Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Pertemuan Ketiga Orang Tua


__ADS_3

Sesampai di rumahnya, Yuwin langsung berjalan masuk dengan terburu-buru, lalu ia pun mulai berteriak dengan keras.


"Jian!"


"Jian!"


"Jian!"


Teriak Yuwin tiga kali berturut-turut, suara itu bahkan terdengar sangat keras dan menggelegar


Freya, dan Jian pun keluar dari kamar mereka, lalu mereka melihat dari atas yang ternyata Yuwin sudah menatap Jian dengan tajam.


Jian sedikit terkejut melihat raut wajah Yuwin, Freya yang melihat itu pun langsung menoleh kearah Jian yang tengah ketakutan, ia langsung menepuk pundak Jian.


Sedangkan Jian tersentak kaget dan Jian pun menoleh kearah Freya lalu ia melihat sang mama tangan menganggukkan kepalanya, Jian yang mengerti kode itu langsung membalas mengangguk.


Lalu Freya berjalan menuruni anak tangga, "Ada apa, pa?," tanya Freya sambil menuruni anak tangga.


Setelah Freya berdiri di depan Yuwin, ia melihat Yuwin masih terus menatap keatas dengan tajam.


Freya berusaha untuk mengalihkan pembicaraan, "Pa?, kenapa terus berteriak?," tanya Freya lagi.


Yuwin tampak tidak mendengar perkataan Freya ia justru semakin menatap Jian dengan tajam, "Turun sekarang!," teriak Yuwin dengan keras.


Jian tersentak kaget, ia sungguh binggung dengan kemarahan Yuwin, "Apa yang terjadi?, kenapa papa terlihat begitu marah padaku?," batin Jian yang tengah ketakutan.


Dengan langkah yang berat, Jian pun melangkahkan kakinya turun, sedangkan Freya justru tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia sungguh sangat ketakutan melihat sang suami begitu menyeramkan.


"Ada apa dengannya?, kenapa dia sangat mengerikan seperti itu?," batin Freya sedikit panik.


Bola mata Yuwin mengikuti arah gerak Jian, ia bahkan terus teringat dengan perkataan Javier.


Setelah Jian berada di depan sang papa, Yuwin langsung menggenggam tangan Jian dan menariknya dengan kuat.


Freya yang melihat itu pun begitu sangat terkejut, ia pun bergerak mengikuti langkah kaki Yuwin dan Jian.


"Kenapa kau menariknya seperti itu?," tanya Freya dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


Namun Yuwin tidak menjawab pertanyaan itu, ia pun terus berjalan tanpa menoleh kebelakang, bahkan tangan anaknya di cengkram dengan sangat kuat hingga memerah.


Jian yang baru pertama kali melihat kemarahan Yuwin merasa ketakutan, ia pun menoleh kebelakang dan mencoba meminta pertolongan dari Freya.


Tapi Freya tidak bisa berbuat apapun, ia bahkan tidak tau harus berbuat apa untuk menyelamatkan Jian dari Yuwin.


"Pa, kenapa kau menarik Jian seperti ini?, dia sudah sangat kesakitan," ucap Freya sambil mempercepat langkahnya dan memegang tangan Yuwin.


Yuwin yang mendengarnya pun langsung menghentikan langkahnya, ia menoleh kearah Freya dan menatapnya dengan tajam, "jika kau menghentikan ku lagi, maka aku akan mengusir mu keluar dari rumah ini," ucap Yuwin dengan tegas.


Lalu seketika saja, Freya langsung melepaskan tangannya, dan ia pun berdiri seperti patung, sedangkan Yuwin kembali berjalan kearah mobilnya.


"Naik!" perintah Yuwin dengan tatapan tajam.


Jian yang tengah ketakutan mau tidak mau masuk kedalam mobil itu, sedangkan Freya juga ikut masuk kedalamnya.


Melihat keduanya sudah naik, Yuwin pun masuk kedalam mobil dan membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi.


Di dalam mobil, Jian dan Freya yang berada di belakang memegang pegangan tangan yang ada di mobil mereka, keduanya tampak ketakutan karena Yuwin membawa mobil dengan kecepatan penuh.


"Apa kau berniat membunuh kami, Pa?!" teriak Freya dengan ketakutan.


Setelah sampai di tempat tujuan, Yuwin pun langsung turun dan membuka pintu mobil.


