
Elena menundukkan wajah sambil menahan sakit di kepalanya, ia merasa kepalanya terus berdenyut, lalu Elena mengeluarkan perkataan yang membuat Valia berdecih.
Elena terus menundukkan kepalanya, lalu ia pun mulai mengeluarkan kembali suaranya, "Apa kau tau kenapa seluruh keluarga kami tidak menyukainya?," tanya Elena sambil menitikkan air mata.
Valia mengeryitkan dahinya, "Cih, dulu aku memang tidak mengetahuinya, karena kalian datang lalu menyiksa kami tanpa mengatakan apa kesalahan yang telah kami lakukan. Dan sejak jiwaku memasuki tubuh ini, aku mulai mencari tau apa yang sudah ibu ku lakukan pada kalian, dan ternyata ibu pernah melakukan kesalahan, tapi ibu melakukannya dengan tidak di sengaja, dia juga sudah memberikan kompensasi kepada keluarga pasien dan memberikan biaya ganti rugi yang cukup fantastis. Tapi kalian dengan tidak tau malu justru membuat hidup kami menjadi berantakan dan kalian bahkan merebut seluruh harta nya!" ucap Valia dengan amarah yang menggebu-gebu.
Elena terdiam mendengar perkataan Valia, ia tertunduk dengan air mata yang terus mengalir, "Selama 25 tahun aku hidup, ayah tidak pernah memberikan kasih sayang atau pun cintanya padaku, dia justru menyiksa ku tanpa belas kasih, dan ketika kalian bertiga datang, kalian justru menambah penderitaan kami, aku selalu bertanya pada ayah tentang apa yang telah aku lakukan sehingga membuatnya begitu tidak menyukaiku, tapi dia menjawab dengan santai, bahwa aku tidak perlu mengetahui apapun. Apa kau pikir hidup di keluarga seperti itu mudah?!" teriak Valia dengan sekuat-kuatnya.
Perkataan itu adalah sebagai bentuk rasa sakit yang sudah di pendamnya begitu lama, kini Valia bahkan menangis dengan sesenggukan.
Siapapun yang mendengar curahan hati Valia, pasti ikut merasakan sedih, bahkan Elena yang tengah tergantung juga ikut merasakan sakit di hatinya.
Valia menangis sejadi-jadinya, ia bahkan terduduk dengan air mata yang terus ngalir, Valia terus teringat bagaimana dirinya begitu menderita karena ulah kerabat sang ayah.
"Sebenarnya apa salahku?, kenapa dia melakukan hal yang begitu mengerikan padaku?, jika hanya untuk di siksa, aku pasti akan memilih untuk tidak dilahirkan dari benihnya," teriak Valia yang meluapkan emosinya.
Valia tampak sangat histeris, ia terus mengeluarkan kata-kata yang sudah di pendamnya sangat lama, baginya mengeluarkan kata-kata saja bahkan tidaklah cukup, tapi Valia terus melakukannya tanpa melihat wajah Elena.
Elena tampak sedikit bersimpati dengan kehidupan yang pernah dijalani oleh Valia, "Kalian tidak mengetahui luka fisik serta mental yang telah ku terima, kalian dengan bangga menyiksa ku tanpa tau bahwa saat itu ku juga sudah sangat depresi," lanjut Valia dengan berteriak sambil berderai air mata.
Tapi, seketika saja rasa simpati itu tidak terlihat lagi di wajah Elena, ia pun memulai merasa tidak terima dengan perkataan Valia yang baru saja di dengarnya, lalu ia pun mulai menjawab perkataan Valia itu, "Luka fisik?, mental?, lalu kau pikir kami tidak merasakan itu?!, kami bahkan merasakan hal yang sama dengan apa yang kau rasakan!" balas Elena dengan berteriak sambil berderai air mata.
Keduanya tampak menangis sambil mengeluarkan kata-kata yang sudah menumpuk di hati mereka, tapi yang paling mengenaskan saat ini adalah Valia.
