
Valia yang mendengar itu pun berdecih, "Cih, Apa kau percaya dengan apa yang aku katakan?," tanya Valia dengan tersenyum smirk.
Elena tidak menjawab, otaknya ingin menyangkal untuk percaya tapi ketika melihat tatapan wanita di depannya membuat Elena ingin mengetahui Kisha masa depan wanita itu.
Melihat kebungkaman Elena, Valia tampak terdiam dan ia menghela nafas dengan kasar, "kau ingin mengetahuinya, baiklah aku akan menceritakan sepenggal cerita menyedihkan yang aku jalani di masa depan," ucap Valia sambil mendongakkan wajahnya keatas lalu memejamkan matanya sebentar.
#Flashback On
Saat itu Elena datang ke rumah mereka, Silyena yang masih berumur 5 tahun menyambut kedatangannya, lalu Silyena langsung memeluk kaki Elena.
Sedangkan Elena menatap Silyena dengan tatapan tajam, tanpa di duga Elena langsung menghempas kan Silyena sehingga membuat anak kecil itu tersungkur ke lantai.
Carmila yang kebetulan sedang membersihkan meja melihat perlakuan Elena pada Silyena, "Elena, apa yang kau lakukan?," ucap Carmila sambil berlari membantu Silyena dan memeluk tubuh kecil itu.
Silyena yang berada di pelukan sang ibu merasakan sakit di tangannya, ia pun menangis sesenggukan di pelukan Carmila.
"Haha ... apa urusannya dengan ku?, lagipula aku tidak suka anak kecil, jadi jangan memeluk tubuh ku tanpa izinku," ucap Elena dengan meninggalkan sepasang ibu dan anak itu.
Hari demi hari perlakuan Elena semakin tidak manusiawi, ia memukul tubuh Silyena dan Carmila, lalu ia menyalakan api dan menakut-nakuti Silyena.
Carmila terus berusaha melindungi anaknya, bahkan ia rela di pukuli oleh Elena.
Silyena yang masih kecil tentu saja merasa sangat takut, bahkan rasa takut itu terbawa sampai dirinya dewasa.
Granov hanya melihat adiknya menjahili Silyena, ia bahkan terlihat santai dan tidak pernah memarahi adiknya itu.
Sedangkan Carmila terus berusaha melindungi Silyena dari gangguan Elena dan yang lainnya.
Ketika Silyena dewasa, Elena kembali datang kerumahnya, Elena tersenyum karena melihat Silyena menjadi semakin penakut.
"Untuk apa kau datang kemari?," ucap Carmila dengan menatap Elena dengan tajam.
"Bukan urusan mu, lagi pula ini adalah rumah ini milik kakak ku," ucap Elena sambil mendorong tubuh Carmila dengan sangat kuat.
Carmila yang selalu mendapat perlakuan kasar itu mencoba untuk bersabar, sampai dimana Carmila tidak menyajikan makanan apapun membuat Elena marah besar.
__ADS_1
"Kau tidak menyajikan makanan padaku?, sepertinya semakin hari kau semakin berani padaku!" teriak Elena dengan marah.
Elena langsung menarik rambut Cemilan dan membakar rambut itu dengan menyalakan api kompor.
Arrgghh
Silyena yang melihat ibunya di siksa hanya bisa diam menyaksikan sang ibu di siksa oleh Elana. Lalu karena Silyena sudah tidak kuat lagi melihat sang ibu merasa kesakitan, ia pun memilih ingin membantu ibunya.
Tapi Elana mengancamnya dengan menggunakan nama sang ayah.
#Flashback Off
"Bagaimana?, apa menurutmu ceritaku menarik?," tanya Valia sambil membuka matanya dan tanpa di sadarinya, cairan bening itu mengalir di pipi Silyena.
"Bahkan saat pertama kali bertemu dengan ibu, kau tidak pernah berlaku selayaknya anak sekolahan, kau terus mencercanya dengan perkataan-perkataan kotor." tanya Valia sambil menghapus cairan bening itu dari pipinya.
