
"Tentu saja aku sadar," ucap Valia sambil melihat kearah Nero, lalu Valia kembali melihat kearah Granov, lalu ia pun berdiri sehingga membuat keduanya saling bertatapan satu sama lain.
"Ingat ini senior yang terhormat, sampai kapanpun aku tidak akan mencabut tuntutan itu, aku bahkan sangat ingin membuat ibumu mendekam di penjara seumur hidupnya!, bukankah orang seperti kalian sangat sombong?, jadi aku ingin kau sedikit sadar, bahwa dengan kekayaan mu kau bahkan tidak bisa mengeluarkan ibumu yang ada di dalam penjara!" ucap Valia dengan kuat.
Granov yang mendengar itu merasa sangat terkejut, ia pun terlihat panik serta langsung menoleh ke kanan dan ke kiri, beruntung tidak ada siapapun di sekitar mereka, sehingga membuat Granov merasa sedikit lega.
Namun mata Granov kini tertuju pada Nero, "jangan katakan pada siapapun!" ancam Granov sambil menatap Nero dengan tajam.
Valia mengerti dengan perkataan Granov, ia yakin bahwa Granov sedang mengancam Nero, "Haha ... apa kau telah menjadi orang bodoh senior Granov?, walau kau menerapkan hukum senior dan Junior, akan tetapi, hukum itu tentu tidak berlaku untuknya, karena jika kau melakukan itu, maka kau harus bersiap menghilang dari kampus ini," ucap Valia sambil tersenyum smirk.
Valia juga tau bahwa hukum senior dan Junior hanya berlaku pada mahasiswa beasiswa saja, dan dengan secara tidak langsung Valia sudah mengatakan bahwa Nero bukanlah orang yang bisa di singgung sesuka hatinya.
Granov terlihat terkejut, tubuhnya bahkan mulai bergetar dengan hebat, ia lupa bahwa hukum itu tidak akan berlaku pada mahasiswa yang memiliki latar belakang yang kuat.
"Sial, aku lupa akan hal itu," batin Granov yang sudah semakin gemetar ketakutan.
Granov melirik kearah Carmila, ia melihat Carmila hanya berdiam tanpa membuka suaranya, "Carmila?" ucap Granov yang memanggilnya.
Carmila menengadahkan kepalanya dan melihat kearah Granov, ia mengerti bahwa Granov sedang meminta bantuannya, tapi Carmila sadar bahwa ia tidak bisa ikut campur dalam urusan Valia, "maaf senior, aku tidak bisa membantumu," ucap Carmila dengan nada pelan.
Granov yang mendengar itu mengeraskan rahangnya, ia berjongkok dan berbicara di hadapan Carmila, "aku tidak percaya ini Carmila, dia sedang memenjarakan ibuku, tapi kau sedikitpun tidak mau membantuku?, lelucon apa ini?!" kesal Granov dengan menaikkan nada bicaranya.
__ADS_1
Nero yang berada di samping Carmila, ingin menarik Carmila, tapi Valia justru sudah beraksi terlebih dahulu.
Valia yang mendengar itu merasa sangat kesal, ia bahkan sudah menggeretakkan giginya dengan sangat kuat, lalu dengan cepat, ia menendang Granov untuk menjauh dari Carmila.
Hal itu membuat Granov terjatuh, dan membuatnya menatap Valia dengan tajam, "Hei senior, aku peringatkan sekali lagi padamu!, jangan pernah meninggikan suaramu pada Carmila, jika kau melakukan hal itu lagi, maka kau harus menanggung akibatnya!" ucap Valia dengan mata yang sudah memerah dan menunjukkan jarinya pada Granov.
Granov merasa harga dirinya telah jatuh, Seketika saja ia melihat kearah Nero yang tengah menatapnya dengan tatapan marah, dan Granov juga melihat tangan Nero yang berada di kedua pundak Carmila.
Seketika saja, Granov tersenyum mengejek, "Pantas saja kau tidak membantuku, ternyata kau sudah memiliki pria lain di sisimu," ucap Granov dengan menatap kearah Carmila.
Carmila tersentak, ia menunduk takut dan seakan tengah menahan tangisnya.
Valia berjalan kearah Granov, ia pun berjongkok di hadapannya sambil melototkan matanya, "Pikirkan saja sesuka hatimu, karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengeluarkan ibumu dari penjara!" ucap Valia dengan penuh penekanan serta bangkit dan berjalan mendekati Carmila dan Nero.
"Aku sudah tidak berselera makan, jadi kita harus pergi dari sini," ucap Valia sambil menepuk pundak Carmila.
Carmila tampak menurut dan tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia bahkan terus menunduk dan menerima uluran tangan Valia.
Nero mengangguk dan ikut berdiri, ia pun langsung mengambil barang-barang Carmila dan mengikuti langkah kedua wanita itu.
Granov merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di alaminya, "anak beasiswa itu meninggalkan ku begitu saja?," gumam Granov dengan menatap kepergian ketiga orang itu.
__ADS_1
Di sisi lain, Kaliandra dan Riana langsung pergi menuju kantor polisi, mereka menceritakan seluruh kejadian yang tengah mereka alami.
Brukkk
"Sial!, aku yakin, bahwa pembunuh itu bagian dari universitas kalian!" ucap Ferry yang tengah memukul meja.
Kaliandra dan Riana saling menatap satu sama lain, lalu Riana menganggukkan kepalanya.
"Pak, kami memiliki sampel darah itu," ucap Kaliandra sambil memberikan perekat yang sudah di masuki kedalam plastik.
Ferry terkejut dan langsung mengambil benda yang baru saja di letakkan oleh Kaliandra di atas meja.
Ferry dengan cepat memanggil rekannya "bantu aku menyelidiki ini, kita harus mengetahui siapa dalang di balik pembunuhan berantai ini." ucap Ferry pada rekannya dengan penuh semangat.
Ferry cukup lelah dengan kasus yang tengah di tanganinya, ia merasa para pembunuh itu seolah bagian dari kepolisian, karena, ketika dirinya tiba di lokasi, ia tidak menemukan jejak apapun.
Sebagai seorang polisi, mereka pasti mempelajari berbagai cara menghilangkan jejak pembunuhan, dan hal itu membuat Ferry yakin bahwa menghilangnya jejek itu pasti ada campur tangan dari pihak kepolisian.
Ferry melihat sekeliling nya, tapi ia tidak menemukan gerak gerik apapun dari rekan-rekannya, "Kasus ini benar-benar sangat rumit," batin Ferry sambil memijit pelipisnya.
Bersambung ...
__ADS_1