Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Mengeluarkan Darah


__ADS_3

Zewina dan Fallen memberikan reaksi yang sama, sedangkan Valia hanya menonton sambil melihat reaksi yang mereka berikan.


"Sepertinya karena terlalu kebanyakan dosis, efek sampingnya mulai bereaksi," ucap Valia yang tidak berhenti tersenyum.


Keduanya tampak melototkan mata kearah Valia, tapi Valia tidak merasa takut sam sekali.


Zewina dan Fallen mengeluarkan seluruh makanan mereka dari mulut, mereka merasakan nyeri di seluruh tubuh mereka, bahkan kepala keduanya juga terasa sangat pusing.


"Sakit sekali," batin Zewina yang perlahan-lahan mengeluarkan cairan bening dari matanya.


"Ini menyakitkan, aku tidak percaya bahwa dia orang yang sangat mengerikan," batin Fallen sambil memejamkan matanya dan mengeluarkan keringat dingin.


"Padahal awalnya aku sudah melepaskan kalian berdua, tapi kalian justru menggangguku tanpa henti, jadi aku memutuskan untuk membuat kalian mati dengan rasa sakit," ucap Valia sambil melihat kearah keduanya.


"Apa kalian pikir aku anak miskin?, seorang Valia Samantha kalian sebut orang miskin?, jika aku orang miskin, tentu aku tidak berani melakukan hal kejam ini pada kalian, tapi karena aku adalah bagian dari Samantha, maka aku bebas menghukum orang-orang seperti kalian" lanjut Valia.


Sedangkan Zewina dan Fallen melototkan mata mereka, sungguh, mereka tidak berpikir bahwa Valia adalah anak dari keluarga samantha.


mereka berpikir seperti Gleni dan Renzo, bahwa Valia hanya anak miskin yang masuk menggunakan beasiswa, jadi mereka tetap tidak percaya dengan hal itu.


Valia bisa melihat raut wajah keduanya, ia pun langsung menyuruh keduanya melihat sang dokter.


"Apa kalian mengenalnya?, tentu saja kalian mengenalnya, karena pamanku itu adalah bagian dari Samantha," ucap Valia lagi.


Kini keduanya menoleh kearah Xander, awalnya mereka tidak menyadari kehadiran Xander, tapi kali ini mereka mempercayai perkataan Valia. Karena keduanya melihat Xander hanya berdiri dengan santai di depan pintu.


Dan juga bagaimanapun tidak sembarang orang bisa menggunakan nama keluarga Samantha, apalagi di depan bagian keluarga itu sendiri.


"Kali ini tamatlah riwayat kami, walau kami mati, dia tidak akan pernah di hukum," batin Zewina yang mulai mengasihani dirinya sendiri.


"Seharusnya aku tidak mengatakan itu padanya" batin Fallen.

__ADS_1


Xander terus saja menonton, ia mencatat di memorinya tentang apa-apa saja yang keluar dari mulut Valia.


Zewina dan Fallen bahkan sudah mengalirkan cairan bening di pipi mereka, terus saja memuntahkan isi perut mereka, setelah itu tiba-tiba saja ...


Uekkk


Kini yang keluar bukan lagi makanan, melainkan mengeluarkan darah yang sangat banyak.


Seluruh muntahan itu mengenai pakaian Fallen dan Zewina, bahkan mengalir kebawah tempat tidur.


Hal itu benar-benar sangat menjijikkan, tapi untuk orang seperti Valia dan Xander tentu tidak akan mempengaruhi mereka.


Bahkan hal itu mampu membuat Valia tersenyum, "Haha ... ini menyenangkan, seperti perut kalian sudah kosong sehingga bisa memuntahkan darah begitu banyak. Sekarang bagaimana?, apa rasanya sangat enak?," tanya Valia.


Zewina dan Fallen tidak menyangka bahwa Valia tertawa di atas penderitaan mereka, bahkan keduanya merasa tidak membuat masalah yang begitu fatal pada Valia.


"Padahal aku hanya mengejeknya miskin, tapi dia bahkan ingin membunuhku dengan cara yang kejam sekejam ini" batin Zewina yang terus menangis.


