
Granov, Karin dan Eric tidak bisa berkata apapun, mereka bertiga diam dan tidak membalas perkataan Valia.
Sedangkan Carmila mulai berpikir dengan matang, "Aku tidak bisa berbuat apapun, aku bahkan binggung harus memilih siapa, tapi dari awal, semua kesalahan ini terletak dari sisi keluarga kak Granov." batin Carmila.
Valia menatap ketiga orang itu dengan tajam, di dalam hatinya, ia tengah bersorak gembira, karena bagaimana pun dirinya tidak akan pernah membiarkan Karin hidup dengan mudah. "Lihat saja, aku akan memberikan rasa sakit yang tidak akan pernah kau lupakan," batin Valia.
"Ayo kita pergi Carmila,"ajak Valia sambil membalikkan tubuhnya dan menalngkah keluar.
Carmila yang mendengar itu pun membungkukkan tubuhnya di hadapan Eric dan Karin, dan ia pun mengikuti langkah Valia dari belakang.
Dalam langkah keluar dari rumah itu, Valia mengingat bagaimana perlakuan Eric dan Karin padanya dulu, "Dulu kalian sering menendang wajahku, memukulku dengan tongkat besi, kayu, dan lainnya, bahkan kalian memberiku makanan sisa. Kali ini aku akan membalasnya berkali-kali lipat, bahkan aku akan membuat mu hidup dalam rasa sakit," batin Valia yang terus berjalan kedepan sambil mengepalkan kedua tangannya.
Sedangkan Carmila yang ada di belakang bisa melihat tangan Valia yang tengah terkepal dengan kuat bahkan kuku cantik itu terlihat hampir menembus kulit tangannya.
Carmila tidak tinggal diam, ia pun melangkah cepat dan memegang tangan Valia, dan berdiri di hadapannya.
Valia tersentak kaget dan mendadak menghentikan langkahnya.
Carmila tampak mengeryitkan dahinya, "Ada apa denganmu?, lihat ini, jika kau menggenggam nya dengan kuat maka tanganmu bisa terluka," ucap Carmila sambil menarik tangan Valia dan memperlihatkan telapak tangannya yang sudah memerah.
Valia pun menunduk dah melihat telapak tangannya memang sudah merah, ia pun kini melihat kearah Carmila, "Maafkan aku, tapi ini tidak sakit, jadi kau tidak perlu khawatir," ucap Valia sambil tersenyum manis.
Pria itu masih menunggu Valia di dalam mobilnya, ia melihat kedua wanita itu berhenti, "Nona, apa yang kau lakukan, sebaiknya kita segera pergi dari sini," ucap pria itu pad Valia.
Valia melihat kearah pria itu, "padahal aku yang membayarnya, tapi dia bersikap semena-mena padaku," celoteh Valia dengan kesal.
Carmila justru tertawa kecil melihat tingkah Valia yang menurutnya sangat imut, dan tiba-tiba saja, ia teringat dengan raut wajah Valia ketika berhadapan dengan keluarga Granov.
__ADS_1
"Kenapa dia terlihat sangat berbeda?, aku sungguh tidak mengerti ini," batin Carmila sambil termenung.
Valia menggenggam tangan Carmila dan mengajaknya memasuki mobil mereka, "kita harus cepat, kalau tidak pengacara jelek itu akan memarahiku," ucap Valia dengan kesal.
"Dan juga, dari cara mereka berinteraksi, terlihat sangat dekat satu sama lain," batin Carmila yang terus mengikuti Valia dari belakang.
Lalu mereka bergantian mengemudi, pria itu terkejut melihat Valia duduk di kursi pengemudi, "Sejak kapan nona bisa membawa mobil?," batin Pria itu dengan heran.
Valia membawa mobil itu dengan kecepatan sedang, dan di belakang mobil mereka terdapat mobil pria itu.
Valia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan mengarah ke kantor polisi.
Setelah mereka sampai, pria itu turun dari mobil dan langsung memasuki kantor polisi itu. Valia dan Carmila ikut turun dari mobil dan berjalan melangkah di belakang pria itu.
