
Valia sangat mengenal kedua teman Carmila, "Kalian berdua harus lebih menderita dari apa yang sudah ibu rasakan saat itu," batin Valia sambil mengepalkan kedua tangannya.
Di kehidupannya dulu, ia sering melihat kedua teman Carmila datang ke rumah mereka lalu mereka bercanda ria dengan sang ayah, sedangkan Carmila hanya duduk diam sambil menunduk.
Dari kejauhan Silyena melihat sang ibu merasa di abaikan, tapi sang ibu tetap diam tanpa ingin memotong pembicaraan mereka.
Dan ketika ibunya pergi ke belakang, Silyena melihat bahwa keduanya sedang berkomplot dengan sang ayah agar membuat Carmila semakin menderita.
Mengingat hal itu membuat darah Valia mendidih, ia ingin sekali membalaskan dendam itu, tapi Valia berpikir untuk melepaskan mereka terlebih dahulu dan membuka kedok mereka pada Carmila.
"Aku tidak bisa membunuh mereka, aku ingin ibu tau terlebih dahulu tentang sifat kedua orang ini, aku membiarkan kalian hidup bukan untuk bersenang-senang, jadi berhati-hatilah" batin Valia sambil menatap kedua orang itu dengan tajam.
"Ayo Valia, aku baru mendapatkan rekomendasi sebuah tempat, kata orang-orang makanan disana terkenal sangat enak," ajak Carmila sambil membuka sudah foto di ponselnya.
Setelah membuka foto itu, ia memperlihatkan nya pada Valia, lalu mata Valia langsung mengarah pada ponsel Carmila.
"Ini terlihat sangat cantik, kau ingin pergi kesana?," ucap Valia sambil melihat kearah Carmila.
Carmila mengangguk kan kepalanya, ia terlihat sangat antusias dengan tempat itu, "Aku ingin pergi ke sana, kau ingin menemaniku kan?," tanya Carmila dengan mata berbinar.
Valia benar-benar senang melihat sang ibu begitu sangat bahagia, "Haha ... tentu saja, kebetulan aku tadi mendapatkan jackpot, jadi kali ini aku akan mentraktir mu, bagaimana?," tanya Valia disela tawanya sambil memajukan wajahnya ke arah Carmila.
"Haha .. Tentu, kau bisa mentraktirku lagi," ucap Carmila sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Teman-teman Carmila terkejut mendengar Valia mentraktir Carmila, padahal yang mereka tau, Valia adalah orang yang sangat miskin, dan sekarang dia ingin mentraktir Carmila?, apa itu tidak salah?.
Itulah yang ada di pikiran orang-orang, Fallen dan Zewina menganga lebar, mereka tidak menyangka bahwa Valia akan mentraktir Carmila.
Keduanya saling memandang satu sama lain, mereka berpikir untuk ikut dengan Carmila, tapi ketika mereka ingin membuka suara, tiba-tiba saja Valia berkata, "aku ingin kita berdua menghabiskan waktu bersama, seperti yang kita lakukan kemarin," ucap Valia sambil tersenyum.
Setelah mendengar perkataan Valia, harapan kedua orang itu pun pupus, dan mereka menutup mulut sambil melihat ke arah Valia dan Carmila.
Valia pun pergi sambil menggandeng lengan Carmila, setelah keluar dari kelas Carmila, seseorang tengah menatapnya dengan tajam.
Orang itu melihat Carmila tengah tertawa dengan Valia, wajah itu begitu tampak bahagia, "Kau bisa tertawa setelah membuat keluarga ku hancur?, maka aku pastikan hidupmu tidak akan bisa tertawa ria seperti itu lagi," batin orang itu sambil mengepalkan kedua tangannya.
Valia bisa merasakan tatapan tajam dari seseorang, ketika ia menoleh sedikit, Valia melihat Granov tengah memandang mereka dengan tatapan tajam.
Valia mengetahui bahwa Granov tengah menatap mereka, ia tau bahwa Granov tidak suka melihat Carmila tertawa, karena Carmila telah membuat keluarga itu kehilangan anak tertua mereka sekaligus istri serta anak yang masih ada di dalam kandungan sang istri.
