
"Tidak, aku benar-benar sengaja melakukannya, agar orang bermuka dua seperti mu menjauh dari hidupku," ucap Valia sambil tersenyum smirk ke arah mereka semua.
Orang-orang yang ada di kelas itu terus berbisik-bisik, mereka semakin tidak menyukai sikap Valia, sedangkan Telisa semakin tersenyum karena teman-teman yang ada di kelasnya membicarakan kebusukan Valia.
Salah satu mahasiswa maju dan berbicara lantang, "Kau hanya anak miskin, tapi berani sekali kau memperlakukan Telisa seperti itu, apa kau tidak takut di penjara?," tanya Seryl yang sudah tidak menyukai Valia.
Valia membenarkan kursinya dan duduk di sana, kini ia kembali menatap mereka semua, "Apa aku harus takut padanya?, apa dia anak dari keluarga Samantha?," tanya Valia sambil menopang wajahnya.
Telisa terkejut mendengar perkataan itu, ia tidak menyangka bahwa Valia membandingkannya dengan keluarga Samantha, "Tidak, kasta mereka terlalu tinggi, bukankah aku sudah pernah mengatakannya latar belakangku pada mu?," ucap Telisa mencoba berbicara lembut pada Valia.
Valia yang melihat itu memutar bola matanya dengan malas, "Bisakah kau tidak menggunakan suara lembut itu padaku?, lagipula hal itu tidak pantas di ingat olehku, dan jika aku mengatakan bahwa aku adalah bagian dari keluarga samantha, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Valia sambil tersenyum smirk.
Seluruh yang ada di kelas itu benar-benar terkejut mendengar perkataan Valia, mereka juga beru mengingat bahwa Valia memiliki nama Samantha.
Jian dan Rila yang mendengar itu merasa sangat terkejut, mereka bahkan melototkan mata dengan sempurna.
Walau nama belakang itu sama, tapi yang pasti mereka tidak mudah percaya begitu saja, "Tidak mungkin, anak dari keluarga Samantha selama ini tidak pernah menunjukkan dirinya ke publik, bahkan keluarga itu tidak mengizinkan media untuk meliput wajah anak mereka, dan sekarang kau mengaku bahwa kau adalah anak dari pemilik kampus?, bukankah itu lelucon yang tidak masuk akal Valia?," ucap Seryl sambil mengeryitkan dahinya.
Anak-anak di kelas mereka setuju dengan perkataan Seryl, lalu mereka semua kini mencemooh Valia.
"Yah itu memang terdengar seperti lelucon, tapi itu terserah kalian mau mempercayai perkataan ku atau tidak, yang jelas aku sudah mengakan ini, dan jangan menyesal di kemudian hari," ucap Valia sambil menampilkan senyum mengejek.
Seryl yang melihat senyum itu, semakin tidak mempercayai perkataan Valia, "Oh ya, lalu kalau kau memang berasal dari keluarga Samantha, kenapa kau mengambil jalur beasiswa dan mencuri soal ujian?," ucap Seryl sambil mengeryitkan dahinya.
"Entahlah, mungkin ada yang sengaja mencari ku, lalu menyuruh ku untuk mencuri soal ujian dan setelah itu mereka merekam ku secara diam-diam, agar bisa mempermalukan ku dengan cara mengatakan bahwa aku telah mencuri soal ujian itu, bagaimana?, apa ceritaku begitu menarik?," ucap Valia sambil melirik kearah Jian dan Rila yang duduk terdiam di depan kelas.
Lalu Valia melirik kearah Telisa dengan tangan yang sudah gemetar, sedangkan par mahasiswa itu mengikuti arah pandang Valia, yang tertuju pada Rila dan Jian.
__ADS_1
Mereka semua mengetahui bahwa Jian dan Rila adalah orang membuli Valia, tapi bagaimana dengan Telisa?, mereka melihat Valia tengah menatap kearah Telisa dan hal itu membuat mereka bertanya-tanya.
