
Fallen pun terkulai lemas, sekarang ia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana rupa dirinya saat ini.
Saat ini Valia masih berjongkok di hadapan Fallen, "Jangan salahkan aku, karena aku melakukannya untuk berjaga-jaga agar kalian tidak memberitahukan kejadian ini pada siapapun, karena mengingat kalian adalah tipe orang yang suka bergosip di belakang orang lain," ucap Valia sambil mantap Fallen dengan tajam.
Di tangan Valia terdapat lidah Fallen dan Zewina, ia pun berdiri lalu berjalan ke arah Closet lalu melemparnya begitu saja.
Fallen dan Zewina hanya bisa menangis, mereka benar-benar tidak menyangka bisa berakhir dengan tragis di tangan orang yang di buli para mahasiswa.
Bahkan sekarang mereka mulai juga menatap Valia dengan tajam, "haha ... aku ingin memberitahukan pada kalian, walau kalian melaporkan nya pada polisi, Aku ... Valia Samantha, tidak akan pernah bisa masuk kedalam penjara," ucap Valia dengan mempertegas nama keluarganya.
Zewina dan Fallen melototkan mata mereka dengan sempurna, siapa yang tidak mengenal keluarga Samantha?, Zewina dan Fallen bahkan mengenal keluarga itu, tapi keluarga itu tidak pernah mempublikasikan putri semata wayang mereka.
Dan ternyata, selama ini mereka sudah berhadapan dengan putri keluarga itu?, tapi bagaimana bisa?, bukankah Valia anak yang masuk kedalam kampus dengan program beasiswa?.
Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala Zewina dan Fallen, Valia melihat keduanya seperti tidak mempercayai perkataannya, ia pun mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan foto keluarga Samantha pada mereka.
"Aku tidak menyangka, ternyata anak orang miskin seperti kalian berani berhadapan dengan ku yang notabennya adalah anak pemilik kampus. Aku sengaja menggunakan Beasiswa karena ingin menunjukkan kepintaran ku, tapi ternyata semua sia-sia karena ulah pembuli seperti kalian, jadi jangan menyesali hal ini, karena kalianlah yang memulainya," ucap Valia sambil mendekati Zewina dan menginjak jari tangan yang satunya.
Krekk
Aaaa
Valia juga tidak lupa dengan kedua tangan Fallen yang masih utuh, ia pun menginjak kedua tangan itu dengan sangat kuat hingga membuat kesepuluh jari Fallen patah.
Krekk
Krekk
Aaaa
Valia juga melihat darah sudah tercecer dimana-mana, ia tidak sengaja melihat satu buah botol sabun yang berada di sudut wastafel.
Valia pun langsung berpikir untung menghilangkan jejaknya, lalu ia langsung menumpahkan nya di lantai, di dinding serta tubuh Fallen dan tubuh Zewina.
Kedua orang itu sudah tidak kuat untuk berdiri lagi, mereka hanya bisa pasrah dan terkapar di lantai sambil menangis.
__ADS_1
Vali pun mulai menyiram keduanya dengan air, sehingga membuat keduanya tampak merintih kesakitan, karena mereka meminta Valia untuk berhenti dengan mulut yang terus terbuka.
Lidah yang tengah terpotong itu mengenai air serta sabun dan membuat keduanya terus merintih kesakitan, tapi Valia tampak tidak perduli, ia terus menyiram kedua orang itu agar jejak dirinya tidak bisa di temukan oleh orang lain.
Setelah jejak darah itu bersih ia pun tersenyum smirk, lalu Valia membersihkan tangannya lalu membasahi ketiaknya, serta merapikan sedikit pakaiannya, "nikmati saja waktu kalian," ucap Valia sambil membuka kembali kunci toilet itu dan langsung pergi dari tempat itu.
Saat Valia ingin keluar, ia mencoba mengintip ke kanan dan kekiri, setelah merasa cukup aman, Valia langsung berlari meninggalkan toilet.
Setelah merasa cukup jauh, Valia pun berhenti, lalu ia mengatur nafasnya dan berjalan dengan santai.
Valia berjalan untuk kembali ke kantin, dari kejauhan, ia bisa melihat bahwa di meja itu telah tersampaikan berbagai makanan dan minuman
Valia kini tengah berdiri di belakang Carmila, ia melihat keduanya sedang asik dengan ponsel mereka masing-masing sehingga tidak menyadari kehadirannya.
Seketika saja Valia berpikir untuk mengerjai kedua orang itu, "Apa kalian yang memesannya untukku?," tanya Valia yang baru saja tiba.
Sontak saja kedua orang itu tampak begitu terkejut, mereka langsung menatap Valia dengan tajam.
