
Gleni yang mendengarkan kekhawatiran Jian mulai tersenyum, "Benar, tapi aku sudah membuat rencana yang bagus agar kita tidak di ketahui," ucap Gleni sambil menatap kearah Jian.
Mendengar perkataan Gleni, hati Jian sedikit merasa lega, kini ia tidak harus memikirkan konsekuensi dari membunuh anak orang kaya seperti Carmila. "Baiklah, aku ucapkan terimakasih karena ibu sudah membantuku," ucap Jian sambil tersenyum.
Keduanya duduk di ruangan Gleni, mereka berdua terus berada di kampus untuk memikirkan sebuah ide yang bisa menjatuhkan Valia, sedangkan Rila sudah meminta izin untuk pulang terlebih dahulu.
Dan sekarang mereka sedang menunggu kabar baik dari orang yang mereka sewa, tapi Gleni tidak mendapat notifikasi pesan dari orang-orang itu.
Ting
[Kau sedang menunggu pesan seseorang?]
Tiba-tiba muncul notifikasi pesan di ponsel Gleni, tapi Gleni melihat bahwa nomor itu belum di simpan di ponselnya, hal itu membuat Gleni tampak sedikit terkejut.
Gleni mengeryitkan dahinya, "Nomor siapa ini?" pikir Gleni sambil menunjukkan ponselnya pada Jian.
Jian penasaran dengan reaksi yang di tunjukkan Gleni ketika dosennya itu membuka sebuah pesan di ponselnya, lalu saat Gleni memperlihatkan pesan itu, Jian pun langsung ikut melihat kearah ponsel Gleni.
Jian sedikit terkejut dengan isi pesan itu, lalu pesan kedua pun datang.
Ting
[Padahal kau sendiri yang menyewa mereka untuk memburuku, tapi kau malah tidak mengenalku, bukankah kau sungguh keterlaluan?]
Membaca pesan itu membuat mata Jian serta Gleni melotot dengan sempurna.
Kini Gleni menoleh ke kanan dan kiri, ia bahkan langsung berjalan mendekat kearah jendela, tapi dia tidak mendapati siapapun.
Lalu Gleni berjalan kearah pintu dan ia membuka handle pintu itu, dan sama saja, Gleni tidak melihat siapapun didekat ruangannya.
"Tidak ada siapapun, tapi kenapa dia mengirimkan pesan seperti ini?" gumam Gleni sambil menatap ponsel yang ada di dalam genggaman tangannya dengan dalam.
Ting
[Kau mencari ku?, tenang saja, karena sebentar lagi kau aka melihat wajahku]
Lagi-lagi pesan itu muncul secara tiba-tiba, membuat sang pemilik ponsel terkejut, tangan Gleni mulai bergetar hebat, bahkan mulutnya juga tak bisa mengeluarkan suara.
Gleni bergegas menghampiri Jian dan langsung menarik tangannya, Jian yang melihat itu merasa sangat heran. "Ada apa?" tanya Jian penasaran.
Gleni dengan gemetar langsung menelan saliva nya dan langsung berbicara dengan namun dengan suara pelan "kita harus pergi dari sini," ucap Gleni sambil memegang kedua pundak Jian.
__ADS_1
Jian yang merasa heran mulai terlihat kesal, "Iya, tapi ada apa?" tanya Jian dengan sedikit meninggikan suaranya.
Gleni mengacak rambutnya dan langsung berbicara dengan tegas, "Jangan banyak bertanya, dan pulang lah kerumah mu sekarang," ucap Gleni sambil menarik Jian agar keluar dari ruangan nya.
Jian yang tidak mengerti apapun, mau tidak mau mengikuti langkah kaki Gleni, ia juga merasakan tangan dosennya itu bergetar hebat, Namun Jian tidak mencoba bertanya dan lebih memilih untuk tetap diam.
Setelah berada di parkiran mobil, mereka pun berpisah dan masuk kedalam mobil masing-masing.
Mobil Gleni keluar terlebih dahulu, lalu di ikuti oleh mobil Jian, dan di tengah perjalanan mereka berpisah karena rumah keduanya saling berbeda arah.
Di dalam mobil, Gleni terus memikirkan siapa yang mengirim pesan itu padanya, "Siapa sebenarnya orang itu?, kenapa dia mengirim pesan absurd seperti itu padaku?," gumam Gleni yang masih bertanya-tanya.
