Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Berusaha Mendekati Carmila


__ADS_3

Semenjak mengetahui Jian selalu merundung Valia asli, Kaliandra mulai memperhatikan Valia asli secara diam-diam.


Setiap Jian melakukan hal itu pada Valia asli, ia pun menyuruh temannya yang ada di dalam kelas Valia untuk menghentikan Jian, dan hal itu terus terjadi sehingga membuat Jian kesal dan memarahi pria yang terus membantu Valia asli.


"Aku berharap perubahanmu ini dapat membuat mereka semua tunduk padamu," batin Kaliandra sambil berjalan dengan teman-temannya.


Sedangkan Valia terus memegang bokongnya yang sakit "sialan, ini benar-benar sangat sakit" umpat Valia dengan kesal.


Setelah sampai di gedung yang ingin di tuju nya, Valia langsung berjalan dari kelas ke kelas lainnya, ketika berada di kelas Granov, Valia langsung melangkahinya.


Karena dulu Silyena pernah mendengar dari cerita sang ibu bahwa ibunya tidak pernah satu kelas dengan Granov.


Lalu Valia naik ke lantai atas, ia pun terus mengintip dari kelas ke kelas lainnya, Valia melihat Carmila sedang berinteraksi dengan temannya, tapi Valia memberanikan diri untuk langsung masuk kedalam kelas itu.


"I—, " Valia terdiam lalu menghembuskan nafasnya dengan pelan "Carmila," panggil Valia membenarkan panggilannya.


Ia seketika lupa bahwa Carmila bukanlah ibunya lagi di kehidupan yang sedang di jalani saat ini.


Carmila yang mendengar panggilan itu langsung menoleh kearah sumber suara, ia pun melihat Valia yang sudah berada di belakangnya.


"Valia" ucap Carmila yang sedikit terkejut, ia bahkan tidak menyangka bahwa Valia menghampirinya ke dalam kelas.


Teman-teman Carmila terkejut melihat Valia menghampirinya Carmila, terlihat di wajah temannya bahwa mereka tampak tidak senang melihat Carmila berteman dengan Valia.


Valia bisa merasakan tatapan permusuhan dari teman-teman Carmila, tapi ia mencoba tidak perduli dan malah tersenyum manis, wajah itu bahkan terlihat sangat berseri-seri.


"Aku ingin mengirim mu pesan tapi aku berpikir akan jauh lebih menyenangkan jika aku langsung menemu mu," ujar Valia sambil tertawa pelan.


Carmila yang melihat tawa Valia justru membuat Carmila senang, "Baiklah, baiklah, tapi apa yang ingin kau lakukan disini?," tanya Carmila dengan memiringkan sedikit kepalanya.


Valia terdiam dan mulai berpikir "Ah itu, aku belum memikirkannya, tunggu sebentar ... bagaimana kalau kau membantuku mengerjakan tugas?, sebentar saja" ucap Valia sambil memohon dan menempelkan kedua telapak tangannya di hadapan Carmila.


Carmila yang mendengar itu mengeluarkan ponselnya, dan ia pun melihat jadwalnya.

__ADS_1


"Aku tidak memiliki kelas lagi, jadi sepertinya kita bisa mengerjakan tugasmu, lagi pula aku penasaran dengan pelajaran kuliah mu" ucap Carmila sambil melihat ke arah Valia.


"Tunggu Carmila," cegah sang teman.


Lalu kedua temannya menarik Carmila sedikit menjauh dari Valia, "Bagaimana kau bisa berteman dengannya?," tanya Fallen dengan tidak percaya.


Sedangkan Valia justru merubah ekspresinya menjadi datar, ia menatap tajam ke salah satu teman Carmila.


"Benar Carmila, apa kau tidak pernah mendengar rumor yang beredar?" timpal Zewina yang benar-benar tidak percaya melihat Carmila dekat dengan Valia.


Carmila terlihat sangat binggung, ia pun mengerutkan dahinya, "rumor apa?, apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Carmila yang benar-benar tidak tau tentang Valia.


Carmila tidak pernah memperdulikan rumor-rumor yang beredar, ia hanya perduli tentang belajar dan belajar, jika dirinya sedang bersama teman-temannya Carmila memang mendengarkan perkataan mereka, tapi ia tidak pernah memasukkannya kedalam hati ataupun kedalam pikirannya.


Menurut Carmila, rumor itu tidaklah penting untuk nya, bahkan ia sendiri tidak tau gosip mengenai dirinya dan juga Granov.


