Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Mencincang Daging


__ADS_3

Valia yang mendengar itu mengeram marah, "Saat aku memohon padamu untuk memberi hukuman pada Jian, apa yang kau lakukan?, bukankah kau mengatakan bahwa kau lebih memilih membantu Jian dari pada anak miskin sepertiku? .... "


"Lalu sekarang, ketika aku mengatakan bahwa aku adalah bagian dari Samantha, kau justru langsung meminta maaf padaku. Bukankah ini benar-benar seperti sebuah lelucon, ibu Gleni?"


Valia mengatakannya dengan mata yang sedang menatap Gleni dengan tajam, bahkan tatapan yang di berikan Valia mampu membuat Gleni terpaku.


Jantungnya Gleni seakan berdetak cepat, ia benar-benar harus memikirkan cara untuk kabur dari genggaman Valia "Ti-tidak, aku sungguh ingin meminta maaf padamu," ucap Gleni sambil memohon pada Valia.


Valia tersenyum smirk, "Asra juga pernah mengatakan perkataan yang sama sepertimu, tapi aku mengabaikannya," ucap Valia sambil menatap Gleni.


Gleni yang sedang menahan sakit semakin tak kuasa mendengar perkataan Valia, "Ja-jadi, itu ulahmu?" tanya Gleni yang sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi.


"Tentu saja, apa kau pikir aku membiarkannya saja setelah dia dan kelompoknya mengganggu waktuku?, Sama sepertimu, aku bahkan menghabisinya setelah dia mengganggu waktu ku dengan Carmila," ucap Valia dengan tersenyum mengejek.


Gleni mendengar berita bagaimana Asra mati, bahkan ia juga mendatangi kediaman Asra dan melihat jasad itu, Gleni tidak kuat melihat jasad Asra, ia pun langsung berlari keluar dan mengeluarkan seluruh isi perutnya.


Kini ia justru di hadapkan dengan orang yng sudah memenuhi Asra, bahkan di luar ekspektasinya, ternyata yang membunuh Asra adalah orang yang telah mereka buli sejak pertama kali masuk kampus, bahkan anak itu adalah anak dari sang pemilik kampus.


Dan Gleni mendengar dari polisi bahwa mereka tidak bisa mendapatkan jejak pembunuh itu, karena polisi tidak menemukan jejak apapun di tubuh Asra, bahkan sidik jari dari sang pembunuh itu sendiri tidak di temukan dimanapun.


Gleni yang mendengar itu sedikit memiliki ide "Aku berjanji tidak akan mengatakan pada siapapun tentang Asra, aku juga tidak akan mengulanginya lagi, jadi tolong maafkan aku," ucap Gleni dengan tangisnya.


Valia memutar bola matanya dengan malas, lalu ia mengeluarkan pisau lipat dari dalam sakunya, "ancaman itu tidak berguna untukku, karena kau akan segera mati!" ucap Valia sambil mencengkram tangan Gleni dengan kuat lalu menguliti tangan itu


Aarrrgghh


Gleni berteriak keras sambil menangis, ia melihat Valia tengah memotong kulit tangannya seperti menguliti seekor ayam.

__ADS_1


Darah mulai menyebar kemana-mana, bahkan darah itu juga terciprat ke pakaian Valia, sedangkan Valia tidak memperdulikannya dan terus menguliti Gleni dengan kasar.


"Hentikan!" terik Gleni yang merasa kesakitan, ia pun mencoba memberontak tapi ternyata cengkraman Valia begitu sangat kuat.


"Aku mohon, tolong hentikan, aku minta maaf atas apa yang sudah ku lakukan padamu," ucap Gleni dengan Isak tangis serta menahan rasa sakit yang tengah di terimanya.


#Flashback on


Saat pertama kali Valia asli mendapat bulian itu, ia langsung melaporkannya pada Gleni, tapi ternyata Gleni susah lebih dulu memeriksa latar belakang para muridnya, jadi ia berpikir untuk menjilat anak dari pemegang saham terbesar di kampus itu.