Seryl mengeryitkan dahinya, sedangkan mahasiswa lainnya terus menatap kearah mereka, "Bukankah kau dan Telisa teman dekat?, lalu ada apa dengan tatapanmu itu padanya?," ucap Seryl yang benar-benar bingung.
Valia yang mendengar itu terdiam sejenak, "Haha ... teman?, apa kalian tidak mendengar bahwa aku tidak ingin memiliki teman bermuka dua?," ucap Valia disela tawanya sambil menatap tajam kearah Telisa.
Telisa yang mendengar ucapan itu merasa sangat tersinggung, bahkan ia juga terlihat sangat kesal, "Bermuka dua?, apa maksudmu Valia?, selama ini aku selalu baik padamu, tapi kenapa kau mempermalukan aku di teman-teman sekelas kita?," ucap Telisa yang mulai berderai air mata.
Valia mengeluarkan ponselnya dan ia pun memencet sebuah tombol di ponsel itu.
Ting
Tiba-tiba, layar lebar yang ada di kelas mereka menampilkan sebuah video, dimana disana terlihat seseorang sedang merekam Valia yng tengah mencuri soal ujian.
Teman-teman yang ada di kelas itu tampak terkejut, kini mata mereka mengarah pada Telisa yang sedang tercengang.
Telisa tampak tidak kuasa menopang tubuhnya lagi, ia pun mundur secara perlahan dan menabrak lemari penyimpanan yang ada di belakang mereka.
Brukkk
Telisa terjatuh dengan air mata yang mulai mengalir. Sedangkan Valia mengalihkan pandangannya ke layar dan tengah menonton dengan mata yang tidak berkedip.
"Haha ... jika kalian ingin menontonnya, aku akan mengirim video itu pada kalian," ucap Valia sambil tersenyum.
Lalu Valia kembali menakan sebuah tombol di ponselnya dan Video itu pun terganti.
Ting
__ADS_1
Video itu tentang Valia dan Jian yang tengah bertaruh, semua mahasiswa yang ada di kelas itu dibuat benar-benar terkejut.
Mereka pernah mendengar tentang taruhan itu, tapi mereka tidak menanggapinya karen Jian tampak tidak ingin melakukannya.
"Aku masih ingat tentang taruhan kita Jian, jadi kapan kau akan memulainya?," ucap Valia sambil menatap punggung Jian.
Jian terlihat sangat kesal dan malu, ketika Jian hendak meninggalkan kelas, tiba-tiba saja, seluruh mahasiswa yang ad di kampus berbondong-bondong datang ke kelas Valia.
Ternyata Valia menayangkan video itu ke seluruh layar lebar yang ada di kampus.
Jian yang hendak pergi kini menghentikan langkahnya, dan ia pun dengan terpaksa mundur. ia tampak begitu panik dan benar-benar tidak tau harus berbuat apa.
"Kau berhutang padaku," ucap Valia sambil tersenyum.
"To-tolong lupakan tentang perjanjian itu," ucap Jian sambil menatap Vali yng berada di kursi atas.
"Tidak!, ini taruhan dan kau harus melakukannya," ucap Valia dengan tegas.
Sedangkan para mahasiswa yang mendatangi kelas mereka tampak terdiam, karena Valia Berni mengajukan taruhan pad nak dari pemegang saham terbesar ke dua.
Awalnya semua orang mengatakan hal buruk tentang Valia, tapi kini, semua berbalik ke arah Telisa, serta melibatkan tentang perjanjian Jian.
"A-aku tidak ingin melakukannya," ucap Jian dengan berpegang teguh dengan pendiriannya.
Dari atas, Valia terlihat menatap Jian dengan datar, "kau yakin tidak ingin melakukannya?" tanya Valia dengan nada dingin.
Bersambung ...
__ADS_1
Maaf kalau banyak typo bertebaran 🙏