedangkan Jian justru terus memikirkan perkataan Valia, "bagaimana dia bisa selamat?, saat itu kami tidak mendapat pesan balasan dari para bandit itu, dan tiba-tiba saja sebuah pesan masuk kedalam ponsel ibu Gleni, lalu dia menyuruhku untuk pergi, Apa semua ini berhubungan dengan Valia,?" batin Jian yang tengah termenung.


Delna menoleh ke sumber suara, ia melihat Jian tengah menghampirinya, "Jian, apa kau melihat adikku?" tanya Delna dengan mata yang terlihat sudah bengkak.


Jian terkejut mendengar hal itu, jantungnya mulai berdegup kencang, "Ibu, saat kami berpisah, aku tidak lagi melihat ibu Gleni, bahkan sekarang aku tengah mencarinya," jawab Jian yang mulai berjongkok di hadapan Delna.


Delna melototkan matanya, "Apa?, kapan terakhir kau bersamanya?," tanya Delna sambil memegang kedua pundak Jian.


"Ke-kemarin," jawab Jian yang tengah terkejut melihat reaksi Delna.


Delna melototkan matanya, "Dia tidak pulang ke rumah, aku sudah berusaha menghubunginya tapi panggilan itu tidak pernah terhubung sama sekali," ucap Delna sambil menunduk.


Jian kembali terkejut mendengar hal itu, ia kini langsung terpaku dan tidak bergerak sama sekali, lalu ia pun menoleh kearah ruangan Gleni.


"Ibu, apa kau merasa ini bukanlah sebuah kebetulan?" tanya Jian sambil menatap lurus kedepan.

__ADS_1


Delna terkejut mendengar perkataan Jian, tangan yang masih mencoba menghubungi ponsel Gleni kini terhenti.


Sedangkan Rila masih tidak mengerti dengan ucapan Jian, ia terus mendengarkan perkataan Jian.


"Apa maksudmu?" tanya Delna sambil melihat kearah Jian.


"Ibu Gleni menghilang, dan sekarang di ruangannya terdapat daging manusia, apa jangan-jangan itu adalah ... " ucap Jian yang tengah menggantung.


Tapi tatapan Jian terus menatap punggung Valia yang tengah berjalan meninggalkan ruangan itu.


Delna langsung menggelengkan kepalanya, ia mulai menangis dan membuka mulutnya dengan lebar, "ti-tidak mungkin!" teriak Delna histeris.


Tangisan itu membuat para mahasiswa terkejut, mereka semua menoleh kearah Delna, begitu juga dengan Valia dan pria itu, mereka juga menoleh kearah Delna.


Sedangkan Valia melihat Jian tengah menatapnya dan membuat tatapan keduanya bertemu.


Valia bisa menebak bahwa Jian pasti sudah mencurigai dirinya, tapi Valia tidak memperdulikannya lalu ia langsung mengembangkan senyumannya.


"Lo-ser," ucap Valia tanpa mengeluarkan suaranya.


Jian terus menatap Valia, ia pun mengeryitkan dahinya sambil membaca pergerakan mulut Valia. "lo-ser," Jian pun mencoba mengikuti perkataan itu dan membuat Jian melototkan matanya.


"Kau!" pekik Jian dengan marah, namun tubuhnya merinding melihat senyuman Valia.


"Apa semua ini memang ulahnya?," batin Jian sambil berpikir ulang tentang kejadian-kejadian yang begitu janggal.


Rila terkejut mendengar suara Jian, ia mengikuti arah mata Jian, dan di sana Rila juga melihat bahwa Valia teringat tersenyum smirk kearah mereka.


Tapi hal itu tetap membuat Rila tidak mengerti, ia bahkan berulang kali menatap Jian dan Valia secara bergantian.


"Sebenarnya apa yang tengah terjadi?, kenapa Jian menatap Valia seperti itu, bahkan sekarang Jian seperti tengah gemetar ketakutan," batin Rila.


Sedangkan Delna sedikit binggung karena tidak mendengar suara apapun lagi, ia mulai mendongakkan wajahnya dan menatap kearah Jian yang tengah memandangi Valia.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2