
Setelah tertawa bersama, Valia melepaskan pelukan nya dari Javier, walau pakaian Javier tidak terkena noda darah, tapi aromanya sungguh menempel di pakaiannya.
Wajah Javier terlihat sangat kesal, "Valia!" teriak Javier sambil melototkan matanya dengan sempurna.
Valia menoleh kearah Javier, ia melihat ayahnya itu tampak sangat kesal, lalu Valia dengan berani mencoba mengejeknya. "Itu salah ayah karena telah menertawakan ku" teriak Valia sambil berlari keatas dan langsung masuk kedalam kamarnya.
Setelah Valia menutup pintunya, ia menampilkan senyuman yang sangat lebar, "Ternyata seperti ini memiliki sebuah keluarga yang harmonis" gumam Valia dengan nafas terengah-engah.
Lalu, Valia melihat ada sebuah pemanas manual yang masih menggunakan kayu, kamar yang di tempati oleh Silyena saat ini adalah kamar yang sangat luas, memiliki 2 sofa besar dan satu meja di tengahnya.
Ia juga melihat sebuah tempat tidur yang luas, Valia menelusuri dinding yang ada di kamarnya, ia bahkan masih tampak begitu tidak percaya bahwa dirinya lah pemilik kamar ini.
Dinding dengan cat berwarna biru membuat hati siapapun begitu tenang melihatnya, bahkan di tambah dengan interior yang sangat luar biasa, akan membuat siapa pun yang melihatnya pasti sangat iri.
"Aku masih saja terlihat sangat takjub ketika melihat kamar ini," gumam Valia sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Valia pun membakar kayu itu dan langsung membuka pakaiannya dan melempar ke api itu.
Kini tatapan Valia terlihat sangat datar dan tajam, "ini sungguh sangat menarik, dengan ini kalian akan terkana sanksi sosial" gumam Valia yang sedang merogoh saku celana, lalu mengeluarkan barang itu dan memegang bolpoin itu tepat di depan wajahnya.
Bolpoin itu diberikan oleh Javier, ia tidak ingin anaknya berada dalam masalah, jdi ia membuat sebuah bolpoin yang bisa merekam suara orang.
Selama ini, Javier terkejut melihat wajah putrinya yang memiliki luka memar. Karena sudah tahan lagi, Javier pun memberikan perintah pada perusahaannya untuk membuat sebuah bolpoin itu.
Dan bolpoin itu hanya sepuluh buah di produksi oleh Javier, dan semua itu hanya di miliki oleh Valia seorang.
Javier memberikan tiga diantara pada Valia, tapi, satu bolpoin kini tengah berada di tangan Gleni.
"Aku akan mengambil benda itu dari tangan mu" gumam Valia sambil memencet satu tombol di bolpoin itu.
Terdengar suara pengakuan dari para pria yang baru saja di habisi oleh Valia.
__ADS_1
Keesokan paginya, Valia bangun dan langsung bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Ia menuruni anak tangga dengan cara berlari.
Valia terlihat mengenakan kaos putih dan celana jeans biru, ia menggunakan sepatu kets Putih, tidak lupa Juga Valia menguncir rambutnya yang sependek pundak itu dan membawa sebuah tas ransel yang tidak terlalu besar.
Javier dan Nisia yang berada di bawah justru sangat terkejut melihat Valia yang begitu aktif, mereka bisa melihat bahwa pakaian yang di kenakan Valia terlihat sangat berbeda.
"Ibu, ayah, aku berangkat sekarang, dan aku akan membawa sebuah mobil ke kampus" teriak Valia yang begitu nyaring.
Setelah sampai di bagasi, Valia terkejut melihat begitu banyak mobil yang di koleksi oleh Javier. semua itu adalah mobil Valia asli sebagai hadiah ulang tahun.
Tapi, Valia asli tidak pernah membawanya karena ia tidak bisa membawa mobil, dan hal itu membuat Javier hanya bisa mengoleksinya saja.
