
Valia yang melihat itu pun hanya menghela nafas pelan, lalu Ferry dan Geril mulai menatap kearah Valia.
Mereka melihat pipi Valia memang sudah sangat membiru, jika memang benar pria itu adalah kekasih dari wanita yang ada di depan mereka, maka hal yang wajar jika pria itu marah besar.
Lalu Valia dan Carmila melangkah kan kaki mereka ke luar, sedangkan Ferry dan Geril saling menatap satu sama lain.
"Jika dilihat dari reaksi pria itu, aku yakin bahwa pria itu tidak akan melepaskan keluarga Amoriya begitu saja," ucap Ferry sambil bergidik ngeri.
Geril menyetujui perkataan Ferry, tidak ada yang salah dengan perkataannya, "Tentu saja, aku ingat dulu bagaimana dia menuntut orang-orang yang bersalah itu, hukumannya sesuai dengan aturan hukum pemerintahan, bahkan dia melipat gandakan hukuman mereka karena mereka mencoba memfitnah dia," ucap Geril sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Begitu sial nasib mereka, padahal mereka sedang terkena musibah yang membuat salah satu dari keluarga itu di bunuh, dan sekarang ibu nya terkena kasus dengan klien yang memiliki pengacara sehebat itu, benar-benar sial," ucap Ferry sambil menggelengkan kepalanya.
Geril bahkan mulai memikirkan kasus yang tengah di tangannya, "Sudahlah, aku tidak bisa memikirkan itu, karena kepalaku seakan ingin pecah menindak lanjuti kasus keluarga itu," ucap Geril yang mulai mengacak-ngacak rambutnya.
Ferry pun mengernyitkan dahinya, apa Geril lupa tentang kasus yang tengah di tangani oleh Ferry?, bahkan kasus itu lebih banyak di limpahkan pada Ferry.
Dan ketika Ferry ingin mengeluarkan umpatan pada Geril, tiba-tiba saja mereka di dikejutkan dengan seorang yang berlari menerobos masuk ruangan polisi.
Brakkk
Hentakan pintu itu membuat seluruh polisi yang ada di dalam ruangan tersentak kaget.
Orang itu tengah menghirup udara dengan rakus, dan polisi itu tidak ada yang berbicara sebelum orang itu memulai perkataannya, setelah beberapa menit berlalu, akhirnya pria itu pun bisa bernafas sedikit normal.
"Pak ... tolong ... aku menemukan jasad yang mata tertusuk dengan kulit kepala terbuka," ucap orang itu dengan nafas terengah-engah.
__ADS_1
Ferry dan Geril mulai saling memandang satu sama lain, "apa kau berpikir hal yang sama dengan ku?" tanya Ferry pada Geril.
"Sial!" kesal Geril sambil memukul meja dengan kuat.
Lalu keduanya langsung berlari dan meminta orang yang menemukan jasad itu untuk ikut bersama mereka.
...****************...
Sedangkan Valia memerintahkan pria itu untuk kembali ke asalnya, sehingga kedua wanita itu bisa pergi kerumah sakit dengan nyaman.
Pria itu oun menuruti perkataan Valia, dan mereka berpisah di persimpangan jalan, sedangkan Valia membawa mobilnya ke rumah sakit sesuai usulan yang di berikan pria itu.
Di dalam mobil Carmila tampak enggan untuk berbicara, sebenarnya ia memiliki banyak pertanyaan untuk Valia, tapi ia takut untuk menyinggung Valia.
Jadi Carmila memilih untuk diam dan sesekali melirik kearah pipi Valia yang membiru.
Valia menganggukkan kepalanya, jika aku berbicara seperti ini, denyutnya semakin bertambah dan sangat menyakitkan," ucap Valia tanpa menoleh.
Sedari tadi Valia hanya memendam rasa sakit itu, tamparan yang di berikan Karin sangatlah kuat, bahkan sepanjang perjalan mereka Valia terus merasakan sakit yang luar biasa.
"Sial!, dia menamparnya dengan sangat keras, tamparan ini bahkan sama seperti yang di lakukannya di kehidupan ku saat menjadi Silyena," batin Valia yang mulai mendorong lidah nya ke pipi.