Fallen dan Zewina saling memandang satu sama lain, mereka menang tidak heran dengan sifat Carmila, karena mereka berteman sudah sangat lama dan hal itu membuat mereka sangat mengerti sifat Carmila.


Melihat Carmila berjalan kearahnya, Valia mengubah ekspresinya dengan cepat dan kembali tersenyum.


"Bagaimana?," tanya Valia sambil menanyakan pendapat Carmila.


"Beres, ayo kita pergi" usul Carmila sambil melangkah terlebih dahulu.


Mata Valia mengikuti gerak tubuh Carmila, ia merasa ingin menangis, tapi Valia menahan cairan bening itu agar Carmila tidak melihatnya.


Lalu Valia melangkahkan kakinya dan menggandeng tangan Carmila, sedangkan Carmila tersentak kaget karena Valia menggandengnya secara tiba-tiba.


Carmila tidak merasa risih dengan kehadiran Valia. Carmila sendiri tidak mengetahui perasaan apa yang dirasakannya, yang jelas ia justru merasa sangat senang telah bertemu dengan Valia.


Tinggi mereka juga tidak lah jauh, jika Carmila memiliki tinggi 165 cm, maka Valia memiliki tinggi 169.


Kecantikan Valia pun tidak kalah dari Carmila, sehingga mata para mahasiswa kini tertuju pada keduanya, tapi mereka berdua justru tampak acuh tak acuh.

__ADS_1


Valia mulai memegang dagunya dengan tangan yang lain, "Bagaimana kalau kita pergi ke cafe?, apa kau memiliki cafe favorit?" tanya Valia sambil menoleh kearah Carmila.


"Ada, apa kau mau pergi kesana?" tanya Carmila sambil menoleh kearah Valia.


Sedangkan Valia mengangguk dan tersenyum, Valia melihat Carmila tersenyum dan melihat lurus kedepan, sedangkan Valia tidak mengalihkan pandangannya dari Carmila


"Ibu, semasa hidupmu dulu, kita tidak pernah keluar dari rumah itu, bahkan untuk melangkah kan kaki keluar dari pintu saja tidak bisa, jadi, kali ini aku berjanji untuk membuatmu merasa sangat bahagia. Jika bisa, aku akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia di dunia ini" batin Valia dengan raut wajah sedih.


Tiba-tiba saja, Carmila menoleh, ia melihat Valia tengah menatapnya dengan raut wajah sedih, "Hei, ada apa dengan wajahmu?, apa kau mengingat ibu angkat mu itu?," tanya Carmila dengan suara lembut.


Valia tersentak kaget dan ia pun mengangguk setelah mendengar perkataan Carmila, "benar, dia wanita yang sangat cantik, walau aku anak angkatnya tapi dia tidak memperlakukan ku dengan kasar, aku benar-benar merindukannya," ucap Valia sambil menempelkan wajahnya di lengan Carmila.


"Sudah lah, dia sudah tenang di alam sana, jika kau merindukannya kau bisa memelukku" ucap Carmila yang sedikit sedih mendengar perkataan Valia.


Carmila melihat mata Valia seakan berbinar "benarkah?," tanya Valia untuk memastikan perkataan Carmila.


"Tentu" jawab Carmila sambil menganggukkan kepalanya.


Awal bertemu dengan Valia, Carmila merasa wanita itu tidak memiliki niat buruk padanya, justru ia merasa nyaman dengan kedekatannya bersama Valia.


"Dia anak yang sangat unik" batin Carmila sambil tersenyum.


Keduanya pun berjalan keluar kampus, lalu Carmila mengajak Valia ke cafe favoritnya, "cafe itu berada di belakang kampus, apa kau tidak masalah jika kita berjalan kaki?" tanya Carmila.


"Tidak apa-apa, jalan kaki bahkan jauh lebih menyenangkan daripada menggunakan kendaraan" balas Valia sambil tersenyum.


Setelah sampai di cafe, mereka memesan dua minuman dan beberapa cemilan.


Lalu Valia mengeluarkan design yang sedang di kerjakannya, Carmila yang melihat itu justru terkejut melihat design yang buat oleh Valia.


"Sebenarnya yang membuat design ini adalah Valia asli, karena sejak masuk kedalam tubuhnya, aku belum pernah menyentuh kertas ini" batin Valia sambil tertawa kecil.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2