
Valia dan pria itu pun berbalik meninggalkan lokasi itu, "apa kau tidak apa-apa, Valia?," tanya Nero.
Awalnya Nero terlihat binggung dengan kerumunan mahasiswa, lalu ia menerobos para mahasiswa itu, dan ia dikejutkan dengan Valia yang tengah di dorong oleh Jian.
Bahkan ia mendengar suara Valia sedikit bergetar, Nero bahkan berpikir bahwa Valia tengah ketakutan, jadi tanpa pikir panjang, ia memutuskan untuk membantu Valia.
"Aku baik-baik saja," jawab Valia sambil menganggukkan kepalanya nya.
Seseorang tengah memperhatikan mereka, ia tampak terlihat sangat marah melihat keakraban Nero dan Valia.
Ia pun langsung berjalan mendekati keduanya, ia pun berdiri menghalangi jalan mereka, "Nero?, apa yang kau lakukan?" tanya pria itu dengan datar.
Nero terkejut melihat orang itu berada di depannya, dengan spontan ia pun langsung melepaskan tangannya dari lengan Valia.
"Kaliandra?, Ah ... tidak ada, aku tadi hanya menolongnya saja," ucap Nero dengan sedikit gugup.
Valia menatap wajah orang itu dengan intens, ia pun mulai teringat dengan kejadian yang pernah di alami oleh Valia asli.
Valia asli terus mengalami hari-hari yang begitu sulit karena pria yang ada di depannya, mengingat hal itu membuat Valia terlihat sangat kesal.
Valia menatap Valia itu dengan datar, "Memang apa urusannya denganmu?," balas Valia dengan mengajukan pertanyaan.
Kini mata Kaliandra mulai menatap kearah Valia, "aku cuma bertanya, apa kau keberatan?" tanya Kaliandra lagi.
"Sangat keberatan, dan setelah ini aku mohon untuk menjauh dariku, karena kau adalah sumber dari masalahku," ucap Valia dengan melototkan matanya dengan tajam, lalu ia langsung menggenggam tangan Nero dan menariknya untuk pergi dari hadapan Kaliandra.
"Dasar pria menjijikkan, jika saja saat itu Valia asli tidak meminta tanda tangannya, tentu saja pembulian yang di lakukan mahasiswa di berbagai gedung tidak separah ini," batin Valia sambil melangkahkan kakinya dengan lebar.
Setelah kejadian tanda tangan itu, para mahasiswa banyak yang memusuhi Valia, bahkan ada juga mahasiswa yang berbeda jurusan datang ke kelas Valia asli hanya untuk memberinya pelajaran.
Padahal saat itu, Valia asli hanyalah mahasiswa baru, tapi ia justru mendapat perlakuan yang begitu mengerikan.
__ADS_1
Saat dirinya memasuki gerbang kampus, seseorang menyodorkan kakinya dan membuat Valia asli tersungkur ke tanah.
Valia asli bahkan terkejut ketika mendapat perlakuan itu, lalu ia pun kembali bangkit dan berjalan kembali.
Valia asli bahkan tidak perduli dengan lutut yang sedikit memar, ia tetap berjalan tertatih-tatih sampai masuk kedalam kelasnya.
Lalu, ketika Valia asli ingin duduk, kursi yang ingin di dudukinya di tarik oleh Jian, hal itu adalah pembulian pertama yang di lakukan oleh Jian.
Valia asli tampak sangat kesakitan, ia mencoba berdiri dan terus memegang bokongnya yang terasa sakit.
Sedangkan teman sekelasnya justru menatap Valia tanpa berniat untuk membantunya, bahkan mereka ikut menertawai Valia asli.
Valia asli yang mendapat perlakuan itu hanya bisa menunduk, ia pun langsung pindah ke tempat yang paling atas dan duduk di sudut ruangan.
Mengingat hal itu membuat Valia tampak sangat marah, ia benar-benar tidak tau mengapa Valia asli ingin merahasiakan identitasnya?.
Pertanyaan itu terus berputar di kepala Valia, tapi ia tidak pernah menemukan jawabannya, Valia yang sudah keluar dari gedung mulai mengehentikan langkah kakinya.