Carmila bisa melihat bahwa Valia tengah kesakitan, ia pun mulai merasa kasihan pada Valia, "Tidak seharusnya aku menyuruhnya minta maaf pada keluarga kak Granov. Dari awal dia memang tidak bersalah, lalu mengapa aku menyuruh nya dengan sesuka hatiku tanpa memikirkan pemerasan Valia?, walau kak Granov adalah pacarku, tapi apa yang kulakukan ini tidak benar. Lain kali aku harus bersikap adil, karena bagaimanapun kebenaran tetap lah kebenaran," batin Carmila.
"Valia, aku ingin meminta maaf atas apa yang sudah ku lakukan tadi," ucap Carmila yang berusaha memberanikan diri untuk berbicara pada Valia.
__ADS_1
Valia yang mendengar itu mulai tersenyum, ia tidak menyangka bahwa diamnya Valia justru membuat Carmila berpikir dengan jernih, "Tidak apa-apa, tapi kau juga salah, kau tidak seharusnya membela pacar mu seperti tadi, jika dia salah maka kau harus mengatakan salah. Bagaimana jika yang terkena itu adalah orang yang sangat miskin?, aku yakin bahwa dia akan menjalani hidup yang lebih sengsara, dan belum tentu mereka memiliki keberuntungan seperti ku. jadi lain kali berpikirlah sebelum bertindak, tidak semua orang miskin bisa melawan orang kaya seperti pacarmu" ucap Valia dengan pelan.
Carmila yang mendengar itu pun menunduk malu, ia berpikir bahwa apa yang di katakan Valia adalah benar, dirinya selalu di ajarkan untuk tetap rendah hati dan tidak sombong kepada siapapun, bahkan tidak boleh bertindak semena-mena pada orang kecil. tapi saat di rumah Granov, ia justru melupakan aturan itu.
"Terimakasih, aku berjanji akan berpikir dulu sebelum mengeluarkan kata-kata dari mulutku," ucap Carmila sambil tersenyum.
Carmila bahkan tidak marah pada Valia, ia justru berterimakasih pada Valia karena masih mau memberinya peringatan, karena bagaimanapun ia memang harus melakukan apa yang di katakan oleh keluarganya.
Carmila juga mendengar cerita tentang pada pendahulunya, bahwa mereka tidak bisa menjadi kaya secara instan, keluarga Dapilona dulunya hanyalah pengusaha biasa, dan mereka juga harus melewati masa-masa sulit, seperti mendengar hinaan orang lain, bahkan mereka jug pernah di fitnah sangat kejam oleh orang kaya.
Karena itulah setiap generasi Dapilona di ajarkan untuk tidak semena-mena dengan orang kecil, jika generasi mereka melakukannya maka sama saja dengan mengejek pendahulu Dapilona.
Setelah mereka sampai di rumah sakit, Valia dan Carmila turun dari mobil. "Aku benci Keluar masuk rumah sakit," ucap Valia kesal.
Carmila yang mendengar itu tertawa keras, "Haha ... mau bagaimana lagi, pipi mu itu bahkan sudah terlihat sangat jelek," ejek Carmila sambil tertawa keras.
Valia yang mendengar ejekan itu merasa sangat kesal, ia pun langsung melangkah masuk kedalam rumah sakit dan di ikuti oleh carmila yang masih tertawa kecil.
Lalu Valia pun langsung masuk kedalam ruangan dokter, sedangkan Carmila terlihat binggung melihat Valia langsung masuk begitu saja tanpa adanya pendaftaran pasien.
"Kau tidak mendaftar dulu?," tanya Carmila binggung.
Valia yang mendengar itu merasa sangat bodoh, "Karena rasa sakit ini, aku lupa tentang hal itu" batin Valia.
Lalu pintu ruangan itu terbuka dan memperlihatkan seorang dokter yang tengah memasuki ruangannya.
__ADS_1
Dokter itu tidak terkejut lagi dengan kehadiran keduanya, ia menoleh kearah Valia, ia mengeryitkan dahinya ketika melihat ada yang berbeda dari diri Valia, "Sekarang apa lagi nona?, pipi mu terlihat sangat cantik," ucapnya yang sedang menahan tawa.
Bersambung ...