Ia seperti benar-benar tidak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata yang ada di hatinya lagi.
Lalu ketika Valia yang mendengar perkataan iru pun langsung menghapus air matanya, ia berdiri sambil menghirup udara dalam-dalam.
__ADS_1
"Haa ... kau mengatakan itu karena kau belum merasakan apa yang telah aku alami, jadi, apa kau ingin tau seperti apa luka yang aku terima?," tanya Valia dengan wajah datar.
Valia menoleh ke kanan dan kiri, kini ia melihat sebuah besi panjang dan Valia berjalan kearah bersi itu lalu mengambilnya.
Valia pun mulai memutar-memutar besi itu di tangannya, sedangkan Elena melototkan matanya dengan lebar, "A-apa yang ingin kau lakukan?," teriak Elena dengan keras.
Valia kembali menatapnya dengan tajam, "Aku hanya ingin mempraktekkan padamu, luka seperti apa yang sudah aku terima, jadi kau harus melihatnya dengan seksama," ucap Valia dengan mengeram marah.
Lalu Valia berdiri di belakang punggung Elena dan langsung mengayunkan besi itu dengan sangat kuat.
Prakk
Arrgghh
Elena yang mendapat pukulan itu merasa sangat terkejut serta melototkan matanya, rasa sakit dari pukulan itu langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Sa—sakit," gumam Elena kecil.
Elena yang mendengar itu merasa sudah tidak bisa berkata-kata lagi, memang benar, luka fisik yang di terima Elena sangat jauh berbeda dengan luka fisik Valia.
"A-apa aku memang benar-benar melakukannya?" gumam Elena yang sudah menangis terus menerus, bahkan air mata itu tidak pernah terhenti.
Valia tidak menjawab pertanyaan Elena, Valia bisa melihat darah sudah mengalir dari punggung Elena, tapi Valia seolah tidak perduli tentang hal itu.
Tanpa belas kasih, Valia kembali mengayunkan besi itu kembali ke punggung Elena.
Prakkk
__ADS_1
Arrghh
"Kenapa kau berteriak, bukankah kau juga merasakan rasa sakit itu?, seharusnya kau sudah kebal dengan Luk fisik seperti ini," ucap Valia dengan tersenyum smirk.
"Baiklah, baiklah, hentikan!, aku sudah merasakan!, tolong berhenti memukulku!" ucap Elena dengan nada memohon.
Valia yang mendengar permohonan itu semakin mencibir Elena, "Kau baru mendapat dua pukulan, tapi kau justru sudah menyerah?, apa luka yang aku terima dengan luka fisik yang kau terima itu berbeda?," ucap Valia.
"Ya berbeda, kami hanya mendapat cakaran dari kakak iparku," ucap Elena sambil menangis dengan kepala tertunduk.
Valia menatap punggung Elena dengan datar, "Haha ... lucu sekali kau!, tadi kau dengan lantang mengatakan bahwa kalian menerima luka fisik yang sama denganku, tapi sekarang kau merubah perkataanmu, apa orang-orang dari keluargamu memang orang yang seperti ini?" ucap Valia di sela tawanya.
"Apa kau sudah puas?!, sekarang lepaskan aku!" teriak Elena meminta melepaskan dirinya.
Valia langsung mengayunkan besi itu untuk yang ketiga kalinya.
Prakkk
Krekk
Arrghh
Elena terkejut mendengar bunyi yang tidak biasa, ia bahkan sudah tidak bisa memerintahkan tubuhnya sesuai dengan kehendaknya.
"Sakit!" teriak Elena sambil menangis.
Elena sungguh sudah tidak kuat menahan ras sakit itu, ia pun mencoba memohon, tapi Valia terus saja mengayunkan besi itu ke tubuhnya.
__ADS_1
"Hentikan!, tolong lepaskan aku, kedua orang tua dan kakakku pasti mengkhawatirkan ku," ucap Elena dengan memohon.
Bersambung ...