Valia asli mendatangi ruang lan Gleni, lalu ia pun berjalan masuk kedalam ruangan itu, "Ibu, mereka merundung ku, tolong bantu aku untuk melaporkan tindakan jahat mereka," ucap Valia yang sudah menangis di hadapan Gleni.


Gleni yang sedang duduk mulai berdiri dan menghampiri Valia asli, lalu ia memegang pundak nya, "Jika aku membantu anak miskin sepertimu, maka aku tidak mendapat apapun, jadi aku memilih membantu anak dari pemegang saham, agar aku bisa mendapatkan pa yang aku inginkan, jadi pergilah dari sini," ucap Gleni sambil mengusir Valia asli dari ruangannya.


Valia asli yang baru saja di usir merasa terkejut dengan pengusiran itu, bahkan dosennya terang-terangan tidak ingin membantunya.


Dan kejadian itu terus berlanjut sampai Valia asli mati di tangan mereka.


#Flashback off


Valia mengingat semua kejadian itu, ia merasa marah dengan mereka semua, bahkan saat ini ia ingin sekali merobek mulut Gleni, tapi ia menahannya agar Gleni tidak mati dengan mudah.


"Setelah semua ini terjadi kau justru ingin meminta maaf padaku?," gumam Valia dengan menggeretakkan giginya dan Valia mulai memperdalam pisau itu sampai ke daging tangan Gleni.


Arrgghhh


"Hentikan, ku mohon," teriak Gleni dengan air mata yang terus mengalir.

__ADS_1


Sekarang ini, ia benar-benar tidak memiliki tenaga lagi, karena rasa sakit itu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.


Apalagi sekarang dirinya sudah tidak bisa bergerak secara leluasa, karena tembakan Valia mengenai kedua tulang kering di kaki Gleni, Dan hal itu benar-benar menyakitkan.


Sedangkan Valia sengaja mengarahkan tembakan itu disana, karena ia tidak ingin Gleni mati dengan cepat, ia justru ingin menyiksa Gleni dengan rasa sakit yang begitu menyakitkan, agar dosennya bisa merasakan seperti apa rasa sakit itu.


Valia ingin memberinya pelajaran tentang di kala dirinya tengah kesakitan, tapi justru tidak ada orang yang bisa menolongnya.


"Seperti ini lah yang ku rasakan dulu, aku meminta pertolongan padamu, tapi kau justru memilih orang kaya itu. Apa kau pikir aku tidak merasakan sakit?!, aku juga bisa merasakan sakit!, bahkan rasa sakit di tubuhku serta rasa sakit di hatiku karena telah di permainkan oleh kalian juga tidak bisa hilang dengan sendirinya!" teriak Valia sambil terus mengoyak kulit tangan Gleni secara brutal.


Arrgghh


Teriakan Gleni bergema di jalan itu, ia sungguh tidak kuat menahan rasa sakit yang di berikan oleh Valia, bahkan Gleni sendiri mulai menyesali perbuatannya.


Kali ini, ia benar-benar ingin meminta maaf dengan tulus pada Valia, "Maaf ... maafkan aku, sungguh," gumam Gleni di sela tangisnya.


Valia yang mendengar permintaan maaf itu merasa semakin kesal, "Maaf?!, hanya ini yang bis kau katakan!" teriak Valia sambil menancapkan pisau itu di tangan telapak tangan Gleni hingga menembus ke bagian bawah.


Arrgghh


Rasa sakit itu membuat tubuh Gleni bergetar, ia bahkan sudah merasakan pusing karena kehilangan banyak darah, dan seketika saja Gleni menutupkan matanya secara perlahan.


"Sialan!, beraninya kau menutup mata!" teriak Valia sambil menarik pisau itu dan menancapkan nya di mata kanan Gleni.


Tapi Valia justru sudah tidak mendengar suara teriakan Gleni, ia harus menelan kekecewaan yang mendalam karena Gleni mati begitu sangat cepat. "Cih, padahal aku belum puas menyiksanya," gumam Valia dengan kesal.


Lalu Valia manarik pisau yang menancap di mata Gleni, dan Valia langsung mencincang daging tubuh Gleni dengan sangat brutal.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2