
Seketika saja ruangan kantin itu pun hening, lalu salah seorang mahasiswa mulai mengeluarkan pendapatnya.
"Apa yang di katakan Valia memang benar, seharusnya dia bisa menerima persyaratan yang di ajukan itu, lagipula syarat nona itu jauh lebih berat dari yang di berikan oleh Valia" ucap mahasiswa itu.
Para mahasiswa lainnya pun mengangguk setuju dengan pendapatnya.
"Terima!"
"Terima!"
"Terima!"
Para mahasiswa berteriak secara bersamaan, sehingga membuat suasana kantin begitu sangat riuh, bahkan suara mereka telah menembus sampai keluar gedung, dan membuat para mahasiswa yang berada di luar gedung langsung berlari ke kantin.
Mereka yang berada di luar gedung begitu terkejut mendengar teriakan para mahasiswa. Bukan hanya bisa memanggil para mahasiswa, tetapi teriakan itu mampu mampu membuat para dosen juga ikut berlari ke kantin.
Jian terkejut mendengar sorakan para mahasiswa itu, ketiga orang itu bahkan sudah berkeringat dingin.
"Jian, bagaimana sekarang?" tanya Asra yang sudah benar-benar panik.
Sedangkan Rila, ia tidak sanggup berdiri dan hanya bisa menahan sakit itu saja, ia ingin langsung pergi dari kantin, tapi suasana di kantin tidak memungkinkannya untuk pergi.
Jian sungguh tidak bisa berbuat apapun, ia terlihat kebingungan di sertai panik.
Walaupun memiliki kekuasaan yang besar di kampus itu, tapi Jian tidak bisa melawan para mahasiswa itu semua, karena ketika mahasiswa semua sudah bersatu maka tidak ada yang bisa melawan mereka, termasuk Jian dan ayahnya.
Kampus itu benar-benar sangat terkenal, sembilan puluh persen para mahasiswa itu berasal dari kalangan atas, ada juga beberapa dari mereka yang berasal dari kalangan bawah, yaitu mahasiswa yang hanya menerima beasiswa, dan populasi mereka bisa di katakan hanya sepuluh persen saja.
Setelah tidak menemukan jalan keluar apapun, Jian hanya memilih untuk menerima syarat yang di berikan oleh Valia.
"Jika sudah seperti ini, maka jalan satu-satunya adalah menerima syarat itu" batin Jian dengan keringat dingin di dahinya.
Jian menghirup udara dalam-dalam, lalu ia menghembuskan ya secara perlahan "Baik, aku setuju" ujar Jian dengan sangat mantap.
"Bagus, sekarang panggil para polisi itu" ucap Valia pada Jian.
Jian pun segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi para polisi.
Lalu, diantara kerumunan itu para dosen mencoba menerobos masuk, setelah berhasil keluar dari kerumunan, para dosen terkejut melihat Rila dan Asra berjongkok dan sedangkan Jian dan Valia tengah berdiri.
__ADS_1
Gleni terkejut melihat Valia masih berkeliaran di kampus, ia bahkan tidak menyangka bahwa Jian tampak terintimidasi oleh Valia.
Gleni pun terlihat tidak membiarkan Jian tertindas, ia pun melangkah maju "Ada apa ini?" teriak Gleni sambil menatap Valia dengan tajam.
Valia tidak memperdulikan teriakan itu, ia tengah asik menatap wajah ketakutan Jian, baginya menatap wajah orang yang tengah ketakutan adalah hal yang sangat menyenangkan.
Gleni terlihat kesal karena Valia telah mengabaikan perkataannya, lalu setelah Gleni sudah berada di antara mereka, tiba-tiba saja Gleni melayangkan satu tangannya.
Plakkk
Tangan Gleni kini mendarat di pipi Valia, sedangkan Valia tidak terkejut sama sekali, ia justru memilih memegang pipinya yang terasa panas.
Jian yang sedang menghubungi polisi bahkan tersenyum puas melihat Gleni menampar Valia. Begitu juga dengan Rila dan Asra, mereka benar-benar tampak sangat bahagia melihat Valia terdiam di hadapan Gleni.
"Kau mengabaikan perkataanku?!" teriak Gleni dengan kesal.
Gleni bahkan lupa bahwa dirinya tengah di kelilingi para mahasiswa, para mahasiswa itu sendiri pun terkejut melihat Gleni mendaratkan tamparan di pipi Valia.
"Apa kau sudah selesai mengoceh?" tanya Valia dengan tatapan tajam.
Gleni seketika mematung, ia yang awalnya berlagak superior kini menciut sedikit demi sedikit, bagia Gleni, tatapan yang di berikan Valia padanya adalah tatapan membunuh.
"Kenapa tatapannya begitu menyeramkan?, bahkan tubuhmu bergetar ketakutan" batin Gleni yang masih menatap Valia dan begitu juga Valia yang masih menatap Gleni.