"Sakit, sungguh dia tidak berperasaan, aku bahkan hanya menyebut saja dan tidak sampai melakukan hal lain, tapi lihatlah, dia bahkan berani membunuh kami dengan cara keji seperti ini," batin Fallen


Nggghhhh


Pusing, mual, tubuh yang tidak nyaman, itulah yang di rasakan keduanya, semua itu adalah karena efek samping dari obat yang di suntikan oleh Valia.


Apalagi dosis yang di berikan ya melebihi anjuran dokter, Bahakan bisa di bilang mengalami over dosis.


"Aku harus melakukan ini pada kalian berdua, karena aku takut kalian akan menghalangi kebahagiaan Carmila, aku tidak mau kejadian masa lalu yang pernah aku alami di masa depan terjadi lagi pada ibu," gumam Valia dengan pelan.


Deg


Seketika saja jantung Xander seolah ingin berhenti, sedangkan Valia tidak menyadari kehadiran Xander yang sudah berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Apa maksud dari perkataannya itu?, aku sudah menduga ini sejak awal" batin Xander dengan melototkan matanya dengan lebar.


Xander pun memundurkan langkahnya secara perlahan-lahan, lalu ia kembali berdiri dengan tegak, namum pikirannya terus memikirkan perkataan Valia.


Xander tidak ingin mengambil keputusan dengan cepat, ia memilih untuk diam dan tidak mempertahankan itu pada Valia.


Tit ....


Fallen dan Zewina telah menghembuskan nafas terakhir mereka, Valia yang mendengar suara mesin itu pun merasa sangat senang.


Valia pun melangkahkan Kakinya ke depan Xander, "Paman, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?," tanya Valia pada Xander.


Xander melirik kearah Valia, "kita pergi saja dari sini, biarkan orang-orang paman yang membersihkan mereka. Lagipula kita harus cepat kembali, karena paman takut Carmila akan sampai terlebih dahulu," ucap Xander yang mencoba bersikap seperti biasa di depan Valia.


Valia tersentak kaget, ia langsung berlari keluar dengan sangat tergesa-gesa, setelah sampai Valia menekan handle pintu ruangannya dan berharap Carmila belum ada di ruangan itu.


Tapi ternyata dugaannya salah, Valia melihat Carmila tenaga duduk di atas sofa sambil menatap kearahnya, "dari mana saja kau?, aku sudah menunggumu daritadi," kesal Carmila menatap tajam kearah Valia.


Valia menghirup udara dengan rakus, lalu ia pun berusaha mencari alasan agar Carmila mempercayainya, "aku habis jalan-jalan sebentar mencari udara segar," ucap Valia sambil berusaha bernafas dengan normal.


Carmila yang melihat itu pun mengeryitkan dahinya, "jalan-jalan?, tapi dia seperti habis berlari," batin Carmila dengan tatapan curiga.


Tapi Carmila pun mencoba untuk tidak bertanya pada Valia, "sudahlah, lebih baik kita makan dulu, cacing di perutku terus saja mendemo," ucap Carmila sambil melihat ke makanan yang ada di atas meja.


Carmila pun membuka tempat makan yang berisikan bubur yang baru saja di belinya, lalu Carmila menggeser makanan itu kedepannya.


Valia berjalan masuk kedalam dan menutup pintu ruangannya kembali, ia pun duduk di sofa yang ada di seberang Carmila, keduanya hanya di pisahkan oleh meja saja.


Sedangkan untuk Carmila sendiri, ia membeli dua potong kue saja, Valia yang melihat itu pun mendengarkan dahinya.


"Kau hanya memakan itu?, bukankah tadi kau mengatakan sangat lapar?, lalu kenapa hanya membeli dua potong kue?," tanya Valia dengan binggung.

__ADS_1


Carmila mengangguk menyetujui perkataan Valia, "tentu saja aku lapar, tapi porsi makan ku tidak sepertimu, jadi jangan pernah menyamakannya," ucap Carmila kesal.


Bersambung ...


__ADS_2