Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Membatalkan Libur Kampus


__ADS_3

Bian bertemu dengan Javier dan Nisia, ia pun langsung melaporkan apa yang baru saja di lihatnya dan di dengarnya dari Rein.


Javier pun menganggukkan kepalanya, sedangkan Nisia mulai menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Anak itu tidak pernah berubah, selalu saja seperti itu," ucap Nisia sambil mengingat sewaktu kecil bahwa Nisia selalu saja mudah jatuh dan menabrak benda yang ada di depannya.


Setelah mengatakan itu, tiba-tiba saja Javier menatap lurus kedepan, dan membuka suaranya "tidak, justru dia sudah berubah banyak," ucap Javier dengan tegas.


Bian dan Nisia yang mendengar itu langsung menatap kearah Javier, "Apa maksudnya, suamiku?," tanya Nisia dengan binggung.


Javier kini mulai berpikir, "Aku yakin bahwa Rein tidak mengatakan yang sebenernya pada, dan semua itu pasti atas perintah Xander," ucap Javier sambil mengangkat gelas yang di depannya dan menyeruput kopi itu.


Nisia terkejut mendengar perkataan Javier, "bukankah seharusnya Xander tidak melakukan itu?, lalu untuk apa dia berbohong pada kita?," tanya Nisia lagi.


Javier mulai teringat, semasa kecil yang selalu melindunginya adalah sang adik. sejak melihat kegigihan Xander melindunginya, Javier juga berusaha untuk menjadi kakak yang bisa di andalkan.


Tapi nyatanya, sampai Javier memiliki istri dan Anak, bayang-bayang sang adik terus berada di sekitarnya dan membuat Javier semakin menyayangi Xander.


Javier juga mengetahui bahwa Xander memiliki kekuatan besar di belakangnya, tentu itu adalah sebuah rahasia besar yang tidak bisa di beritahukan pada orang lain termasuk Javier.


Javier pun menghormati keputusan sang adik, ia terus percaya bahwa sang adik tidak mungkin melakukan hal-hal yang bisa merugikan dirinya sendiri ataupun keluarga Samantha.


"Aku hanya berpikir bahwa dia tidak ingin kita mengkhawatirkan Valia, dan aku harap kalian terus berpura-pura seperti tidak mengetahui apapun. Karena aku tidak ingin usaha Xander sia-sia begitu saja" ucap Javier sambil menatap kearah Nisia dan Bian.


"Baik, suamiku," ucap Nisia sambil mengangguk.


"Baik, tuan" jawab Bian yang mematuhi perkataan Javier.


Setelah mendengar jawaban itu, Javier pun tidak lupa memberikan informasi penting, "Dan aku ingin mengatakan bahwa aku membatalkan untuk meliburkan kampus," ucap Javier sambil menyesap kopinya kembali.


Nisia dan Bian tampak heran, namun mereka juga tidak mengomentari apa-apa.


Lalu mereka semua kembali ke ruangan masing-masing, dan keesokan paginya, Javier dan Nisia sudah duduk di dapur.


Sedangkan Valia justru melangkahkan kaki nya dengan pelan, ia takut jika kedua orang tuanya itu bertanya tentang hal-hal yang tidak bisa di jawabnya.


Tapi ketika Valia sampai di dapur, ia melihat Javier dan Nisia melihat kearahnya, Valia tampak ketakutan dan menunduk tapi ia tetap duduk di depan Nisia.

__ADS_1


"Ayah sudah mendengar dari Bian, dan yang ayah tanyakan adalah bagaimana kau bisa menabrak pohon?," ucap Javier dengan mengeryitkan dahinya.


"Haha ... bukankah kau sudah tau bahwa anak kita itu selalu seperti itu," ucap Nisia di sela tawa nya.


Valia yang mendengar itu pun langsung mengangkat wajahnya dan menatap kearah Javier dan Nisia.


"Hehe ... ibu sangat mengenal diriku," ucap Valia dengan canggung.


Seketika ketakutan Valia menghilang, dan ia pun mengambil beberapa makanan yang ada di depannya.


Sedangkan Javier dan Nisia mengubah ekspresi wajah mereka dan menatap kearah Valia dengan datar. Dan Valia justru tidak menyadari hal itu karena sedang menikmati makanan yang ada di depannya.