"Aku tanya sekali lagi, apa kau sudah selesai mengoceh?" tanya Valia dengan tatapan tajam.
"Apa kau berani melawan dosenmu?," tanya Gleni dengan menggunakan jabatannya.
Valia mengeryitkan dahinya, ia tidak menyangka bahwa ada orang yang tidak tau malu yang mengancam dengan menggunakan profesi.
"Lalu bagaimana dengan mu?, apa kau hanya berani pada mahasiswa saja?" tanya Valia sambil menatap Gleni dengan remeh.
Gleni terkejut mendekat perkataan Valia, para mahasiswa mulai berbisik, sontak saja hal itu membuat Gleni melihat ke sekelilingnya.
"I-ini?" gumam Gleni yang sempat lupa jika dirinya sedang berada di tengah-tengah mahasiswa.
"Atau ibu dosen ingin bertaruh dengan ku juga?" tanya Valia dengan santai.
Gleni terkejut mendengar perkataan Valia, ia baru saja tiba dan tidak mengerti apa yang di katakan Valia, "apa maksudmu?," tanya Gleni dengan mengeryitkan dahinya.
__ADS_1
Valia tengah tersenyum tipis, "Lihat lah semua, dia tiba-tiba menghampiriku dan menampar wajahku, padahal dia sendiri tidak atau akar dari permasalahannya. Apakah dia pantas disebut sebagai seorang dosen?" tanya Valia dengan meninggikan suaranya.
Gleni tampak sedikit gemetar ketakutan, ia menoleh ke kanan dan kekiri ternyata seluruh mahasiswa yang ada di sekelilingnya tengah menatap dirinya dengan tajam.
"Ti-tidak, bukan seperti itu" ucap Gleni yang ketakutan Karen amelihat tatapan para mahasiswa itu.
Valia semakin bersemangat untuk memprovokasi para mahasiswa itu, ia ingin memberi pelajaran.pada Gleni yang selalu membantu Jian dalam keadaan apapun.
"Lalu, kenapa kau menamparku?, aku tidak memiliki urusan dengan mu, tapi kau dengan mudah menampar wajahku, apa karena kau seorang dosen maka kau bisa berlaku sesuka hati pada mahasiswa?" tanya Valia yang semakin memojokkan Gleni.
Kini mata Valia tertuju pada Jian, Rila dan Asra, mereka bahkan diam tak berkutik, jelas saja mereka bahkan tidak berniat untuk membantu Gleni.
Tiba-tiba saja para polisi itu datang mereka memotong para kerumunan itu "Apa nona yng memanggil kami?" tanya polisi itu sambil menatap Jian.
Jian mulai tersenyum sombong, ia pun mulai menjelaskan apa yang telah terjadi pada mereka, "Benar, aku ingin mengajukan keluhan, Valia menendang meja ini sampai mengenai perut Rila. aku ingin kalian menangkap wanita ini" ujar Jian sambil tersenyum.
kEdua polisi itu menatap Valia dan merekapun ingin membawa Valia ke kantor polisi. "Apa kau tidak bertanya padaku?," tanya Valia sambil menatap polisi itu dengan tajam.
"Tidak perlu, kami akan melakukannya di kantor polisi" ujar polisi itu.
"Haha ... apa-apaan ini, apa mereka orang mu juga Jian?" tanya Valia sambil menatap Jian yang tengah tersenyum padanya.
Walau dirinya tau bahwa kedua polisi itu ada hubungannya dengan Jian, tapi Valia dengan sengaja menyebutkan hal itu secara lantang.
"Tidak" jawab Jian dengan tegas.
"Baiklah, sebelum membawaku kalau begitu aku akan bertanya pada kalian berdua. Apa hukuman bagi orang yang melakukan pembunuhan berencana?" tanya Valia sambil menatap kedua polisi itu.
"Hukuman maksimal 20 tahun penjara, atau bisa juga hukuman mati" jawab polisi itu dengan tegas.
Valia tengah tersenyum "Kalau begitu bagaimana dengan ini?" tanya Valia sambil mengeluarkan bolpoinnya dan langsung memutarnya.
Jian sedikit heran dengan bolpoin yang di keluarkan oleh Valia, tapi ia juga memiliki firasat buruk tentang bolpoin itu.
Tiba-tiba saja, sebuah suara keluar dari bolpoin itu, orang-orang yang ada di sana terkejut mendengar suara berat yang mengatakan bahwa Jian menyuruhnya untuk membunuh Valia.
Jian, Asra, Rila, Gleni tampak membulatkan mata mereka, bahkan kedua polisi itu juga ikut terkejut.
"Aku tidak melakukan itu!" teriak Jian secara tiba-tiba.
__ADS_1
Bersambung ....