Elena tercengang mendengar perkataan wanita yang ada di depannya itu, ia bahkan tidak menyangka bahwa dirinya begitu kejam ketika di masa depan, tapi hal itu belum pernah terjadi pada Elena, jadi ia mencoba tidak mempercayai perkataan wanita itu.
"A-aku tidak mungkin seperti itu," bantah Elena dengan keras.
Tiba-tiba saja, terlintas di kepala Elena seorang wanita yang baru saja di perkenalkan oleh kakaknya, sedangkan di sana ia langsung tidak menyukai wanita itu dan terus mengumpatnya.
"Carmila?," tebak Elena.
"Karena kau sudah tau seperti apa masa depan itu, maka aku akan dengan senang hati mencabut nyawamu di tahun ini, agar di masa depan ibu ku tidak pernah masuk kedalam keluarga Amoriya," ucap Valia sambil mengeram marah.
Elena melototkan matanya, ia bahkan masih tidak percaya bahwa orang dari masa depan bisa berpindah ke masa lalu.
"Tidak mungkin, kau pasti bukan dari masa depan," teriak elena sambil menggelengkan kepalanya.
"Katakan saja sesukamu, karena aku akan membalas dendam ini seperti yang pernah kau lakukan pada ibuku dan aku. agar kau tau, seberapa menyakitkannya penyiksaan yang pernah kau berikan," ucap Valia sambil mencari sebuah benda.
Valia menadapat sebuah benda yang sangat inginkannya, ia pun langsung menghidupkan pemantik api itu dan mendekatkannya ke wajah Elena.
Elena yang melihat itu melototkan matanya, "Jangan lakukan itu, tolong jangan lakukan itu," ucap Elena sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Jangan?, apa kau gila, dulu ibu ku juga mengatakan hal yang sama, tapi kau dan kakak mu itu tidak pernah melepaskan kami, bahkan kedua orang tuamu yang serakah juga ikut melakukan hal yang sama, dan disaat aku sudah bisa membalasnya perbuatan kalian, kalian memerintahkan ku untuk tidak melakukannya? ... " Valia menghentikan perkataannya, lalu ia mulai menatap Elena dengan datar dan melanjutkan perkataannya tapi dengan ekspresi yang sangat mengerikan.
"Jangan konyol, aku kembali ke masa ini karena memang untuk membunuh kalian semua." ucap Valia dengan dasar lalu mulai membakar rambut Elena.
Arrgghh
Elena berteriak karena rambutnya mulai terbakar, Elana berusaha melepaskan tangannya, tapi ikatan itu begitu sangat kuat.
"Padamkan api nya!" teriak Elena sambil menangis.
Tapi Valia tampak tidak memperdulikan teriakan itu, ia justru hanya menatap dingin ke arah Elena.
Elena melihat Valia tengah menatapnya dengan Dar, "Aku tidak akan melakukan hal seperti itu, aku berjanji," teriak Elena yang berusaha meyakinkan Valia.
Tapi Valia tidak bergeming, ia tetap membiarkan rambut Elena di lahap oleh api.
Elena terus saja menangis, ia benar-benar tidak bisa melakukan apapun selain memohon pada Valia.
"Panas,"
"Panas,"
Teriak Elena sambil terus menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Api itu tidak juga padam, Elena bisa merasakan bahwa kepalanya terasa sangat panas, sedangkan Valia terus menonton pertunjukan menarik yang ada di depannya itu.
Lalu Valia mengambil air dan menyiramkannya pada Elena.
"Arrgghh, sakit," teriak Elena yang merasakan sakit di kepalanya.
Luka bakar yang di alami Elena tidak terlalu parah, tapi luka itu bisa membuat seseorang sangat kesakitan, apalagi tempat dari luka bakar itu adalah di bagian kepala, dan jika luka itu disiram oleh air, maka rasa nya akan lebih sangat menyakitkan bahkan bisa merasakan sakit yang beribu-ribu kali lipat.
"Sekarang kau tau seperti apa rasa sakitnya?," tanya Valia yang terlihat sangat marah.
Ketika Valia melihat Elena, ia seperti melihat ibunya yang pernah di perlakukan seperti itu, dan hal itu membuat Valia sangat merasa bersalah pada ibunya.
__ADS_1
Bersambung ...