****************


Di tempat lain ...


Setelah berunding cukup lama, hari pun mulai gelap dan mereka semua menginap di rumah Rila.


Saat pagi tiba, ketika Rila dan Jian mengecek forum kampus, mereka membaca edaran berita yang mengatakan bahwa kampus tidak libur.


Keduanya tampak terkejut dan mereka langsung berlari untuk bersiap-siap.


Kini semua orang berjalan mengantar Rila dan Jian keluar dari rumah itu.


Kedua orang tua Rila dan Jian memerintahkan mereka untuk mencoba meminta maaf pada Valia.


Walau para orang itu masih tidak yakin jika Valia bagian dar keluarga Samantha, tapi mereka tetap harus mencoba untuk berbicara pada Valia.


"Ingat!, kau harus meminta maaf pada anak itu!" perintah Yuwin dengan menatap Jian dengan tajam.


"Kau juga Rila, ingat kesepakatan yang telah kita lakukan" ucap Harkan pada Rila.


Rila dan Jian kini mendapat tekanan dari orang tua mereka, keduanya yang mendengar itu merasa sangat marah.


"Jika Valia benar-benar bagian dari Samantha, lalu apa yang harus aku lakukan?," batin Jian dengan kesal.


Sedangkan Rila tengah mengepalkan tangannya dengan kuat, "sial!, mengapa anak sepertinya memiliki identitas mengerikan seperti itu?, padahal dulu aku sangat yakin bahwa dia adalah orang yang tidak memiliki latar belakang apapun," batin Rila.

__ADS_1


Yuwin merasa sangat marah ketika Jian hanya menunduk tanpa menjawab pertanyaannya, "Apa kalian mendengarkan perkataan kami?," teriak Yuwin dengan keras.


Sontak saja hal itu membuat Jian terperanjat kaget, "A-aku mendengarnya pa," jawab Jian sambil tertunduk.


Sedangkan Rila hanya mengangguk dan tidak berani menjawab, lalu sang supir pun menjemput Rila dan Jian.


Ketika berada di dalam mobil, Jian dan Rila saling memandang satu sama lain.


"Apa kau yakin ingin meminta maaf padanya?," tanya Rila dengan rasa penasaran.


Jian tampak termenung, "Aku juga tidak tau, tapi mau tidak mau kita harus melakukan itu, karena dia kira menjadi seperti ini," ucap Jian dengan menggeretakkan giginya.


Setelah sampai di kampus, mereka pun turun dari mobil, seluruh mata para mahasiswa tertuju pada Rila dan Jian.


Keduanya tampak berjalan dengan canggung. "apa ada sesuatu di wajahku?," tanya Jian dengan menatap kearah Rila.


"Tidak ada," jawab Rila dengan binggung.


Lalu ketika mereka berjalan, tiba-tiba saja seseorang menabrak Rila dan Jian dengan sangat kuat.


Arrgghhh


Aarrgghhh


Teriak keduanya dengan tubuh yang mendarat di atas lantai.


Jian dan Rila bangkit dan langsung membersihkan pakaian mereka, lalu Jian melihat kearah ornag yang sudah menabraknya, "Apa kau tidak bisa melihat?," teriak Jian dengan kuat.


Ekspresi orang itu tampak tidak perduli, ia bahkan menjawab dengan sangat anti dan tegas "Tidak!." jawabnya.


"Kau!" teriak Jian yang tengah mengayunkan tangannya.


Lalu dengan cepat, tangan Jian telah di tangkap orang tersebut. "Berani sekali kau mengayunkan tanganmu lagi padaku?, apa kau pikir aku takut padamu?, cepat atau lambat kau akan segera bangkrut, jadi berhentilah bersikap sombong di hadapanku," ucap orang itu sambil menatap Jian dengan tajam.


Lalu orang itu menghempas tangan Jian dengan kuat sehingga Jian kembali tersungkur ke lantai.


Para mahasiswa lain mulai berkumpul sambil melihat pertengkaran itu, dan mereka pun mulai mencibir tentang Rila dan Jian.

__ADS_1


Bersambung ...


Maaf untuk kesalahan nama di chapter sebelumnya, terimakasih sudah mau mengoreksi tulisan author 😭🙏


__ADS_2