
Di ujung jalan sana, Nero terlihat binggung dengan melihat Valia yang turun dari mobil mewah dan berlari memasuki kampus
"Sepertinya dia sungguh tidak sederhana," gumam Nero yang mulai melajukan mobilnya masuk kedalam kampus.
Lalu Nero turun dari mobil, dan ia pun langsung berjalan menuju kelas, setiap dirinya melewati para mahasiswa, Nero Mendengar tentang apa yang baru saja terjadi pada Rila dan Jian.
"Haha ... ini karma yang harus mereka hadapi, aku yakin bahwa orang tua mereka sebentar lagi akan mengalami kerugian yang cukup besar," gumam Nero sambil berlari menuju kelasnya.
Sedangkan Valia, tidak mendengarkan apapun dan hanya fokus untuk terus berlari agar dirinya tidak terlambat.
Lalu saat membuka pintu ruang kelas, tiba-tiba saja terdengar sebuah suara, "Kau terlambat Valia," ucap Devid sambil mematikan senter yang ada tangannya.
Valia yang tengah menghirup udara dengan rakus tersentak kaget mendengar suara itu, Ia pun kini mendongakkan wajahnya dan melihat ke seluruh ruangan, ternyata semua orang yang ada di dalam ruangan tengah menatap kearah nya.
"Sial, aku benar-benar terlambat," batin Valia sambil mencoba mengatur nafasnya agar kembali normal.
"Maafkan saya pak," ucap Valia sambil membungkukkan tubuhnya.
"Baiklah, kali ini saya akan memaafkan kamu," ucap Devid sambil melanjutkan menjelaskan materinya.
Ketika Valia ingin melangkah masuk, tiba-tiba saja Nero menerobos melangkahi dirinya, "Kalian di larang masuk," ucap Devid dengan tegas.
Valia menghentikan langkahnya dan menganga dengan lebar, ia tidak percaya mendengar perkataan Devid.
"Tapi pak, bukankah bapak sudah memberi saya izin?, lalu sekarang kenapa berubah?," tanya Valia dengan binggung.
"Lihatlah temanmu, dia menerobos masuk tanpa mengatakan apapun, jadi saya membatalkan perkataan saya itu," ucap Devid yang terus melanjutkan menerangkan Materi.
Nero yang sedari tadi diam hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Valia yang mendengar itu pun langsung menoleh kearah Nero, "menyebalkan sekali kau," ucap Valia dengan kesal.
__ADS_1
Valia tidak sengaja melihat Rila dan Jian duduk di atas, keduanya tampak langsung menunduk membuat Valia mengeryitkan dahinya, dan ia pun langsung keluar dari ruangan kelas.
Sedangkan Nero tertawa kecil melihat Valia memarahinya, ia pun mengikuti langkah Valia dari belakang.
Semua mahasiswa yang melihat itu mulai tertawa terbahak-bahak, sedangkan Rila dan Jian langsung tampak tertunduk dan tidak melihat kearah Valia.
"Pakaiannya tampak biasa, tidak mungkin valia bagian dari Samantha, Jika aku meminta maaf padanya dan dia bukan dari bagian keluarga itu, maka apa kata mahasiswa lain?," gumam Jian sambil menggigit kukunya yang cantik.
Rila juga terlihat seperti Jian, ia sudah melihat pakaian yang di kenakan oleh Valia, dan Rila bahkan berpikir hal yang sama seperti Jian.
Ke duanya tampak enggan untuk meminta maaf pada Valia, karena mereka masih berpikir bahwa Valia bukanlah dari keluarga itu.
Di luar ruangan, Valia tampak kesal dengan Nero, karena Nero membuat Devid membatalkan izin untuk Valia.
"Menyebalkan, jika saja kau tidak menerobos masuk, maka semua ini tidak terjadi," celoteh Valia sambil berdiri di depan kelas.
Sedangkan Nero tertawa keras karena ia merasa lucu melihat kelakuan Valia. "Haha ... maafkan aku Valia, aku berpikir bahwa aku juga bisa masuk, tapi ternyata tidak," ucap Nero di sela tawanya.
Deg
"Apa jangan-jangan ayah sudah mengetahuinya?," batin Valia yang mulai berpikir.