Ferry menoleh kearah pintu masuk, ia sedikit binggung dengan melihat pengacara yang sangat di segani kembali masuk ke kantor polisi.
Pria itu langsung menyerahkan Flashdisk yang di dapatnya dari rumah keluarga Amoriya, "aku ingin menuntut mereka," ucapnya dengan tegas.
Ferry mengambil flashdisk itu dan melihat seluruh rekaman yang ada, ia teringat dengan wajah orang-orang yang ada di dalam rekaman itu.
"Geril!" panggil Ferry sambil menoleh kesamping.
Geril yang saat itu sedang sibuk dengan kasusnya justru terkejut dengan panggilan Ferry. "Ada apa?" tanya Geril sambil beranjak dari tempat duduk dan berjalan mendekati Ferry.
"Lihat ini, bukankah mereka keluarga dari salah satu kasus yang tengah kau tangani?," tanya Ferry sambil menunjuk kearah Komputer yang telah menayangkan adegan di mana Karin menampar pipi Valia.
Carmila yang mendengar itu justru terkejut, "kasus?, kasus apa itu pak?," tanya Carmila dengan dahi yang sudah hampir menyatu.
__ADS_1
Kedua polisi itu saling memandang satu sama lain, "kami menemukan jasad adik pria ini di belakang rumah mereka, hanya itu saja yang bisa kami beritahu padamu, nona," ucap Ferry yang membatasi perkataannya.
Carmila sungguh sangat terkejut, sedangkan Valia dan pria itu tampak hanya berwajah datar, mereka berdua tidak mengeluarkan ekspresi apapun.
"Ternyata orang yang mengusut kasus itu adalah polisi yang berbeda, jika itu polisi yang sama, aku yakin bahwa kepalamu itu sebentar lagi akan meledak," batin Valia menatap kearah Ferry yang tengah menatap ke layar komputer.
Bagaimana tidak?, kasus yang mereka tangani saat ini adalah kasus pembunuhan berantai yang menghilangkan jejak mereka sendiri, jika semua kasus itu di pegang oleh 1 orang maka orang itu pasti akan gila.
Valia yakin bahwa orang-orang yang ada di kantor polisi sudah terlihat kelelahan mengurus kasus itu, karena bagaimanapun seluruh keluarga korban pasti akan meminta penjelasan pada mereka.
"Aku tidak punya waktu lagi, aku akan menyerahkan berkasnya pada kalian. Berikan Flashdisk itu padaku, jangan berpikir aku menyerahkannya begitu saja, aku tidak pernah mempercayai polisi lagi, jadi kalian hanya bisa menyalinnya ke komputer kalian," ucap pria itu dengan tegas.
Ferry dan Geril mengeryitkan dahi mereka, keduanya sedikit merasa tersinggung dengan perkataan pria itu, tapi mereka berdua tidak bisa berbuat apapun, karena pria itu pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan dengan seorang polisi.
"Baik tuan," ucap Ferry sambil menyalin file itu dan memberikan flashdisk nya pada pria itu.
Pria itu mengambilnya dan mulai menatap kearah Valia, ia melihat kearah pipi Valia yang sudah membiru, "Nona, sekarang waktunya nona pergi kerumah sakit, pipi nona sudah semakin berubah warna," ucap pria itu mendekatkan wajahnya ke pipi Valia.
Valia tidak merasa risih, ia tau bahwa pria itu sangat khawatir dengan keadaannya, tapi Carmila, Geril dan Ferry melihat itu dengan pandangan berbeda.
"Apa nona ini adalah pacarnya?, jika benar, maka keluarga itu akan segera tamat" batin Geril dan Ferry.
Sedangkan Carmila begitu sangat terkejut, "apa hubungan mereka?, keduanya tampak tidak sebagai pengacara dan klien," batin Carmila.
"Jika ini tidak sembuh dalam kurun waktu tiga hari, aku akan menuntut wanita tua itu untuk waktu yang lama," ucap Pria itu sambil menjauhkan wajahnya dan berbalik pergi meninggalkan semua orang yang tengah tercengang.
Bersambung ...
__ADS_1