Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Memotong Dua Lidah


__ADS_3

Carmila yng mendengar itu bahkan sangat menyetujuinya, "Benar, aku bahkan lebih memilih berteman dengan Valia dari pada kedua temanku yang tadi," ucap Carmila sambil melihat-lihat menu yang akan di pesan olehnya.


Sekarang, Valia tengah berjalan ke toilet, ia tidak sengaja mendengar sebuah percakapan yang menyelipkan nama Valia dan Carmila.


Valia dengan cepat mengeluarkan bolpoin edisi terbatas itu dan langsung merekam percakapan keduanya.


"Bisa-bisanya Carmila memiliki kekayaan yang begitu banyak, sedangkan aku, orang tuaku hanya pengusaha tekstil yang tidak terlalu terkenal. Hal itu benar-benar membuatku iri," gimana Zewina sambil mengeram marah.


"Aku kira hanya aku saja yang iri dengan kehidupannya, ternyata kau juga," timpal Fallen yang tengah berkaca dan membenarkan make up nya.


"Tentu saja, siapa yang tidak iri dengan kehidupan mewah yang di jawani oleh Carmila, dia bahkan anak satu-satunya dari keluarga itu, lalu dia juga memiliki wajah yang cantik dan juga pacar yang sempurna. Aku sungguh tidak suka melihatnya bahagia, sedangkan aku tidak memiliki apapun," ucap Zewina sambil memukul wastafel yang ada di depannya.


Brukk


"Hei, untuk apa kau melampiaskannya disini, kenapa tidak kau lampiaskan saja pada Carmila, walau kita sudah lama berteman dengannya, tapi tidak bisa di pungkiri bahwa dia adalah sumber kesakitan kita," usul Fallen yang memasukkan lipstik kedalam tasnya.


"Benar, bahkan sekarang dia sudah berani mempermalukan kita di kantin dan bahkan kita juga menjadi tontonan para mahasiswa lainnya," gimana Zewina sambil mengepalkan tangannya.


"Aku juga tidak terima dengan hal itu, jadi sebaiknya kita harus memberinya pelajaran yang cukup berharga," ucap Fallen sambil tersenyum smirk.


"Benar, kita akan memfitnahnya dan membuat Granov menjauh dari Carmila. Aku ingin lihat apakan anak miskin itu bisa membantunya atau tidak," timpal Zewina yang tersenyum smirk.


Valia tengah menyenderkan tubuhnya di balik dinding toilet, ia yang mendengar percakapan itu juga ikut tersenyum smirk.


"Aku bahkan memang berencana untuk menjauhkan manusia laknat itu dari ibu, tapi aku tidak membutuhkan bantuan kalian, karena aku bisa mengurus masalah ini sendirian," batin Valia.


"Apa kalian yakin dengan perkataan kalian itu?," ucap Valia sambil masuk kedalam toilet.


Zewina dan Fallen tampak terkejut mendengar suara seseorang, lalu mereka pun menoleh dan melihat Valia tengah tersenyum smirk kearah mereka.


Keterkejutan itu pun hilang dalam sekejap, Zewina dan Fallen saling memandang satu sama lain.


"Hei, anak miskin, apa kau menguping pembicaraan kami?" ucap Zewina dengan kesal.


Valia menunjuk kata toilet dan ia pun menatap keduanya secara bergantian, "Apa kau tidak bisa melihat?, ini toilet umum, jadi orang bisa masuk kapan saja, termasuk aku. Jadi hal itu tidak bisa di katakan menguping, ingat itu!" ucap Valia sambil mempertegas kalimat terakhir.


"Tapi aku benar-benar tertarik dengan pembicaraan kalian, jadi aku ingin bergabung dengan pembicaraan," lanjut Valia sambil melipat kedua tangannya.


Zewina dan Fallen yang mendengar itu langsung tertawa keras, "Haha ... memang apa yang bisa kau lakukan?, kau hanya anak miskin yang tidak memiliki apapun, bahkan kau saja tidak bisa melampaui kekayaan ku," ucap Zewina di sela tawanya.


"Kau ingin tau apa yang akan aku lakukan?" tanya Valia sambil mengunci pintu toilet itu.


Tapi keduanya tampak tidak takut sama sekali, mereka bahkan menatap Valia dengan remeh.

__ADS_1


Valia mengangkat kakinya dan langsung menendang wajah Zewina.


Brukkk


Arrgghh


Tubuh Zewina menghantam dinding dengan kuat, Fallen melorotkan matanya, ia tidak menyangka bahwa Valia bisa menendang begitu keras.