"Padahal saat itu ibu sudah bertanggung jawab sekaligus memberikan pihak keluarga kompensasi yang begitu besar, seharusnya kalian bersyukur sudah mendapat kompensasi itu, tapi kalian justru semakin marah padanya dan menyiksa ibu sampai mati. Karena aku di tarik ke tahun ini, maka aku akan mencegah semua kemungkinan yang bisa membuat ibu masuk ke lubang yang sama." batin Valia sambil mempererat rangkulannya pada Carmila.
Lalu mereka berjalan ke mobil Carmila, dan mereka akan menuju tempat yang baru saja di perlihatkan Carmila.
Di dalam mobil, keheningan pun terjadi, lalu Valia berinisiatif untuk membuka percakapan, "Hei, apa kau percaya dengan yang namanya time travel?," tanya Valia sambil menatap kearah Carmila.
Carmila yang mendengar itu pun langsung mengeryitkan dahinya, "aku pernah membacanya, tapi aku mempercayainya," jawab Carmila sambil sesekali melirik kearah Valia.
__ADS_1
Valia yang mendengar itu seperti merasakan kehangatan sang ibu. Carmila adalah orang yang cerdas, ketika berbicara dengan sang teman, ia pun tidak merendahkan ataupun meninggikan perkataannya, Carmila adalah tipe orang yang lurus dan akan menyaring kata-kata itu sebelum keluar dari mulutnya, agar orang-orang yang ada di sekelilingnya tidak merasakan sakit hati.
Seperti itulah ibunya, walaupun ibunya baik, semua orang-orang yang ada di sekitarnya justru kebalikannya dari sifat Carmila.
Fallen dan Zewina adalah teman terdekat Carmila, tapi mereka adalah jelmaan iblis yang akan membuat kehidupan Carmila sengsara, keduanya tidak suka melihat Granov memiliki hubungan dengan Carmila, menurut mereka Carmila adalah parasit yang terus menempel pada Granov sehingga membuat mereka menjalin hubungan.
Bahkan keduanya sangat iri dengan kehidupan Carmila yang begitu mewah, dan mereka pun berpikir untuk terus memeras Carmila dengan cara mengajaknya jalan lalu membiarkan Carmila membayar bill nya.
Sebagian informasi itu Valia dapat dari cerita sang ibu di masa lalu, dan sebagian lagi ia dapatkan ketika dirinya tidak sengaja mendengar percakapan antara mereka dengan ayahnya.
Saat itu, Silyena melihat sang ibu tengah membuat minuman untuk teman-temannya, Silyena yang tidak tega justru membantu sang ibu membawakan minuman itu.
"Hah, sial ... kenapa saat itu aku tidak menaruh racun ke dalam minuman mereka," batin Valia sambil menghela nafas kasar
Di masa lalu, setelah Fallen dan Zewina mengetahui fakta Granov yang tidak di ketahui Carmila, mereka semakin mempengaruhi Granov dengan kata-kata yang keluar dari mulut mereka, perkataan yang awalnya tidak ada menjadi ada karena ulah mereka.
Saat itu Silyena hanya bisa mencuri dengar sedikit demi sedikit, lalu ia pun menceritakan hal itu pada Ibunya, tapi Carmila tidak mempercayai perkataan Silyena.
"Menyebalkan, dengan bodohnya aku menceritakan hal itu pada ibu tanpa memiliki bukti. Padahal ibu sudah mengatakan bahwa mereka sudah berteman sudah sangat lama, dan ibu justru mengatakan sudah sangat mengenal sifat temannya itu, tapi aku malah mengatakan hal yang tidak-tidak tentang temannya." batin Valia.
"Ada apa?, kenapa kau bertanya tentang itu?," tanya Carmila sambil sesekali melirik kearah Valia.
"Tidak, aku hanya ingin bertanya saja, karena sebagian besar manusia tidak mempercayai hal yang berada di luar akal sehat," jawab Valia lagi.
__ADS_1
Bersambung ...