Jian dan Freya tampak terkejut, mereka tampak kebingungan kenapa mereka bisa sampai di rumah Rila.


"Kenapa kita ke sini, pa?" tanya Freya dengan binggung.


"Turun!" perintah Yuwin dengan mata melotot.


Keduanya pun langsung turun, Yuwin pun membanting pintu mobil dengan sangat kuat.


Yuwin melangkahkan kakinya dan kedua wanita itu tampak tidak ingin di marahi oleh Yuwin lagi, jadi mereka pun juga langsung mengikuti langkah Yuwin dari belakang.


Ketiga orang itu pun masuk dan kedalam rumah Rila, sesampai di dalam, mereka melihat semua orang tengah berkumpul di rumah tamu.


Di sofa itu terdapat Harkan, Ruslan, Rila, dan juga Tifa. Dan semua orang yang ada di dalam langsung menatap kearah ketiganya.

__ADS_1


Jian bisa melihat wajah ketiga orang tua itu tampak sangat marah, dan kini mata Jian tertuju pada Rila yang tengah menunduk di antara himpitan Harkan dan Tifa. "Ada apa sebenarnya?, kenapa Rila terus saja menunduk?" batin Jian yang merasa keheranan.


Yuwin pun terus melangkahkan kakinya mendekati sofa dan langsung menjatuhkan tubuhnya.


Freya dan Jian biasanya tidak pernah merasa canggung, tapi kali ini ia merasa bahwa suasananya membuat keduanya merasa sungkan.


Setelah semuanya duduk, suasana tampak hening, lalu Harkan pun mulai manarik nafas dalam-dalam, lalu mulai mengeluarkan kata-kata nya, "Jujur pada kami, apa kalian pernah melakukan sesuatu yang buruk pada keluarga Samantha?," tanya Harkan sambil melihat Jian dan Rila.


Jian menatap kearah Yuwin, dan melihat sang papa tengah menatapnya dengan tajam.


"Bukankah sudah aku katakan bahwa aku tidak pernah menyinggung siapapun, Pa?," tanya Jian sambil mengeryitkan dahinya, ia tampak tidak terpengaruh dengan tatapan Yuwin, karena ia merasa bahwa dirinya benar.


"Jika hanya ini pertanyaannya, lebih baik daritadi aku mengikuti perkataan papa," batin Jian.


Harkan yang mendengar itu justru tidak mempercayai Jian, "Apa kau yakin Jian?, cola lihat siapa aja yang berkumpul disini," ucap Harkan sambil menggerakkan tangan melingkari mereka semua.


Jian yang mendengar itu langsung melihat kearah Harkan, lalu ia mengikuti arah tangan Harkan yang melingkar.


"Kau sudah melihat dengan jelas?, karena itulah kami menyimpulkan bahwa kalian bertiga telah menyinggung keluarga Samantha, aku bertanya sekali lagi, apa kalian pernah menyinggung keluarga Samantha?," tanya Harkan sambil menatap Jian dengan intens.


Jian tampak termenung ketika mendengar perkataan Harkan, tiba-tiba saja ia kembali teringat dengan Valia.


"Valia Samantha?," gumam Jian kecil.


Namun semua orang yang mendengar itu tampak terkejut, termasuk Rila, ia yang sedari tadi menunduk kini mendongakkan wajahnya.


"Itu tidak mungkin," bantah Rila sambil menggelengkan kepalanya.


Harkan yang mendengar itu mulai mengernyitkan dahinya, "Valia?, sepertinya aku pernah mendengar nama itu," ucap Harkan yang berusaha mengingat nama itu.


Rila menoleh ke arah Harkan, "dia anak miskin yang masuk melalui beasiswa, dan saat ini hanya dia yang kami ganggu di kampus," ucap Rila pada Harkan.


Harkan pun mengingat nama itu, "benar, kau pernah bercerita tentangnya pada papa, tapi apa nama lengkapnya adalah Valia Samantha?," tanya Harkan yang menoleh kearah Rila.


"Benar, Pa, karena dia anak beasiswa jadi tidak mungkin bahwa dia bagian dari Samantha," ucap Rila dengan yakin.


"Bagaimana kau bisa seyakin itu?, apa kau pernah melihat wajah anak keluarga Samantha di media?," tanya Ruslan dengan penuh selidik.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2