Ketika Fallen ingin berbicara, Valia juga langsung menendang wajahnya, hingga kepala Fallen berputar dan menimbulkan sebuah bunyi yang begitu mengerikan.


Krekkk


Brukkk


Arrghh


Jika orang lain yang mendengarnya, mereka pasti akan memegang leher masing-masing, karena bunyi itu terdengar sangat mengerikan.


Valia sengaja tidak memberikan Fallen berbicara karena ia tidak ingin orang lain mendengar pertarungan mereka.


Valia berdiri seperti di depan keduanya, "Kalian masih ingin melihat apa yang ingin ku lakukan?" tanya Valia dengan menatap keduanya dengan tajam.


Keduanya tampak terkejut dan mulai ketakutan, mereka bahkan memegang wajah mereka yang terasa begitu sakit.


Valia melangkah dengan pelan dan langsung menginjak tangan Zewina.


Krekkk


Bisa di pastikan bahwa jari-jari Zewina telah patah karena kita sendiri sangat tau bahkan hanya mendengar dari bunyi yang ditimbulkan.


Sedangkan Zewina ingin mulai berteriak, tapi dengan sigap Valia langsung mengeluarkan sebuah pisau, lalu ia menarik lidah Zewina dan mulai memotongnya.


Mmmm


"Kau sangat berisik, aku tidak ingin orang lain melihat kekejaman," ucap Valia sambil berbisik sambil menatap Zewina dengan tajam.


Zewina melototkan matanya, ia bahkan mulai menangis karena lidahnya telah di potong oleh Valia.


"Kenapa nasibku menjadi seperti ini?" gimana Zewina yang tengah terkapar di lantai, bahkan pakaiannya sekarang sudah di penuhi oleh darah nya sendiri.


Sedangkan Fallen langsung menutup mulutnya dan menggelengkan kepalanya terus menerus, ia bahkan mulai memundurkan tubuhnya kebelakang secara perlahan, ia berpikir untuk pergi dari tempat ini.


"A-aku harus pergi, aku tidak ingin dia melakukan hal yang sama padaku," batin Fallen yang berusaha tidak membuat suara apapun dan terus memundurkan tubuhnya kebelakang.

__ADS_1


Valia yang menyadari itu langsung melempar pisau kearah Fallen, dan pisau itu menancap di pundaknya.


Ketika Fallen ingin berteriak, ia mengingat bagaiman Valia memotong lidah Zewina, jadi ia menahan rasa sakit itu sambil menitikkan air mata dan menutup mulutnya dengan rapat.


"Kau tidak ingin berteriak?, kenapa?, kau takut aku memotong lidahmu juga?, bukankah kalian pantas mendapatkannya?," tanya Valia dengan berbagai pertanyaan.


Fallen yang mendengar itu langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat berulang kali.


Setelah rasa sakit di pundaknya itu sedikit mereda, ia pun membuka mulutnya dan mulai memohon pada Valia.


"Tolong maafkan kami, aku juga berjanji tidak akan mengatakan apapun pada orang lain," ucap Fallen dengan memohon.


Zewina yang melihat itu melototkan matanya, ia tidak menyangka bahwa Fallen bisa mengkhianatinya begitu saja.


Mmmm


Fallen yang mendengar itu hanya bisa melihat Zewina, "Maafkan aku, tapi kali ini aku tidak bisa membantumu," batin Fallen dengan mata yang sudah mulai di banjiri air mata.


Valia yng mendengar itu mulia memutar bola matanya dengan malas, ia pun langsung mencengkram mulut Fallen dengan sangat kuat.


Fallen yang terkejut langsung menutup mulut ya dengan rapat. Valia yang melihat itu langsung menarik pisau yang tengah menancap di pundak Fallen dengan sangat kasar.


Mmmm


Rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuh Fallen, tapi ia terus menanahan rasa sakit itu agar bisa Valia tidak memotong lidahnya.


Fallen tetap tidak membuat suara, ia bahkan rela menggigit lidahnya dengan sangat kuat dan tidak memperdulikan rasa sakit itu.


Valia yang sudah sangat kesal, langsung menancapkan pisau itu ke pipi Fallen dan merobeknya.


Mmm


Fallen tampak terkejut, ia bahkan melotot dengan sempurna dan mencoba meronta-ronta, walau mengalami yang mengerikan itu, tapi Fallen tetap menutup mulutnya dengan sangat rapat.


Tapi Valia bahkan tidak kehabisan ide, ia pun menusuk gusi Fallen dengan dalam dan saat itu juga mulut Fallen langsung terbuka dengan lebar lebar.


Arrrghhh


Valia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia langsung menarik lidah Fallen dan memotongnya.


Srekkk


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2