Javier dan Nisia terkejut mendengar perkataan Valia, keduanya pun berlari dan terlihat Valia sudah membawa sebuah mobil yang benar-benar sangat mahal, yaitu Lamborghini Veneno.
"Apa kau melihatnya sayang?, apa benar dia telah membawa mobil itu sendirian?" tanya Nisia yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya.
"Benar, dia telah membawa mobil itu sendirian" ucap Javier yang masih terkejut.
"Kita harus menanyainya saat dia berada di rumah, perubahan yang di lakukannya itu seperti tidak bagus untuk jantungku" ucap Javier yang menghela nafas.
Di Dalam mobil, Valia tengah tersenyum manis, ia pun membawa mobil itu dengan sangat santai.
Setelah hampir di depan kampus, Valia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, ia tampak tak terlihat ketakutan.
"Karena kau ingin bergaya miskin, maka aku akan melakukan sesuai dengan perbuatan dulu" ucap Valia sambil mengangkat tasnya dan keluar dari mobil dengan sangat santai.
Valia memasuki kampus dengan berjalan kaki, lagi-lagi semua mata para mahasiswa tengah menatap kearahnya, tapi Valia tampak tidak perduli.
Valia sangat terkenal di kampus nya, bukan karena prestasi, melainkan karena pembulian yang dilakukan oleh Jian padanya.
Setelah Jian merundungnya, ia menyebar luaskan video itu ke seluruh mahasiswa kampus, dan hal itu membuat Valia terkenal dalam waktu semalam.
__ADS_1
Dalam langkahnya menuju ruang kelas, ia ternyata bertemu dengan Carmila.
Valia tampak terkejut, ia pun langsung berlari dan langsung memeluk Carmila.
"Ibu!" ucap Valia sambil memeluk Carmila.
Carmila tampak terkejut, ia pun dengan cepat langsung mendorong tubuh Valia agar menjauh darinya.
Carmila yang mendapat pelukan serta panggilan itu pun merasa sangat terkejut "Ibu?, hei, ada apa denganmu?" ucap Carmila sambil melihat wajah Valia yang tengah menatapnya dengan raut wajah sedih.
"Sadar Silyena, dia bukan ibumu lagi, ini waktu yang tepat untuk menarik simpatinya" batin Valia yang tengah berfokus pada Carmila.
"Tolong maafkan aku, kau sangat mirip dengan ibu angkat ku, jadi aku secara spontan memelukmu dan memanggilmu ibu," ucap Valia yang mulai menitikkan air matanya.
Carmila tampak merasa kasihan pada Valia, kini ia mendekatkan dirinya pada Valia dan langsung mengelus punggung Valia "tidak apa-apa, lagi pula itu bukan masalah yang besar, apa ibu angkat mu ada di kota ini?" tanya Carmila dengan pelan.
"Tidak, dia sudah tiada" ucap Valia sambil menggelengkan kepalanya.
Sedangkan Carmila jantungnya berdenyut ketika mendengar perkataan dari Valia.
Valia tidak menyadari bahwa Carmila sedang berjalan dengan seorang, ketika Valia mendongakkan wajahnya, seketika saja, tatapan Valia berubah menjadi tajam.
Orang yang tidak ingin dilihatnya kini sudah berdiri di hadapannya.
Sedangkan orang yang bersama Carmila justru terkejut melihat tatapan Valia padanya. Ia bisa melihat bahwa didalam tatapan Valia seperti tatapan penuh dendam, tapi ia berfikir bahwa mereka berdua baru saja bertemu, dan tidak mungkin memiliki dendam satu sama lain.
Valia bisa melihat bahwa pria itu tengah menatapnya binggung, dan Valia kini menampilkan senyumnya.
"Halo kak, perkenalkan namaku Valia" ucap Valia sambil mengubah ekspresinya dengan senyuman dan menjulurkan tangannya di hadapan pria itu.
Pria itu terkejut dan ia mencoba menampik pikirannya "Granov Amoriya" balas orang itu sambil ikut menjulurkan tangan
__ADS_1
Bersambung ...