
Note :
Kalau Valia, itu artinya Silyena yang ada di tubuh Valia.
Dan kalau Valia asli, itu tentang sang pemilik tubuh/arwah gentayangan.
Jangan sampai binggung ya readers 🙏
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah melihat kedepan, ternyata Valia sudah kehilangan Elena, "Sialan!, karena pengganggu itu, rencana ku menjadi gagal," gumam Valia sambil memegang dahinya yang berdarah.
Valia sedikit merasa pusing, tapi ia tetap memilih menjalan kan mobilnya, dan saat itu juga Valia melihat sebuah Klinik.
Valia menghentikan mobilnya, ia keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam sana. Valia melihat seorang pria memakai jas putih dan stetoskop di lehernya.
Tanpa basa basi, Valia pun menghampiri pria itu dan langsung berbicara, "Dokter, bisakah kau membantuku membersihkan luka ini?," tanya Valia pada dokter itu sambil memegang dahinya yang sudah di banjiri oleh darah.
Ketika pria itu mendongakkan wajahnya, ia terkejut melihat wajah Valia, dan ia sempat termenung sesaat.
"Dokter!"
"Hei, dokter!"
Panggil Valia lagi yang semakin meninggikan suaranya, ia benar-benar terlihat kesal karena sang dokter hanya termenung padahal di sepanjang perjalanan ia sudah menahan rasa sakit di kepalanya.
Dokter itu tersentak kaget dan ia pun langsung berdiri dari duduknya. "Mari, ikuti saya nona," ujar sang dokter sambil berjalan di depan Valia.
Valia yang terlihat kesal tatap mengikuti langkah dokter itu, Valia pun langsung membaringkan dirinya di atas brankar klinik, dan dokter itu langsung menangani Valia.
Valia benar-benar merasa pusing, saat sang dokter tengah menangani lukanya itu, mata Valia pun terlihat mulai menutup secara perlahan, sedangkan sang dokter sudah memperkirakan bahkan wanita yang ada di depannya akan segera pingsan karena merasa pusing.
Sang dokter terus meneliti wajah Valia, ia teringat bahwa Valia terlihat sangat mirip dengan temannya, "Sepertinya aku harus memastikan sesuatu," gumam dokter itu sambil mengobati luka yang ada di dahi Valia.
__ADS_1
Setelah selesai, sang dokter membiarkan Valia tertidur di kliniknya, lalu ia pun mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor seseorang.
Ketika panggilan itu tersambung, ia langsung mengatakan pada inti pembicaraan, "Bisakah kau datang ke klinik ku?," tanya dokter itu pada temannya yang ada di ujung sana.
"Baiklah, aku akan menuju ke sana," jawab sang teman.
Lalu panggilan itu pun terputus, sedangkan sang dokter tengah memandangi wajah Valia.
Sang dokter melihat teman sudah sampai, ia pun menghampiri temannya itu, "Xander" panggilnya.
Xander yang mendengar itu langsung memeluknya, "kenapa kau menyuruh ku datang kemari, Luis?," tanya Xander dengan heran.
"Ikuti aku," ucap Luis sambil berjalan di depan Xander.
Xander mengikuti langkah Luis dan ia pun langsung terkejut melihat keponakannya berada di klinik temannya.
Xander bahkan perban di dahi Valia, "Bagaimana bisa keponakanku berada di sini?," tanya Xander dengan panik, karena ia sangat tidak suka melihat keponakannya itu jatuh sakit.
Luis yang melihat itu pun berusaha menenangkan Xander, "Tenang lah, aku juga tidak tau, tapi tiba-tiba saja dia datang dan memintaku untuk mengobatinya, lalu dia pingsan. Awalnya aku merasa mengenali wajahnya, dan karena penasaran aku mencoba memanggilmu ke sini," ujar Luis sambil melihat kearah Valia.
"Aku tidak menyangka dia begitu cantik" goda Luis, ia ingin melihat seperti apa reaksi Xander, karena ia mengetahui seberapa protektifnya Xander pada Valia.
