
Granov tidak bisa berkata-kata, ia takut ibunya seperti dulu lagi, tapi, mau tidak mau Granov harus mengatakan yang sebenarnya, "dia sudah tiada ibu, coba lah untuk menerima kenyataan," ucap Granov dengan pelan.
Setelah mendengar perkataan anaknya, Karin tampak melototkan matanya, "A-apa?, tidak!, tidak!, itu tidak boleh terjadi," ucap Karin sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Granov tampak sedih lihat ibunya yang tidak bisa menerima kenyataan itu, tapi ia tida bisa berbuat apapun lagi selain membuat ibunya menjadi tenang, "Ibu, dengarkan aku, ibu masih memiliki aku, jadi ibu tenang saja," ucap Granov sambil menggenggam tangan Karin dengan erat.
Granov terus menggenggam tangan Karin hingga ibunya tertidur, lalu ia melihat kedua orang tuanya sudah tertidur.
Keesokan paginya, Granov memiliki kelas, ia bangun pagi-pagi buta dan langsung bersiap-siap, walau tampak tak memiliki tenaga tapi Granov harus memasuki kelas itu.
Granov terkejut melihat ibunya tengah terduduk di sofa, "ibu, apa yang ibu lakukan disini?," tanya Granov sambil menghampiri Karin.
Karin tampak diam dan tidak menjawab perkataan Granov, sedangkan Granov terlihat binggung, ia pun kini berjongkok di hadapan Karin.
"Ibu, aku memiliki kelas, dan sekarang harus berangkat ke kampus, ibu duduk disini dan jangan kemana-mana ya," ucap Granov sambil memegang tangan Karin.
Sedangkan Karin cukup terkejut mendengar perkataan Granov, ia menolah kearah Granov dan menggenggam tangan anaknya dengan kuat, "tidak!, kau tidak bisa pergi, nanti kau malah meninggalkan ibu," ucap Karin yang berusaha menghentikan Granov.
Eric yang baru saja keluar kamar sungguh terkejut melihat Karin menghentikan Granov.
Ia pun menghampiri keduanya, sedangkan Granov berusaha berbicara dengan Karin, "ibu, percaya padaku, aku akan baik-baik saja," ucap Granov yang berbicara pelan pada Karin.
Eric yang baru saja menghampiri keduanya juga berbicara lembut pada Karin, "benar, dia akan baik-baik saj,a, kau tidak perlu khawatir," ucap Eric sambil mengelus punggung Karin.
Karin yang mendengar itu mulai melepaskan tangannya dari Granov, sedangkan Granov mulai berpamitan keluar.
"Ibu, ayah, aku pergi dulu, maf tidak bisa menemani kalian," ucap Granov sambil membuka jendela pintu dan ketika tubuhnya keluar, Granov menutup pintu itu kembali.
__ADS_1
Granov menaiki mobilnya, lalu mobil itu kini memasuki pekarangan kampus, ia keluar dari mobil dengan berjalan menunduk.
Walau tubuh berada di kampus, tapi pikiran Granov tengah melayang kemana-mana, sedangkan Karmila yang baru saja tiba terkejut melihat Granov yang sedang berjalan menunduk.
Carmila berlari menghampiri Granov dan ia menepuk pundak pacarnya itu, "apa yang sedang kau lakukan?, kenapa kau berjalan seperti ini?, jika tertabrak orang lain bagaiman?," Carmila yang baru saja tiba mencerca berbagai pertanyaan pada Granov.
Sedangkan Granov sedikit kesal mendengar perkataan Carmila, tapi ia mencoba menahan emosi ya itu agar Carmila melihatnya sebagai pacar sempurna.
"Tidak apa-apa, carmila," ucap Granov dengan pelan tapi ia terus melangkah tanpa menoleh kearah Carmila.
Carmila yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas pelan, "mungkin dia belum siap untuk bercerita paku," batin Carmila sambil melangkahkan kakinya beriringan dengan Granov.
Sedangkan di ujung san, sebuah mata tertuju pada keduanya, "bagus, kau harus merasa terpuruk seperti yang kau lakukan padaku, apa kau sekarang merasakan bagaimana rasanya tersiksa?, bahkan luka ku lebih dalam dari apa yang telah ku lakukan padamu," ucap orang itu di balik dinding.