Saat Gleni melewati jalan sepi, tiba-tiba saja terdengar suara tembakan dari belakang.
Dor
Gleni yang ada di dalam mobil tidak bisa mengendalikan mobilnya, bahkan mobil itu kini menabrak pohon dengan sangat kuat.
Brakkk
Gleni yang berada di dalam mobil benar-benar terkejut, sehingga seat belt tidak kuat menahan tubuh itu dan membuat dahi Gleni menghantam stir mobil dengan sangat kuat.
Sshhh
"Sakit, siapa yang melakukan ini padaku?," gumam Gleni dengan pelan.
"Aku!" jawab seseorang yang sudah berada di samping pintu mobil Gleni.
Sontak saja membuat Gleni terkejut, karena ia juga tidak menutup kaca mobil, lalu Gleni pun menoleh dan melihat wanita yang di kenalnya kini berada dekat dengannya.
"Valia?!" ucap Gleni dengan melototkan matanya, ia tidak menyangka bahwa Valia masih hidup dan telah membuat dirinya menabrak pohon.
Gleni bisa melihat di mata Valia terdapat amarah yang akan segera di keluarkannya, sedangkan Valia tidak menjawab itu dan terus menatap Gleni dengan tajam.
Lalu Valia memasukkan kedua tangannya dan langsung menarik rambut Gleni dengan sangat kuat, ia juga tidak segan-segan menghantam kepala Gleni ke pintu mobil.
Tak
Arrgghh
Tak
__ADS_1
Arrgghh
Tak
Arrghh
Gleni merasa kepalanya begitu sakit, pergerakan yang dilakukan Valia begitu sangat cepat sehingga membuat Gleni tidak bisa mengelak.
Setelah tiga kali menghantam kepala Gleni, Valia juga memaksa dosennya itu keluar melalui kaca mobil.
Aarrgghh
"Hentikan!"
"Jangan manarik rambutku!,"
"Sakit!"
Gleni berteriak terus menerus dan mencoba melepaskan tangan Valia dari rambutnya, tapi kekuatan Valia terasa sangat besar, bahkan Gleni juga susah seperti kehilangan tenaganya karena kepalanya begitu terasa sakit.
Tapi, Valia yang sudah tidak bisa menahan amarah tetap tidak menghentikan aksinya, ia justru semakin menarik rambut Gleni dengan kuat dan memaksa tubuh Gleni agar segera keluar melalui kaca mobil.
Gleni merasa rambutnya seakan rontok beserta kulit kepala yang terasa akan lepas dari kepalanya, dan sekarang Gleni harus merasakan sakit di seluruh tubuh bagian depan, karena Valia terus menariknya dengan sangat kuat.
Setelah tubuh itu keluar, Valia langsung melepaskan satu tangannya dari rambut itu dan tangan lainnya masih menarik rambut itu dengan sangat kuat, karena hal itu membuat Gleni jatuh dengan tubuh yang sudah memerah.
Brukk
Arrgghh
Ketika Gleni mencoba untuk duduk, namun Valia langsung menendang wajah itu dengan sepatu kets tebal yang tengah di pakainya.
Brakkk
Arrgghh
Gleni tersungkur tak berdaya, ia benar-benar sudah tidak bisa berkata-kata lagi, kepalanya seakan ingin meledak karena tarikan yang di lakukan Valia begitu sangat menyakitkan, bahkan ketika penyiksaan itu berlangsung, Gleni tidak bisa mengeluarkan ekspresinya, bahkan kata-kata yang sudah di siapkan di dalam hati nya tidak bisa keluar dengan mudah karena suara itu keluar seperti hanya untuk berteriak saja.
Gleni menunduk dengan kedua tangan yang sedang memegang kepalanya, ia terus memijat kepalanya itu.
Lalu, ketika ia mencoba mendongakkan wajahnya secara perlahan, pertama-tama mata Gleni langsung mengarah pada tangan Valia.
__ADS_1
Gleni terkejut karena melihat satu tangan Valia di penuhi oleh rambut, menyadari hal itu, Valia langsung memeriksa rambutnya, dan ia merasa setengah kepalanya sudah botak.
Bersambung ...