Carmila menoleh kebelakang, "Kau hampir membuat jantungku keluar, kenapa kau menunjukkan suara terlebih dahulu daripada wajahmu?, bukankah jika seperti itu kau tampak seperti hantu," ucap Carmila dengan kesal.
Valia terlihat tercengang melihat keduanya tampak begitu sangat akur, bahkan mereka tampak sedikit mirip.
Valia pun berjalan ke kursinya, ia melihat di depannya terdapat sebuah cup minuman yang berisikan matcha coffe dan sebuah makanan chiken bread.
Valia melihat kearah Carmila, "Kau yang memesan ini?" tanya Valia sambil menunjuk makanan itu.
Carmila yang mendengar itu melihat kearah Valia, "benar, apa kau tidak menyukainya?" tanya Carmila yang mulia mengeryitkan dahinya.
"Tidak, justru sebaliknya, aku sangat menyukai menu ini, terimakasih sudah memesannya untukku," ucap Valia sambil tersenyum.
"Ibu bahkan mengingat pesanan ini," batin Valia.
"Syukurlah, karena aku berpikir kau sangat lama, jadi aku memesan apa yang pernah kau pesan saat kita makan di cafe," balas Carmila yang merasa sedikit lega.
Nero hanya mendengarkan pembicaraan keduanya, ia bahkan terlihat tidak ingin memotong pembicaraan mereka.
__ADS_1
Valia pun tertawa kecil, "Haha ... maafkan aku karena sudah membuatku sedikit takut, sekarang mari kita makan," ucap Valia sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kursi dan langsung menyantap makanan yang ada di depannya.
Carmila sedikit penasaran kenapa Valia begitu sangat lama, padahal ia mengatakan untuk berfikir toilet, "Darimana saja kau?, kenapa lama sekali?" tanya Carmila sambil melihat Valia yang tampak makan dengan lahap.
Valia yang mendengar pertanyaan itu langsung saja menjawab dengan santai, "Aku tadi memiliki sedikit urusan yang sangat mendesak, berhentilah berbicara, sekarang ini aku sudah sangat lapar, aku akan menjawab pertanyaan kalian kalau makanan ku ini sudah tidak bersisa lagi " jawab Valia dengan mulut yang sedang mengunyah makanan.
Carmila dan Nero yang melihat Valia makan hanya bisa menggelengkan kepala, mereka pun memilih untuk makan terlebih dahulu, dan setelah semua makanan yang ada di meja habis, Carmila langsung bertanya kembali.
"Urusan apa yang sedang kau lakukan tadi?" tanya Carmila dengan menatap Valia.
Valia tampak terkejut melihat Carmila yang sangat penasaran dengan urusannya, "aku memiliki sebuah tugas yang belum aku selesaikan, dan aku baru saja mengumpulkannya pada dosen, hanya itu saja," ucap Valia dengan santai.
Nero pun melihat pakaian yang di kenakan Valia, "saat dia pergi tadi, pakaiannya tampak sangat rapi, tapi sekarang kenapa pakaiannya terlihat sangat berantakan?" batin Nero yang sedikit merasa curiga dengan Valia.
Valia bisa merasakan tatapan curiga itu, ia pun langsung melirik kearah Nero, "Ada apa?, kenapa kau melihat ku seperti itu?" tanya Valia dengan binggung.
Spontan saja pertanyaan itu membuat nero terkejut, "tidak ada, aku hanya aneh melihat pakaianmu yang tampak berantakan," ucap Nero sambil mengambil cup minuman yang ada di depannya.
"Hei, setelah urusanku selesai, aku langsung berlari ke sini dan inilah yang terjadi," ucap Valia sambil merentangkan tangannya agar bisa lebih meyakinkan Nero.
Carmila dan Nero melihat kedua ketika Valia tampak sangat basah, "turunkan tanganmu, apa kau tidak sadar bahwa ketiakmu basah?" ucap Carmila sambil menahan tawa.
Sedangkan Nero sedikit menyemburkan minumannya ke tempat lain, lalu keduanya mulai tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha .... dasar Valia tidak tau malu," ucap keduanya bersamaan sambil tertawa dengan keras.
Valia yang mendengar itu merasa sangat bahagia, ia sungguh ingin melihat Carmila terus tertawa, tapi ia juga melihat Nero tampak begitu cocok dengan Carmila.
Valia langsung menurunkan tangannya dan mengerutkan bibirnya, "kalian mengatakan hal yang sama, apa jangan-jangan kalian saling suka?" tanya Valia yang mencoba memancing keduanya.
Keduanya yang mendengar itu langsung menghentikan tawa mereka, lalu mereka pun menatap Valia dengan tajam, "tidak!" sahut keduanya dengan serempak.
"Jika tidak, lalu kenapa kalian bisa menjawab secara serempak seperti itu?" tanya Valia sambil menaik turunkan alisnya terus menerus.
Bersambung ..
__ADS_1