
"Maaf Valia, karena dulu aku menutup mata atas perundungan mu, tapi mulai sekarang, aku akan melawan Roana dan mulai melindungi mu," gumam Kaliandra dengan mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi seseorang.
Setelah mendengar perkataan orang yang di ujung seberang sana, seketika saja kaki Kaliandra berhenti, ia pun langsung mematikan ponselnya dan berlari kearah parkiran mobil.
Dari kejauhan, Kaliandra melihat Nero tengah berhadapan dengan Valia.
Melihat keduanya begitu akrab, membuat Kaliandra mengeram marah, lalu saat Kaki Kaliandra ingin melangkah mendekati Valia dan Nero.
Tiba-tiba saja, ia melihat Carmila tampak menghampiri keduanya, dan saat itu juga Kaliandra mengurungkan niatnya dan berbalik pergi.
"Apa kau baik-baik saja?," tanya Carmila dengan nada khawatir.
Valia yang mendengar itu mulai tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "aku baik-baik saja, tapi bagaimana bisa kau tepat berada di parkiran?," tanya Valia dengan binggung.
Carmila melihat kearah Nero, "dia yang mengirim pesan padaku, jadi ketika kelas selesai aku langsung berlari ke sini," ucap Carmila dengan tersenyum manis.
Valia melirik kearah Nero, sedangkan Nero langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Sudahlah, yang terpenting sekarang kau baik-baik saja," ucap Carmila mencoba mengalihkan pembicaraan agar Valia tidak melirik tajam kearah Nero.
Valia mulai teringat akan sesuatu, "bagaimana hubunganmu dengan Kak Granov?," tanya Valia yang sedikit penasaran tentang hal itu.
Carmila mulai menghala nafas dengan dalam, ia pun langsung menggelengkan kepalanya, "Setiap aku menghubunginya, panggilan itu selalu tidak tersambung," ucap Carmila dengan nada rendah.
Valia yang mendengar itu merasa sangat senang, "bagus, dengan begini perlahan-lahan ibu akan bisa menjauh dari ayah, dan sebentar lagi rencana ku akan tercapai," batin Valia tersenyum smirk.
Raut wajah Valia mulai berubah menjadi sedih, ia pun menunduk, "maafkan aku, jika saja bukan karena diriku, hubunganmu dengan kak Granov pasti tidak akan berantakan seperti ini," ucap Valia dengan perasaan menyesal.
__ADS_1
Carmila yang mendengar itu merasa sangat terkejut, ia pun langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan, "tidak, tidak, kau tidak bersalah, semua ini murni kesalahan dari bibi Karin, jadi aku harap kau tidak lagi menyalahkan dirimu sendiri," ucap Carmila dengan tegas.
Nero yang masih berada di antar keduanya mulai mengernyit heran, "Apa yang tengah kalian bicarakan?," tanya Nero penasaran.
Carmila pun mulai melihat kearah Nero, ia bisa melihat wajah Nero yang sangat penasaran, Carmila juga merasa bahwa Nero dapat di percaya, ia pun mulai menceritakan seluruh kejadian yang menimpa Valia.
Nero yang mendengar itu merasa sangat terkejut, ia pun melihat kearah Valia dan bisa melihat pipi itu memiliki warna yang berbeda.
"Sudahlah Valia, kau tidak perlu menyalahkan diri sendiri, dia memang pantas mendapatkannya, dan aku juga tidak kaget mendengar kau menyewa pengacara handal, karena bagaimanapun jumlah taruhan yang kau menangkan dari Jian sangatlah banyak," ucap Nero sambil tersenyum.
Berbeda dengan Carmila, ia masih tampak bersedih mengingat Granov tidak bisa di hubungi, lalu Nero melihat Carmila berdiam diri.
"Carmila, apa sebaiknya kita berkeliling kampus?," saran Nero yang ingin memecahkan kesedihan yang ada di wajahnya.
Valia yang mendengar itu merasa sangat antusias, "benar, sebaiknya kita mengelilingi kampus, bagaimana pun juga melihat wajah-wajah tampan adalah obat dari semua rasa sakit," ucap Valia sambil berdiri dan menggandeng tangan kiri Nero dan tangan kanan Carmila.
Valia pun mengangguk beberapa kalian, "tentu saja, kami juga harus memanjakan mata kami," ucap Valia sambil menarik keduanya dengan tersenyum senang.
Sedangkan Carmila mengeryitkan dahinya, "aku tidak terima, aku tidak sepertimu Valia," bantah Carmila yang tidak ingin di samakan dengan Valia.
Kedua orang yang ada di samping Carmila langsung tertawa dengan keras, mereka merasa lucu ketika Carmila terlahir kesal karena perkataan Valia.
Saat mereka berkeliling, tiba-tiba saja seseorang dari depan menabrak tubuh Carmila dengan sangat kuat, padahal Carmila sudah berusaha untuk menghindar, namun entah kenapa kecelakaan itu tidak dapat dihindari.
"Arrgghh" Rintih Carmila sambil memegang pundaknya yang terasa sakit.
Spontan saja Valia dan Nero langsung melihat kearah Carmila, lalu mata Valia menatap orang yang tengah menabrak Carmila.
__ADS_1
Orang itu berbalik badan dan ia pun terkejut melihat Valia sudah tengah menatapnya dengan tajam, "Ma-maaf, aku sedang terburu-buru," ucap orang itu dengan menundukkan kepalanya dan membungkuk berulang kali.
Carmila yang sudah mendengar permintaan maaf itu mulai tersenyum, "tidak apa-apa, yang pasti, ketika kau sedang berjalan, kau harus melihat dengan benar," ucap Carmila dengan pelan.
Sedangkan Nero langsung berpindah tempat kearah Carmila dan langsung melihat keadaannya, berbeda dengan Valia, ia justru terus saja menatap orang itu dengan tajam.
Orang itu pun tersenyum lebar, "Baik, sekali lagi maafkan aku," ucap ornag itu sambil membungkuk dan berlalu pergi.
Valia terus menatap punggung orang itu sampai tak terlihat lagi, ia sudah menegakkan kedua tangannya serta menggeretakkan gigi dengan sangat kuat.
"Aku akan memberimu pelajaran!," batin Valia.
"Apa masih sakit?," tanya Nero yang dengan serius sambil mengecek pundak Carmila.
Carmila yang mendengar pertanyaan itu pun langsung tersenyum, "ini sangat sakit," ucap Carmila yang merasakan nyeri di pundaknya.
Nero pun mengangguk dan langsung membantu memijit pundak Carmila, "Nero, tolong bantu aku untuk menjaga Carmila, aku akan pergi karena sedikit memiliki urusan penting," ucap Valia sambil meninggalkan keduanya dan memulai berjalan kedepan.
Nero dan Carmila saling memandang satu sama lain, "dia terlihat berbeda," gumam Carmila.
"Lupakan dia, tidak bisa di pungkiri bahwa moodnya terus saja berubah, sebaiknya sekarang kita harus menghilangkan rasa nyeri di pundakmu," ucap Nero sambil melihat kebelakang dan di sana terdapat lapangan yang memiliki alas di atas rumput.
Nero memegang tangan Carmila dan menuntunnya untuk duduk diatas alas itu, dan dengan telaten Nero memijit pelan pundak Carmila berulang kali.
Carmila terus saja memandangi Nero, "Seandainya kak Granov berlaku lembut seperti yang dilakukan Nero, maka aku akan menjadi wanita yang sangat beruntung di dunia ini," batin Carmila tanpa mengedipkan matanya.
Bersambung ...
__ADS_1