Aarrgghhh
"Kau mengagetkanku," ucap Valia sambil mengelus dadanya dengan satu tangan.
Nero yang sedari tadi di tarik mulai mengeryitkan dahinya, "Hei, apa kau tidak melihat ini?," tanya Nero sambil mengangkat tangan mereka yang masih bergandengan tangan.
Valia tampak terkejut dan langsung menghempaskan tangannya dari Nero. "Maafkan aku," ucap Valia sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
Nero sedikit terkejut melihat reaksi dan gestur tubuh Valia, ia tidak terlihat marah ketika Valia menghempaskan tangannya dengan kasar, karena ia tau bahwa iri adalah gerakan refleks dari seseorang.
"Kenapa kau bersikap seperti itu padanya?, seperti ya kau dulu terlihat dekat dengannya," ucap Nero yang terlihat binggung dengan perlakuan Valia pada Kaliandra.
"Dia menjengkelkan, karena ulahnya, aku mendapatkan banyak masalah yang selalu menimpaku, beruntung aku bertemu dengan mu yng selalu membantuku, jika tidak, aku pasti akan mati di tangan mereka semua," ucap Valia sambil berdiri dan melihat kearah taman.
__ADS_1
"Tapi, aku menolong mu karena sudah dapat perintah dari Kaliandra," batin Nero, ia tidak bisa mengatakan itu dari mulutnya.
#Flashback On
Dari kejauhan Kaliandra melihat Valia asli di buli oleh mahasiswa lainnya, awalnya ia berpikir untuk mendekati Valia asli agar bisa mengusir para pembuli itu.
Tapi siapa sangka hal itu justru membuat Valia asli di buli habis-habisan, lalu Kaliandra teringat dengan seorang teman masa kecilnya yang satu kelas dengan Valia.
Ketika Nero dan Kaliandra bertemu, mereka mulai berbincang banyak, "Nero, aku memiliki satu permintaan, apa kau akan mengabulkannya?," tanya Kaliandra sambil menatap Nero dengan intens.
Nero terkejut melihat wajah Kaliandra yang terlihat begitu serius menatapnya, "apa yang kau inginkan?, jika itu hal yang mudah maka aku akan mengabulkannya," jawab Nero sambil memegang sebuah cup dan menyedot isi yang ada di dalam cup itu.
"Apa kau bisa melindungi Valia dari para pembuli itu?," tanya Kaliandra dengan berterus terang.
Naro yang mendengar itu mulai terbatuk-batuk, "uhuk ... uhuk, apa kau benar-benar menyukainya?" tanya Nero sambil meletakkan kembali cup minumannya.
Kaliandra tidak menjawab pertanyaan itu, ia justru kembali bertanya dengan pertanyaan baru, "Kau bisa melakukannya atau tidak?," tanya Kaliandra yang terus menatap Nero.
Nero hanya bisa menghalau nafas dengan pelan, "Kenapa kau tidak melakukannya sendiri, bukankah kau sedikit lebih berkuasa dariku?," tanya Nero yang sedikit penasaran.
"Aku tidak bisa melindunginya terus menerus, pekerjaan ku di organisasi begitu banyak, bahkan terkadang aku juga lupa untuk mengurus diriku sendiri, karena itu lah aku memintamu untuk menjaganya," ucap Kaliandra sambil menghela nafas sambil menempelkan kedua diakunya di atas meja lalu memegang kepalanya.
Nero sedikit kasihan melihat Kaliandra yang begitu frustasi, ia juga mendengar alasan Kaliandra menjauhi Valia, ia bisa mengerti dengan alasan itu, dan memilih untuk membantu Kaliandra.
#Flashback Off
Nero mengingat bagaimana Kaliandra meminta bantuannya, dan sekarang sepertinya Valia sudah tidak membutuhkan bantuannya lagi.
Awalnya Nero berpikir seperti itu, tapi jika kita mengingat kilas balik apa yang baru saja terjadi, membuat Nero berpikir kembali untuk bertugas melindungi Valia.
"Sepertinya dia masih takut untuk menghadapi Jian, jika seperti ini maka aku memang masih harus melindunginya," batin Nero sambil menatap kearah Valia.
__ADS_1
Bersambung ....