Ia tidak perduli dengan orang-orang yang tengah memandangnya dengan remeh, ketika ia ingin berjalan, tiba-tiba saja ia di cegah oleh dua orang.
Kedua wanita itu datang menghadang Valia, salah satu dari mereka menekan pundak Valia dengan satu jari lalu melepaskannya.
kaya dan kau hanya seorang pengemis yang menumpang gratis padanya," ucap Fallen sambil menatap jijik kearah Valia.
Sedangkan Zewina tengah menatap Valia dengan tajam, Valia pun memutar bola matanya dengan malas, ia juga mengibas pakaiannya yang baru saja di sentuh oleh Zewina.
"Berhentilah mengatakan bahwa aku miskin dan aku menumpang gratis pada Carmila, apa kalian tidak berkaca?, kalian terus meminta apapun pada Carmila secara terang-terangan, apa hak itu tidak bisa dikatakan sebagai orang miskin?," tanya Valia sambil memajukan wajahnya dan berbicara di depan wajah Fallen.
"Kalian bahkan meminta barang yang sudah di pakai Carmila, bukankah itu barang bekas?, ah benar ... kalian orang miskin pasti menerima barang bekas," ucap Valia sambil tersenyum smirk dan ia pun meninggalkan kedua orang itu yang sedang mematung.
Kedua orang itu tampak mengepalkan kedua tangan mereka, lalu keduanya saling memandang satu sama lain. Kini keduanya tersenyum smirk dan berpikir untuk membalaskan nya pada Valia.
__ADS_1
Valia berjalan kearah kelasnya, seluruh mahasiswa kini tengah memandanginya, ketika membuka pintu, Valia merasa pintu itu begitu berat, lalu Valia memundurkan tubuhnya dan menendang pintu itu dengan kuat.
Byurrr
Seluruh mahasiswa yang ada di dalam terlihat basah kuyup, mereka terkejut ternyata rencana mereka tidak berhasil mengenai Valia, bahkan jebakan itu mengenai mereka sendiri.
"Kenapa yang kena jebakan ini adalah kita?," ucap mahasiswa lain.
Mereka melihat video yang tengah tersebar di forum, mereka bahkan tidak menyangka bahwa Valia mencuri soal itu untuk mendapatkan beasiswa.
Kini, seluruh mata tertuju pada Valia yang masih berdiri di depan pintu, sedangkan Valia hanya diam dan mencoba tidak perduli, lalu saat melangkah masuk kedalam, Valia melihat Telisa tengah duduk di kursi yang sering di duduki oleh Valia.
Valia berjalan santai, sedangkan Telisa tengah tersenyum padanya, tapi siapa sangka, Valia menendang kursi itu sehingga membuat Telisa memajukan tubuhnya.
Lalu Valia menarik kursi itu dengan kakinya, hingga membuat Telisa terkejut dan jatuh dengan terduduk
Arrgghh
"Kenapa kau kasar sekali," ucap Telisa sambil mengelus bokongnya terus menerus.
orang-orang yang ada di kelas itu terlihat dengan kelakuan Valia yang semena-mena, mereka sedikit merencanakan sesuatu agar Valia tidak berlaku semena-mena.
"Untuk apa kau masuk ke kelas ini?, kami awalnya mengira kau adalah orang yang sangat cerdas, tapi ternyata dugaan kami salah, seluruh kampus telah mengetahui semua kebusukan mu itu," ucap salah satu mahasiswa.
Valia tidak menggubris ocehan mahasiswa itu, ia hanya fokus pada orang yang terduduk di lantai, "Minggir!," usir Valia sambil menatap Telisa dengan tajam.
Sedangkan Telisa sungguh terkejut melihat Valia mengusirnya, ia melihat Valia bahkan tidak berniat membantunya sama sekali.
__ADS_1
Telisa tampak mengeram marah, ia pun bangkit dari lantai dan berdiri di samping Valia. "aku tau kau tidak sengaja melakukan hal itu padaku." ucap Telisa sambil tersenyum.
Bersambung ...