Seketika saja, tatapan tajam tertuju pada Luis sehingga membuat Luis megang tengkuknya sambil membuang tatapannya kearah lain.
"Aku hanya bercanda," ucap Luis sambil terkekeh kecil.
Xander dengan setia menunggu Valia, dan tiba-tiba saja ia melihat Valia menggerakkan matanya.
"Valia" ucap Xander sambil berdiri dari kursinya.
"Paman, kenapa paman ada di sini?," tanya Valia sambil melihat kearah Xander.
Xander memegang pundak Valia dan ia membantu keponakannya untuk bangun, "Pemilik dari klinik adalah sahabat paman, dia melihat kau sangat mirip dengan paman, jadi dia langsung menghubungi paman untuk memastikan pikirannya," jelas Xander pada Valia.
__ADS_1
"Baiklah paman, kepalaku terasa sangat berat, aku ingin pulang ke rumah," ucap Valia sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
"Luis, sekali lagi aku ingin berterimakasih padamu karena telah menjaga keponakanku, sekarang aku akan membawanya pulang," ucap Xander sambil berpamitan pada Luis.
"Baiklah," jawab Luis sambil tersenyum.
"Ayo Valia, paman akan mengantarmu pulang," ucap Xander yang merasa kasihan pada Valia, dan ia pun membantu Valia berjalan masuk ke mobilnya.
"Tapi paman, aku membawa mobilku sendiri," ucap Valia sambil menunjuk mobil mahalnya.
Xander terkejut mendengar Valia membawa mobil, ia menoleh dan melihat Valia tengah membawa mobil Lamborghini yang di belikan oleh kakaknya sebagai hadiah ulang tahun Valia.
"Bukankah ini hadiah yang di belikan oleh kakak padamu?, kau bisa membawanya?," tanya Xander yang tercengang.
Karena selama ini mereka semua tau bahwa Valia tidak pernah bisa membawa mobil, tapi bagaimana mungkin keponakannya bisa membawa mobil?.
Pertanyaan itu terus muncul di kepala Xander, ia bahkan benar-benar tidak percaya dengan kenyataan itu.
"Aku bahkan sudah membawa mobil ini beberapa hari yang lalu paman, bukankah paman sangat terlambat untuk terkejut," ucap Valia sambil memegang kepalanya dan Xander tetap menunduk Valia kedalam mobilnya.
Setelah berada di dalam mobil, tidak ada yang memulai percakapan, tapi karena Xander orang yang sangat penasaran, ia pun kini mulai membuka topik.
"Valia, apa kau tidak menyesal telah membunuh mereka?," tanya sander dengan suara pelan.
Valia yang mendapat pertanyaan itu tidak merasa risih atupun marah, ia sangat tau bahwa pamannya itu sedang mengkhawatirkannya.
"Tidak paman, selama ini aku telah berbaik hati membuat mereka melakukan apapun padaku, tapi sekarang tidak lagi, karena mereka telah melampaui batas," jawab Valia sambil menyenderkan tubuhnya ke kursi mobil.
Xander pun mengangguk dan tersenyum "Baiklah, sepertinya hal itu tidak mempengaruhi dengan kesehatan mentalmu, jadi paman akan menyetujui balas dendam ini," ucap Xander sambil memfokuskan matanya kedepan.
"Paman, apa aku tidak membuat paman dalam masalah?, bukankah resiko dari semua ini adalah lisensi kedokteran paman?, karena jika mereka mengetahui perbuatan paman, maka mereka akan langsung mencabutnya dan tidak membiarkan paman masuk dalam dunia kedokteran lagi," ucap Valia dengan wajah sedih.
Valia baru teringat bahwa yang sedang di pertaruhkan pamannya adalah lisensi dokter sang paman.
__ADS_1
Xander melihat Valia tengah tertunduk sedih, ia bisa melihat bahwa Valia tengah memikirkannya, "Tenang saja, tidak ada yang bisa mengetahui rahasia kita, dan tidak ada seorang pun yang bisa mencabut lisensi dokter ku," ucap Xander sambil mengelus pucuk kepala Valia.
Bersambung ...