Nero melihat Valia tengah termenung, ia pun langsung menepuk pundak Valia, "Hei, ada apa denganmu?," tanya Nero dengan santai.
Valia tampak tersentak kaget, ia pun langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan, "tidak ada, hanya ada yang mengganggu pikiranku," ucap Valia sambil menggigit bibir bawahnya.
Nero yang mendengar itu merasa ingin mengetahui apa yang tengah di pikirkan Valia, namun ia berusaha tetap diam dan berusaha untuk tidak ikut campur.
"Bagaimana sekarang?, apa yang harus aku lakukan?," gumam Valia sambil berjalan dengan mondar-mandir.
Sedangkan di sisi lain, Delna datang ke kampus dengan mata bengkak, ia datang ke kantor dan langsung bertemu dengan dekan.
__ADS_1
"Pak, Aku ingin bertemu dengan pemilik kampus," ucap Delna dengan tegas.
Seluruh dosen yang ada di ruang kantor terkejut mendengar permintaan itu, sedangkan sang dekan mulai mengeryitkan dahinya.
"Maaf bu Delna, bukan saya tidak ingin mempertemukan anda dengan sang pemilik, tapi bukankah anda tau bahwa pemilik kampus ini tidak pernah datang ke kampus secara langsung?, yang artinya, kau tidak bisa bertemu dengannya sesuka hatimu," ucap sang dekan dengan sopan.
Delna yang mendengar itu merasa sangat putus asa, "Tolong saya pak, saya hanya ingin meminta pemilik kampus untuk membantu saya dalam penyelidikan adik saya yang masih belum di temukan, dan setelah hilangnya adik saya, justru di ruangan pribadinya terdapat banyaknya daging berhamburan, bukankah ini harus di selidiki?, karena kejadiannya tepat berada di dalam kampus," ucap Delna dengan berderai air mata.
Sang dekan juga merasa kasihan pada Delna, tapi ia tidak memiliki wewenang tentang hal itu, "Maaf bu Delna, itu bukanlah wewenang saya, dan saya tetap tidak bisa mempertemukan anda dengan pemilik kampus," tolak sang dekan dengan pelan.
Seluruh dosen yang ada di ruangan itu merasa kasihan dengan Delna, tapi mereka tidak bisa berbuat apapun karena seluruh dosen yang ada di ruangan itu tidak memiliki koneksi dengan sang pemilik kampus.
Delna yang mendengar itu merasa sangat putus asa, walau penyelidikan tetap berlanjut tapi sudah beberapa hari mereka tidak mendapat kabar apapun dari pihak kepolisian.
Semua orang tau bahwa jika sang pemilik menggerakkan bawahannya maka semua kasus yang ada di dalam kampus itu pastilah cepat terungkap.
Karena dulu mereka melihat berita bahwa ada yang ingin menghancurkan perusahaan Samantha, dan dalam beberapa hari, orang-orang bertopeng hitam menangkap orang yang terlibat langsung dan tubuhnya di gantung hidup-hidup di tengah alun-alun kota.
Sejak kejadian itu, seisi kota takut dengan keluarga Samantha, dan mereka semua meyakini bahwa jika orang-orang bertopeng hitam itu adalah bawahan dari keluarga Samantha.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?," gumam Delna dengan menangis histeris.
Lalu tiba-tiba saja sambungan telepon sang dekan pun berbunyi, ketika sang dekan mengangkat sambungan itu.
Sang dekan begitu sangat terkejut, ia pun langsung menekan pembesar suara dan membuat seluruh dosen yang ada disana melihat kearah dekan yang tengah berdiri kaku.
"Ibu Delna, jika kau ingin aku menyelidiki kasus adikmu, artinya aku juga harus menyelidiki seluruh perbuatanmu dan adik mu selama mengajar di kampus dan setelah aku mendapati hasilnya, maka aku akan mengumumkannya di depan publik, apa kau setuju?," tanya suara itu dengan suara tegas.
Delna yang mendengar itu merasa sangat terkejut, ia tidak bisa berkata-apa lagi, bahkan tubuhnya tiba-tiba saja jatuh dan terduduk di lantai.
Bersambung ...
__ADS_1