Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Rahasia Yang Diketahui


__ADS_3

Valia sudah bisa menebak bahwa pria itu sudah mengetahui segalanya, tapi ia cukup terkejut pria itu berada di depan pintu gudang.


Wajah Valia tampak datar, ia tidak menunjukkan ekspresi apapun, "Sejak kau membantuku, aku sudah berpikir bahwa kau telah mengetahuinya," ucap Valia dengan santai.


Orang itu tersenyum dan tersenyum pada Valia, "ternyata kau sangat pintar" ucapnya sambil berjalan menghampiri Valia.


Ketika orang itu tepat berada di depan Valia, ia pun memajukan wajahnya dan berkata, "apa sekarang kau takut?," tanya orang itu dengan terus menarik kedua sudut bibirnya.


Valia yang mendengar itu mengernyitkan dahinya, "Sepertinya kau telah salah menilai ku, apa kau ingin mencobanya?" tanya Valia dengan mengubah ekspresinya menjadi tersenyum.


Orang itu tampak sedikit terkejut, ia tidak pernah berpikir bahwa Valia menanggapi perkataannya dengan sangat santai dan tidak menunjukkan rasa takut, bahkan sekarang Valia justru mengajukan pertanyaan yang membuatnya terkejut.


"Apa maksud mu, Valia?." tanya orang itu dengan mengernyitkan dahinya.


"Haha ... kau seorang dosen pak, bagaimana mungkin kau tidak mengetahui maksud dari perkataanku, pak?" tanya Valia sambil tersenyum smirk.


Seketika saja pria itu berdiri seperti patung, ia mulai mengerti perkataan Valia, dan dirinya bahkan tidak bisa berkata apapun di depan Valia, "sungguh wanita yang menakutkan," batinnya.


Pria itu pun langsung menetralkan wajahnya, "Aku tidak berniat untuk ikut campur dalam urusan mu, tapi saat itu aku benar-benar tidak sengaja melihatmu berada di ruangan ibu Gleni," balas pria itu sambil menghela napas pelan.


Valia yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya, "baiklah, aku percaya padamu pak, tapi jika kau membocorkan hal ini, maka kau tidak akan pernah bisa lolos dariku," ucap Valia sambil menatap pria itu dengan tajam.


Pria itu sedikit merasa takut mendengar perkataan Valia, ia pun langsung bergegas pergi meninggalkan Valia, sesekali ia melihat ke belakang, "Beruntung dia percaya padaku," batin pria itu.

__ADS_1


Sedangkan Valia terus menatap kepergian pria itu, "Tidak heran saat di kantor dekan, pak Devid membantu ku, aku pasti akan selalu mengingatmu!" batin Valia.


Valia melihat kearah gudang, ia melihat bercak darah di handle pintu dan menghela nafas pelan, "Aku sungguh malas membersihkannya, tapi aku juga tidak ingin merepotkan paman dengan membersihkan hal-hal kecil seperti ini," gumam Valia.


Ia melihat rumput liar di belakangnya, Valia berjalan lalu mencabut rumput itu dan ia pun langsung menggosokkan nya pada handle pintu itu dengan sangat kuat sehingga bercak darah itu hilang dan tak terlihat lagi.


Setelah selesai Valia membuang rumput itu ke tempat sampah, lalu ia pun meninggalkan gudang itu begitu saja.


Di sudut ruangan itu, ternyata terdapat sosok yang terus menatap Valia, ia berwajah tak berekspresi, tatapannya itu sangat sulit di artikan, ia menatap punggung Valia sampai punggung itu tak terlihat lagi, dan sosok itu pun tiba-tiba menghilang dalam sekejap mata.


Dalam langkahnya, Valia teringat dengan Carmila dan Nero, "Ah, aku harus mencari keberadaan mereka," gumam Valia sambil berlari menoleh ke kiri dan ke kanan.


Setelah cukup lama berlari, Valia melihat Carmila tengah duduk diatas rumput yang di beri alas.


Setelah itu Valia pun berlari menghampiri Carmila, "Hai, apa aku pergi terlalu lama?" tanya Valia sambil tertawa kecil.


Setelah melihat dengan cermat, Carmila mengingat bahwa Valia memakai pakaian yang berbeda, "kenapa kau mengganti pakaianmu?," tanya Carmila dengan mengernyitkan dahinya.


Valia menunduk dan melihat dirinya sendiri, "Ah, pakaian yang aku gunakan sudah sangat kotor, jadi aku langsung segera menggantinya," elak Valia.


"Sepertinya aku melupakan sesuatu," batin Valia.


Tapi Valia sendiri tidak tau apa yang telah di lupakannya, sedangkan Carmila hanya bisa menatap Valia dengan tatapan aneh.

__ADS_1


Suasana tampak hening, lalu tiba-tiba saja Nero muncul dengan membawa beberapa paper bag di tangannya.


"Aku sudah membeli beberapa makanan untuk kita, jadi sebaiknya kita harus memakannya, karena jika sudah dingin maka makanan ini tidak akan enak lagi," ucap Nero yang terlihat fokus menaruh paper bag nya di hadapan Carmila dan Valia.


Setelah selesai mengeluarkan makanan, mata yang tadinya mengarah pada makna kini melihat kearah Valia, dan tatapan yang di tunjukkan oleh Neo sama seperti Carmila.


"Kenapa kau mengganti pakaianmu,?" tanya Nero heran.


Valia menghela nafas pelan, ia tidak ingin keduanya tampak mencurigainya, "Aku malas mengatakannya dua kali, sekarang aku sangat lapar, dan aku harus mengisi perutku agar cacing di dalam perutku ini tidak bersuara lagi," elak Valia sambil mengambil makanannya dan menghiraukan kedua orang itu.


Nero dan Carmila saling memandang satu sama lain, lalu Nero pun mengangkat kedua pundaknya, "Baiklah, lupakan saja," ucap Nero yang juga ikut mengambil makanannya.


Carmila ikut menganggukkan kepalanya, dan ia pun juga mengikuti kedua temannya itu.


Di tempat ruang ganti wanita, seorang dengan jenis kelamin yang sama tengah memandangi pakaian yang di penuhi dengan noda merah.


Karena rasa penasarannya, ia pun memegang pakaian itu lalu merasakan melalui jemarinya, wanita itu juga mendekatkan jemarinya dan menghirup aroma noda merah tersebut.


Setelah menghirupnya, ia pun membulatkan kedua bola matanya, "ini aroma darah!" ucap nya.


Ia pun langsung menutup loker itu dan mencoba melihat nama yang tertempel di depan pintu.


Tapi ia tidak menemukan nama pemilik loker itu, anehnya, ketika melihat ke sekelilingnya, ia melihat bahwa setiap pintu loker memiliki nama pemiliknya, tapi kenapa hanya pemilik pakaian itu saja yang tidak memiliki tanda nama?.

__ADS_1


"Ini benar-benar aneh, tapi aku memiliki sebuah firasat tentang ini. Sepertinya aku harus mencari tau tentang hal ini" gumam Wanita itu sambil berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan ganti.


Bersambung ...


__ADS_2